BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
DISKUSI SAMBIL NGEBAKSO


__ADS_3

“Aku masih blank Mbak, karena memang belum mengerti apa yang Mbak sukai dan Mbak kuasai,” kata Timah pada Tria. Saat ini keduanya sedang janjian ngebakso sehabis pulang sekolah.


Memang tadi Tria langsung menuju sekolah Timah. Mereka ingin ngebakso berdua. Nanti pulangnya Tria akan mengantarkan Timah sampai ujung desa. tinggal ke dalamnya Timah naik ojek online atau ojek pangkalan dekat ujung desa tersebut. Dia sudah izin pada Herry juga pada Yanto bahwa tidak akan pulang bareng mereka.


“Kamu dulu punya keinginan buat ternak kambing kenapa?” tany Tria.


“Aku suka saja sih Mbak. Ngebayangin cari rumput sendiri, lalu aku juga ngebayangin peluang dari jual kambing saat idul Adha. Waktu itu belum kepikiran bahwa anak kambing juga bisa buat dijual, juga belum kepikiran tentang kambing yang dijual buat aqiqah. Jadi waktu itu aku cuma berpikir bahwa kambing laku dijual pada saat idul Adha saja,” kata Timah jujur. Pemikiran anak SD kelas 5 memang hanya sampai taraf itu.


“Mungkin kalau Mbak suka kucing atau kelinci atau apa, itu bisa buat pemikiran Mbak pelihara dan dijual anakannya. Tetapi tentu Mbak harus merawat dengan benar-benar. Terlebih kucing dan kelinci itu bau pesing juga kotorannya berantakan ke mana-mana. Kalau keluarga tidak mendukung itu pasti akan bikin ribut. Kalau di keluarga aku kan semua mendukung dan lokasinya memang dibuat sedemikian rupa, jauh dari rumah sehingga nggak mengganggu seisi rumah. Juga nggak mengganggu tetangga.” kata Timah.


“Kalau Mbak suka melukis atau apa mungkin bisa lari ke batik atau sablon kaos.”


“Kalau Mbak punya keahlian bikin kue mungkin bisa terima pesanan dari teman-teman. Terima order satu atau dua saja tiap hari buat uang jajan kita awalnya.”


“Atau Mbak bikin kerajinan misalnya gelang atau apa, banyak kok Mbak idenya,” jelas Timah sambil menerima mangkok bakso pesanannya.


“Aku sudah gali semuanya. Tapi enggak ada yang pas dengan aku. Bagaimana dong?” keluh Tria bingung. Dia memang tak tahu apa yang akan dia geluti.

__ADS_1


“Ya lalu Mbak sukanya apa?” kata Timah sambil menambahkan saus sambal ke dalam kuah baksonya.


“Apa ya? Aku juga bingung Dek,” jawab Tria. Dia mengambil sendok saus ari tangan timah dan dia tuang juga saos pada mangkoknya. Tentu tak sebanyak Timah yang suka pedas.


“Dari semua yang kamu sebutkan tadi nggak ada yang nyangkut di aku. Aku nggak suka masak bahkan nggak bisa masak. Baru akan belajar pada kamu dan Mbak Fitri. Aku juga nggak bisa ngelukis atau ngebatik. Aku nggak bisa bikin kerajinan.”


“Kalau pelihara hewan mungkin aku bisa. Aku memang suka tapi seperti yang kamu bilang tadi pasti kendalanya adalah di keluargaku. Karena mereka pasti nggak ngedukung.” jawab Tria sambil mulai menyuap bakso kuah miliknya.


“Mungkin Mbak izin saja sama orang tua. Bilang kepengen piara jangan bilang mau bikin ternak,” saran Timah.


“Mungkin pelihara satu jantan 2 atau 3 betina. Nanti kan lama-lama bisa ada anakannya. Tapi tentunya sarana penunjangnya untuk penghilang bau itu yang harus di pikirkan. Aku yakin kok mereka juga akan kasih,” kata Tria. Dia mengelap mulutnya dengan tissue karena belepotan. Lalu kembali makan bakso miliknya.


“Awalnya beli sepasang dulu saja Mbak. Jangan langsung punya 3 betina. Nanti kalau sudah 1 bulan atau dua minggu baru tambah satu betina lagi, berikutnya tambah lagi. Jadi nggak ketahuan kalau ingin beternak.”


“Itu kalau memang keluarga tidak mendukung. Jadi harus pengenalan step by step. Kalau langsung ditunjang seperti aku dulu, aku memang langsung dikasih sama ayah satu jantan 2 betina sesuai dengan permintaanku. Malah ayah yang bikinkan kandang dengan kemiringan seperti yang punya aku. Jadi semua kotoran langsung tertampung di sebuah bak penampung.”


“Kotoran padat dengan cair berbeda tempat. Kotoran padatnya langsung aku keringkan untuk aku jual sebagai pupuk kandang, sedang urinenya aku pakai buat menyiram kebun. Itu sebabnya mengapa kebun aku dan kebun ayah sangat bagus, karena kami pakai urine kambing. Tak perlu lagi tambahan pupuk kandang.”

__ADS_1


“Wah kalau kucing tentu tidak bisa dijual ya kotorannya,” kata Tria.


“Kalau kucing kotorannya sama sekali tak bisa dijual Mbak. Tapi kalau kelinci bisa. Urine dan kotoran padatnya bisa dijual asal benar-benar ditampung. Banyak yang cari kok.”


“Kalau begitu aku akan fokus pada kelinci saja. Tentu jenis kelinci yang tidak umum sehingga harganya bagus. Kalau kelinci biasa tentu hanya buat pedaging dan banyak kompetitornya,” kata Tria.


“Nah itu Mbak sudah punya bayangan,” kata Timah senang. Setidaknya mereka tak stag karena sudah ada gambaran apa yang akan digeluti Tria nantinya.


“Matangin lagi tentang kemungkinan beternak kelinci ya Dek. Nanti kita ketemu lagi di pembahasan berikut,” kata Tria dengan bersemangat.


“Mbak jadi kan ke rumah hari Sabtu atau hari Minggu buat masak dengan Mbak Fitri?” tanya Timah.


“Hari Sabtu pagi aku ke rumah Dek. Jangan hari Minggu. Apa yang harus aku bawa dan bahannya apa saja?”


“Nggak ada yang perlu dibawa Mbak. Semua bahan ada kalau Mbak mau datang hari Sabtu, hari Jumat aku akan minta kepada mas Herry buat nyuruh pegawainya ambilin belut dan patin buat kita olah. Hari Sabtu pagi bumbu semua lengkap. Sayuran semua lengkap di kebun. Jadi kita tinggal masak saja,” kata Timah bersemangat.


“Oke hari Sabtu aku akan ke rumahmu seharian. Paginya aku masak sehabis makan siang kita akan bahas tentang peternakan aku. Maksudnya rencana peternakan sih.” kata Tria sangat senang.

__ADS_1


“Oke Mbak, aku tunggu,” kata Timah. Mereka pun melanjutkan acara makan baksonya hingga tuntas.


__ADS_2