
Kamu ke sini dengan siapa?” Tanya Suradi kepada Satrio.
“Sama Mbak Tria lah Pak,” kata Satrio.
“Yo jangan diumpetin pacare kemaren,” goda Suradi.
“Pacar yang mana toh Pak?” kata Satrio tak mengerti.
“Oalah, itu tetangga Pak. Bukan pacar.” jawab Satrio cepat.
“Pacar yo nggak popo tho?” kata Yanto.
“Yang penting membuat kita semakin jadi semangat belajar, bukan jadi malah malas,” lanjut Yanto lagi. Anak sekarang sudah jamannya SMA mulai dekat dengan lawan jenis. Yang penting orang tua mengawasi agar tak salah langkah.
“Enggak lah Mas. Bukan tipe aku. Perempuan tersebut borju. Maunya hidup high class. Nggak pantes sama gaya hidupku yang ndeso nantinya. Aku nggak bisa hidup sama perempuan yang seperti itu, sedang aku ingin jadi penyuluh lingkungan hidup. Nanti diajak makan di warung pinggir jalan pasti nggak mau. Dia maunya makannya yang high class. maunya pizza. Boro-boro dia mau pisang goreng apa pisang rebus dari petani. Nggak, aku nggak mau makan hati seperti itu,” kata Satrio.
Dia sudah mempelajari gaya hidupnya Fitri. Walaupun anak tunggal dari juragan kost. Bapaknya tetap mau kerja tidak mau ongkang-ongkang kaki dan Fitri pun seperti itu walaupun punya penghasilan tanpa harus bekerja dia tetap tidak mau diam, dulu dia tetap bekerja. Mas Yanto pun begitu tetap saja bekerja.
Seharusnya sekarang kalau mereka mau, mereka juga enggak perlu bekerja karena penghasilan dari rumah kostnya Mbak Fitri itu lebih dari cukup.
Seperti yang Gendis katakan, maka Herry pulang saat akan makan siang. Dia kaget ada Satrio dan Tria di rumahnya. Bahkan lebih kaget lagi kalau ternyata Tria pamer kepandaiannya memasak rica-rica.
“Ayo makan Yah, Bu ini sudah siap loh,” ajak Timah.
__ADS_1
“Oke siapa takut?” kata Suradi.
“Tapi Ayah hati-hati loh ini banyak cabe rawit glundungnya ( utuh ) dan juga sudah pedas.” kata Tria.
“Nah Ayah seharusnya jangan tuh. Ayah cuma cicipin sedikit saja,” kata Fitri karena dia tahu ayahnya sekarang tak boleh terlalu banyak makan pedas sebab perutnya tak kuat lagi.
“Aku tadi bikin sayur bening kok buat Ayah. Sayur bening kelor dan gambas,” kata Fitri.
“Terus ada semur ayam. Memang aku bikin buat Ayah sama anak-anak.” walau tadinya sayur bening dan semur untuk anak-anak. Tapi begitu melihat Suradi datang memang Fitri menambah porsi masak semurnya. Karena ibunya tak suka pedas dan ayahnya tak bisa pedas lagi.
“Ayah cicipin sedikit lah masakan Tria. msa sudah dimasakin, Ayah nggak cobain?” balas Suradi.
“Boleh Yah. Tapi sedikit ya, jangan banyak-banyak.”
“Iya, Ayah cobain sedikit kok.”
“Coba besok masak ayam woku woku, Mbak. Atau ayam masak nanas. Aku kemarin lihat resepnya loh,” kata Timah.
“Kamu itu Dek, cuma ngelihat doang resepnya. Bukan langsung bikin,” kata Satrio.
“Aku malas Mas. Kalau suruh masak, bisa cuma memang aku kayaknya nggak suka saja buat masak,” kata Timah. Memang dia malas kalau suruh untuk masak tapi untuk kerjaan lain dia pasti terjun. Walau bisa seperti waktu dia bikin topping untuk mie ayam. Tapi tidak suka bukan tidak bisa. Beda!
“Kalau begitu, aku yang minta sama kamu ya. Biar kamu bikinin aku,” kata Satrio.
__ADS_1
“Mas mau minta bikinin apa?” tanya Timah.
“Ya sudah ayam masak nanas saja. Kamu bikin dulu sampai lancar. Nanti pas pertemuan berikutnya kamu masakin buat aku,” jawab Satrio.
“Oke aku akan kerjakan. Besok aku mau beli nanas jadi saat aku mau praktekin, nanasnya sudah ready,” jawab Timah. Dia tak keberatan disuruh mencoba sesuatu.
Suradi dan Yanto hanya berpandangan mereka senang saja interaksi seperti ini. Saling menunjang dan mendukung karena Timah malas masak maka Satrio memancingnya agar memasak. Itu adalah dukungan yang sangat hebat. Itu tak terjadi dengan Herry. Herry tak merasa itu perlu.
“Wah asyik nih, satu minggu ini Mbak bakalan nyobain ayam masak nanas terus menerus sampai berhasil,” dukung Fitri. Memberi support pada Timah.
“Iya Mbak, nanti Mbak koreksi terus ya. Biar aku tahu kekurangan dan kelebihannya bagaimana,” kata Timah. Dia memang tak ragu untuk menghadapi tantangan dari Satrio.
“Oke siap.” kata Timah.
“Mumpung masih satu minggu liburan jadi kamu bisa tiap hari uji coba. Terus kita ketemu hari Minggu sebelum pelajaran semester pertama dimulai,” kata Satrio.
“Siap Mas. Berarti habis ini kita beli nanas ya. Enggak jadi besok. Anterin aku. Nanti aku beli nanas buat beberapa hari,” ucap Timah.
“Ya,” jawab Satrio. Mereka pun mulai makan.
“Wah ini sudah pas,” kata Yanto langsung, saat mencicipi hasil masakan Tria.
“Pedesnya gimana Mas?” tanya Tria.
__ADS_1
“Pedes tergantung orangnya, kalau yang suka pedas ini mungkin kurang. Tapi buat Mas ini pas. Lalu jahe dan kemanginya mantap banget. Super. Ini enak,” puji Yanto. Dia tak ragu memuji masakan Tria.
“Ini cukup lama loh Mas aku berhasil. Dua minggu. Karena aaku waktu itu masih sekolah pas ulangan umum pula, terus kedua karena aku kan sendirian nggak ada yang dukung. Jadi kadang aku cari-cari sampai pas. Bibi juga nggak ngerti. jadi aku benar-benar meraba sampai mblenger sendiri,” kata Tria. Apa ya arti bahasa Indonesia untuk kata mblenger?