
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Ma … ma,” panggil Yanto pada istrinya yang sudah berbaring lebih dulu.
“Ma.”
“Ya Pa. Kenapa?” tanya Fitri, mereka baru saja akan tidur jadi dia memang belum tidur. Bahkan lampu kamar belum dipadamkan.
“Papa kepengin, boleh enggak?” tanya Yanto lirih.
“Maksudmu?” Fitri pura-pura tak mengerti apa yang Yanto maksudkan dengan kata KEPENGIN.
“Ya sudahlah,” jawab Yanto. Dia pun langsung balik badan dan berupaya memejamkan matanya.
“Kok marah Pa?” tanya yang Fitri lembut.
“Enggak kok, enggak marah,” jawab Yanto. Dia langsung berupaya untuk tidur.
Fitri mengetahui keinginan suaminya, lalu dia pun memeluk Yanto dari belakang. Fitri tahu kebutuhan biologis itu tak bisa ditunda, terlebih selama ini Yanto ternyata tak pernah menyentuh perempuan lain.
“Kalau kita bicara dulu boleh?” pinta Fitri sambil mengecupi leher suaminya.
“Enggak usah Ma, tidur aja,” tolak Yanto.
“Tapi kita harus bicara tuntas Pa,” rajuk Fitri. Akhirnya Yanto pun balik badan.
“Papa dengar baik-baik ya. Jangan Papa kira cuma Papa yang butuh. Mama sangat butuh, sangat butuh Pa. Inget ya bukan cuma Papa yang butuh,” kata Fitri sambil memandang wajah suaminya. Fitri memang duduk karena ingin bicara serius. Yanto tetap terbaring dia kecup wajah Yanto dengan lembut.
__ADS_1
“Sekarang bagaimana kita mau melakukannya? Mama mau berperan aktif, tapi kan bahaya buat Dede’ kalau Mama yang aktif. Guncangannya bahaya buat dedek bayi.”
“Kalau Papa aktif bahaya enggak buat kepala Papa?” tanya Fitri.
“Ini memang harus kita bahas tuntas Pa, enggak bisa kita hanya diam.”
“Ya sudah Ma, enggak usah aja,” jawab Yanto.
“Bukan enggak usah Pa, Mama kepengen,” kata Fitri.
“Kita harus cari solusi, kita harus cari cara yang aman agar kita bisa mendapatkan semua itu,” jelas Fitri. Yanto sekarang mengerti ternyata Fitri bukan menolaknya,
“Ya sudah kita bermain miring, jadi tidak ada yang di atas. Papa akan bermain lembut dan pelan sehingga dedek bayi tidak akan terganggu,” kata Yanto.
“Kepala Papa tidak akan terguncang-guncang sehingga akan aman,” ucap Yanto selanjutnya. Fitri tentu saja senang Yanto mau terbuka seperti itu. Kalau tidak di dipancing tentu Yanto akan tabu membicarakan hal tersebut.
“Terima kasih ya Ma,” Yanto mengecup kening istrinya.
“Mama sudah ngebolehin Papa bertemu dengan Dede.”
“Dedeknya perempuan apa laki Pa?” tanya Fitri dalam dekapan Yanto.
“Apa pun dia, yang penting sehat. tapi Papa sih berharap dia laki-laki,” jawab Yanto jujur.
“Sama Pa, Mama juga berharap dia laki-laki karena ingin ada yang melindungi adik-adiknya.”
“Semoga habis ini kita juga cepat dapat lagi ya Yank. Jadi cepet punya adik,” harap Yanto.
__ADS_1
“Iya. Insya Allah, yang penting ini dulu selamat dan sehat,” jawab Fitri.
“Mas, tadi ayah bilang mau bikin selamatan.”
“Selamatan apalagi?” tanya Yanto.
“Ya selamatan karena Mas sudah sembuh, karena aku juga sembuh,” kata Fitri. Memang waktu di rumah sakit kan juga banyak yang menjenguk. Para tetangga juga tahu Yanto dan Fitri di rawat. Tetangga tahu Yanto sampai koma jadi mereka tak akan aneh bila Fitri dan Yanto kembali tinggal di Solo.
“Ya terserahlah. Kapan katanya pelaksanaan selamatan tersebut?’”
“Entah, tadi ibu Gendis dan ibu Erlina sedang bicarakan kapannya. Karena tergantung waktu bu Gendis. Enggak mungkin Bu Gendis enggak ada saat selamatan.”
“Sedangkan waktu bu Gendis kan ngikutin sekolahnya adik-adik,” jawab Fitri.
“Mas manut aja lah. Kita kan belum bisa ikut bantu, nanti kalau Mas bantu juga pasti dimarahin,” kata Yanto.
“Enggak dimarahin Mas, cuma diingetin supaya Mas cepat sehat dan supaya kita bisa main normal enggak kayak tadi,” ulas Fitri.
“Memang kamu enggak senang ya? enggak puas ya?” tanya Yanto sedih. Dia merasa gagal karena tak bisa memuaskan istrinya.
“Bukan enggak puas sih, cuma kurang aja. Kan biasanya bisa dua kali. ini satu kali aja Mas sudah kehabisan napas,” ujar Fitri jujur. Yanto tertawa mendengar perkataan Fitri seperti itu.
“Iya emang, segitu aja sudah bagus bisa sampai \*\*\*\*\*\*\*. Namanya habis turun mesin. Jadi belum fit lagi,” jawab Yanto.
“Makanya obatnya diminum terus ya Mas. Dan kita harus berupaya sehat.”
“Ya Yank,” jawab Yanto.
“Sudah sekarang bobo dulu yuk,” akhirnya mereka pun tertidur setelah buka puasa.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.