
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Menjelang magrib Bu Gendis serta kedua anaknya tiba.
“Jadi acaranya hari Minggu pagi?” tanya Bu Gendis selepas makan malam.
“Yang buat pengajian orang tua sekitar sini juga keluarga hari Sabtu malam. Itu kita buat prasmanan. Bukan hari Minggu. Yang buat santunan anak yatim kita adakan hari Minggu pagi. Jadi besok pagi mulai dipasang tenda. Kita masak tambahan buat yang tak makan daging kambing,” ucap Erlina. Mereka memang sedang mengawasi para tetangga yang datang REWANG atau membantu untuk acara besok malam.
“Oh pengajiannya hari Sabtu malam.”
“Iya hari Sabtu malam aja bukan hari Minggu dan tidak ada undangan resmi kita undangan seperti biasa aja para bapak dan ibu pengajian sekitar sini.”
“Hari Minggu itu anak yatim kita kasih santunan, biar mereka enggak keganggu kalau malam-malam bercampur dengan para orang tua,” jelas Erlina selanjutnya.
Herry bisa bersyukur dia tidak masuk ke panti asuhan seperti beberapa teman yang sudah dia kenal. Karena seringnya teman-teman Panti Asuhan datang akhirnya Herry dan Timah punya beberapa kenalan.
“Ibu dengar, ibunya perempuan orang Bogor itu datang?” tanya Gendis pada Fitri saat mereka sedang memperhatikan Daffa malam itu.
“Iya Bu. Dia mau minta maaf dan dia datang bersama sepupunya yang rupanya kakek dari bayi yang dikandung perempuan tersebut.”
__ADS_1
“Bukan ayahnya si bayi itu ya? Tapi kakeknya?” Gendis menegaskan apa yang dia dengar agar tak salah pengertian.
“Iya kakeknya Bu. Ayah si bayi sekarang lumpuh tak bisa bangun dari tempat tidur. Sekarang dia hanya bisa tidur tanpa bisa bangun jadi semua dirawat di siapkan oleh Yani.”
“Yang aku dengar tadi Yani juga harus kerja cari makan untuk mereka berempat.”
“Kok berempat?”
“Dia kan ada anak toh Bu, ada anak dan ada ibunya juga bapak si bayi. Ya berempat lah.”
“Ibunya bukannya dulu kerja buruh cuci?”
“Lalu bayinya sama siapa kalau mereka berdua kerja?”
“Maaf kami enggak tanya soal itu dan mas Yanto juga malas membahasnya.”
“Yang hebatnya lagi mas Yanto minta uang Rumah Sakit dikembalikan Bu. Hampir 2 M kan itu. Mas Yanto minta dikembalikan kalau mau permintaan maaf mereka dikabulkan oleh Mas Yanto.”
“Astaghfirullahaladzim kenapa seperti itu Nduk?” Gendis tak percaya anaknya berbuat sedemikian keji pada sesama.
__ADS_1
“Itu hanya gertakan mas Yanto Bu. Mas Yanto enggak minta uang kok. Dia tidak mau memaafkan, tapi akan dimaafkan bila mereka bisa bayar. Nah kalau mereka bayar uangnya kan diberikan kepada Panti Asuhan dan panti jompo enggak akan diambil satu rupiah pun oleh Mas Yanto.”
“Jadi tujuannya bukan uangnya Bu, tapi biar mereka sadar diri bahwa maaf itu tidak mudah mereka dapatkan.”
Alhamdulillah acara selesai dengan lancar. Baik acara hari Sabtu malam yaitu pengajian para orang tua maupun acara santunan untuk anak yatim yang diadakan hari Minggu. semua berjalan lancar. Minggu sore Gendis bersiap pulang karena hari Senin anak-anak sekolah.
“Aku enggak bisa antar ya Bu, ini pas Daffa mau minum ASI,” kata Fitri sambil mencium punggung tangan mertuanya. Maksudnya dia tidak bisa antar ke depan seperti biasa.
“Iya Nduk enggak apa apa santai wae semoga Daffa dan kamu selalu sehat ya,” kata Gendis sambil mengusap pipi cucunya dengan penuh kasih.
“Iya Ibu juga jaga kesehatan ya, nanti kalau Daffa sudah agak besar aku akan ajak dia nginep di rumah,” Fitri tahu udara pedesaan masih sangat sejuk dan bersih. Sangat baik buat Daffa.
“Iya Ibu tunggu paling tidak setelah 40 hari baru kamu boleh keluar rumah. Kalau belum, jangan keluar rumah ya tidak baik buat kamu dan bayi.”
“Iya Bu paling aku keluar adalah besok 2 minggu dari sekarang, kami harus ke rumah sakit buat kontrol Daffa.”
“Kecuali untuk kontrol rumah sakit bolehkah keluar rumah, tapi kalau untuk jalan-jalan atau hal lain jangan dulu,” walau Gendis tahu menantunya bukan perempuan yang hobby shopping, tapi ada baiknya dia ingatkan hal itu.
“Iya aku ngerti Bu. Kami keluar hanya untuk kontrol. Baik kontrol aku maupun kontrolnya Daffa,” jawab Fitri. Dia tak marah diingatkan seperti itu. Malah suka karena ibu mertua menyayangi dirinya.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.
__ADS_1