BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BUKAN YANTO YANG FITRI KENAL


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Alhamdulillah,” ucap semua di rumah Suradi begitu Yanto dan Fitri tiba di rumah setelah 35 hari tinggal di rumah sakit.



Bu Gendis tidak menjemput di rumah sakit saat Yanto pulang dia baru akan datang nanti  setelah anak-anak pulang sekolah, karena besok anak-anak akan libur jadi bisa menginap di rumah ini.



“Ingat lo nTok, kamu enggak boleh capek, kamu enggak boleh banyak gerak, enggak usah gatel tangannya mau langsung kerja,” pesan Suradi begitu Yanto telah tiba di rumah. Menantunya itu tak betah diam. Selalu saja ingin membetulkan sesuatu.



Yanto hanya tersenyum diingatkan begitu oleh mertuanya.



“Dan satu minggu ini kamu tidak boleh bergerak sama sekali, hanya cuma bolak-balik kamar dan ruang tengah aja. Paling ke depan atau ke belakang kalau pas mau jemur badan,” kali ini Erlina yang mengingatkan.



“Injiiiiiih, Bu, Yah,” jawab Yanto.



Sementara Fitri langsung menuju ke dapur,  dia tadi siang sudah telepon ke rumah kepengen nangka matang dari pohon belakang yang sopirnya ceritakan kalau kemarin dia yang metik karena enggak ada Yanto yang biasa melakukan.



Fitri pesan minta dicarikan sukun mengkal untuk digoreng dan akan dia makan dengan sambal.



Tak ada yang sulit kalau keinginannya Fitri karena dia memang bukan ngidam yang seperti orang-orang.



“Pengen banget toh Mbak Fitri?” tanya si mbok.



“Aku bukan kepengen kayak yang orang-orang ngomong itu lho mbok. Kan katanya harus dapat sampai jungkir balik, nek aku nih nggak dapat yo wes,” kata Fitri santai. Dia tak ingin memberatkan.



“Tapi nek Mas Yanto beda ngidamnya Mbok. Dia kayak orang-orang itu. Nek sudah maunya itu ya itu harus dapat. Tadi beli gado-gado bumbunya kurang kental dia emoh, enggak mau.”

__ADS_1



“Dia suruh diulang beli lagi yang super kental, biar bayar dobel kalau bumbunya kental enggak apa-apa,” jelas Fitri mengenai drama gado-gado tadi pagi.



“Oalah mas Yanto ngidam toh?” tanya simbok.



“Iya Mbok, Mas Yanto itu ngidam sampai beda banget ama mas Yanto yang kita kenal. Biasa kan apa aja nerima. Tadi pagi nolak teh aja kasar banget. Apalagi pas minta belikan gado-gado ulang.”



“Lha iya, mas Yanto kan enggak pernah rewel?” kata simbok bingung.



“Sopirku wae bingung mas Yanto ngotot harus dapat gado-gado dengan bumbu dobel tadi. Sejak sadar, dia langsung ngidam. Langsung mual.  Padahal selama ini aku enggak sampai ngidam gitu. Enggak seperti orang-orang yang sampai kepengin harus dapat macam-macam.”



“Bayine  benar-benar anak bapak e,” kata simbok.



“Iya Mbok, aku nggak boleh jauh dari dia, kalau jauh aku langsung mual. Lalu dianya kayak gitu,” ucap Fitri disela mengunyah nangka matang yanag dia inginkan.




“Mbak Fitri dicari Mas Yanto,” kata seorang pembantu.



“Iya sebentar nanti aku cuci tangan dulu, takutnya dia enggak suka bau nangka ini,” kata Fitri sambil mengunyah sisa nangka didalam mulutnya.  Fitri langsung mencuci tangan dan mulut dengan sabun, lalu minum air putih agar tak ada bau nangka di badannya.



“Iya, Papa kenapa nyariin aku?” tanya Fitri mendekat pada suaminya yang sedang duduk di teras depan memandang orang yang lalu lalang.



“Lho Papa enggak manggil loh,”



Iya enggak apa apa Papa enggak manggil, tapi nyariin toh? Ada apa?” tanya Fitri dengan lembut.


__ADS_1


“Papa cuma takut Mama mual aja, jauh dari Papa,” kata Yanto.



“Aku barusan makan nangka, lagi kepengen nangka. Tapi enggak berani di sini takut Mas enggak suka bau nangka. Jadi aku ngumpet-ngumpet di belakang,” jawab Fitri jujur.



“Papa mau kok nangka mateng,”  Yanto ternyata enggak masalah dengan bau nangka masak.



“Iya Mas nangka di pohon belakang itu mateng dan kemarin Bibi cerita Jadi aku minta tadi. Mas serius mau?” tanya Fitri.



“Mas mau kok, enggak apa apa bau nangka,” kata Yanto.



Fitri pun memanggil seorang pembantunya dengan lambaian tangan, bukan dengan teriak.



“Bawain aja nangka matangnya ke sini sama air putih. Ingat ya selama dekat-dekat Mas Yanto enggak boleh ada air teh,” kata Fitri.



“Injih Mbak,” kata pembantunya itu.



“Kalau siang atau malam enggak apa-apa Ma bau air teh,” jawab Yanto.



“Papa enggak suka bau-bauan kalau pagi aja. Siang dan malam sih normal,” jelas Yanto.



Fitri pun mengerti kemauan yang suami perlihatkan memang bukan murni keinginan hatinya. Memang serba salah, bukan Yanto yang Fitri kenal. Sosok Yanto yang dia kenal enggak rewel.



“Ini mau?” kata Fitri,  dia sodorkan satu piring nangka dan air putih yang dibawakan oleh pembantu.



Yanto pun tak nolak buah tersebut, dia makan tanpa protes.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.

__ADS_1



__ADS_2