
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Sepertinya misi kita berhasil,” bisik Erlina pada Gendis.
“Semoga saja,” jawab Gendis.
“Ayah juga ikut melancarkan misi kepada para bapak,” kata Suradi. Saat ini semua tamu sudah pulang. Timah, Herry serta semua pembantu di rumah Suradi yang di kota mulai membereskan barang-barang bekas makan siang. Untungnya tidak banyak cucian piring karena makannya menggunakan daun.
“Jangan lupa semua sisa makanan jangan dibuang. Bungkus aja dengan daunnya dalam plastik nanti aku bawa ke kandang biar aku berikan pada itik,” pesan Herry.
“Termasuk daun pisangnya Mas?” tanya Mbok Darmi.
“Iya Mbok, sekalian daun pisangnya. Biar dimakan sama meri, jangan ada yang dibuang,” kata Herry.
“Ya Mas Herry,” jawab Mbok Darmi.
“Kalau ini gimana Mas Herry?” kata mbok Parmi soal kulit buah.
“Kalau kulit buah kumpulkan saja, nanti aku yang urus. Kulit buah nanti bisa untuk pupuk atau makanan kambingku,” kata Timah.
Semua berguna, tak ada yang dibuang.
__ADS_1
“Misi apa sih Yah, Bu?” tanya Fitri.
“Misi untuk berkenalan dengan para tetangga disini, bahwa kami itu tidak sombong dan sama saja dengan mereka semua,” kata Suradi. Dia tak ingin Fitri dan Yanto mengetahui misi mereka.
Erlina dan Gendis hanya tersenyum.
Misi mereka adalah mengatakan bahwa Yanto itu bukan pemegang keuangan, karena mereka sudah tahu ada beberapa ibu yang sengaja menyodorkan anaknya sebagai istri kedua Yanto.
Tentu Erlina dan Gendis tak mau itu terjadi. Mereka tak ingin Yanto punya istri kedua. Begitu pun Suradi, pasti istri kedua hanya ingin hartanya Yanto. Bisa-bisa nanti semua akan diambil alih dengan cara licik dari Fitri. Itu yang Suradi tidak mau karena selama ini semua hartanya hanya untuk anak yang cucunya saja.
Bahkan di bengkel kemarin ada lagi perempuan yang minta pekerjaan. Perempuan itu bersedia dibayar dengan upah di bawah standar yang penting bisa bekerja di bengkel. Saat ditawarkan menjadi pekerja di rumahnya Pak Suradi perempuan tersebut tidak mau dia maunya di bengkel. Jelas tujuannya adalah mendekati Yanto bukan bekerja.
Bahkan Erlina dan Gendisku tak mau pengasuh cucu-cucunya di bawah umur atau yang sepantaran. Mereka cari pengasuh yang sudah cukup umur. Semua untuk mencegah perpecahan keluarga. Bukan tak percaya Yanto tetapi banyak cara yang dilakukan oleh perempuan-perempuan tidak benar. Mereka bisa menggunakan akal licik yang wajar maupun sampai yang tidak wajar.
“Ini indukan yang mana?” tanya Suradi.
“Yang anak kelahiran pertamanya sudah mau umur 2 tahun. Jadi sudah bisa untuk kurban. Kemarin dia beranak hanya 1 jantang Yah.”
“Terus 2 anak kambingku dibeli oleh tukang sate Yah. Satu langsung diambil, satunya diambil minggu depan.”lapor Timah bangga.
“Kenapa enggak dia bawa sekalian?” tanya Suradi.
__ADS_1
“Dia bilang nanti di tempatnya enggak ada yang kasih makan.”
“Untuk itu kamu harus hitung biaya kasih makan satu hari dan biaya perawatan per hari. Semakin lama semakin besar dia harus bayar. Kalau dia bilang minggu depan diambil ternyata tahun depan baru diambil kamu akan rugi,” saran Suradi.
“Oh itu sudah pasti Yah. Aku enggak mau dibodoh-bodohin sama orang pintar,” kata Timah. Tiap hari aku bebani ongkos makan dan ongkos perawatan,” kata Timah lagi.
“Aku juga enggak se polos itu untuk berbisnis.”
“Masya Allah, anak Ayah hebat banget sudah mengerti soal seperti itu,” Suradi tak menduga gadis kecilnya punya pemikiran maju.
“Mereka pikir anak kecil bisa dibohongin Yah, tapi aku enggak mau seperti itu. Aku tidak polos kalau buat bisnis. Aku sudah tahu cara mereka membohongin orang-orang. Bahkan bukan anak kecil seperti aku karena jarang ada pebisnis kecil seperti aku.”
“Di kampung sebelah ada yang seperti itu Yah, dibayar sekarang katanya mau diambil minggu depan. Ternyata 6 bulan kemudian baru diambil. Mereka berpegang pada kuitansi saja. Kalau sama aku di kuitansi ditulis biaya perawatan per hari berapa biaya makan per hari berapa, lalu di buku pembukuan aku mereka harus tanda tangan bahwa mereka telah setuju takutnya mereka menghilangkan kuitansi tersebut walau aku punya copynya. Kalau copy kan kurang kuat hukumnya. Jadi aku buat catatan di buku aku, bahwa mereka bersedia membayar biaya perawatan dan biaya makan kambing yang mereka titip itu per hari hitungnya,” kata Timah lagi.
“Tentu saja Fitri dan Yanto yang mendengarkan itu sambil mengawasi Daffa tak percaya bahwa adik mereka sudah sangat pintar.
“Kalah aku yang sarjana ekonomi,” bisik Fitri pada Yanto. Yanto hanya tersenyum sambil mengecup sekilas pipi istrinya.
“Insinyur itu belum tentu lebih pintar dari petani atau peternak Yank,” kata Yanto.
“Mereka lebih pintar di teori pasti, tapi kalau untuk praktik belum tentu. Praktik bisa lebih pintar petani atau peternaknya karena mereka mengalami hal itu secara nyata sehari-hari langsung terjun ke lapangan. Itu yang sekarang Timah alami. Dia lebih pintar dari kamu yang sarjana ekonomi karena kamu hanya di teori tapi dipraktek kamu hanya di pembukuan bengkel. Tentu cakupannya tidak sama,” kata Yanto.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.
__ADS_1