
“Cobain deh Mas,” kata Fitri menyodorkan es krimnya. Yanto pun menjilat es krim yang disodorkan oleh istrinya.
“Kamu kenapa sih beli yang vanilla, biasanya enggak pernah beli seperti itu,” komplain Yanto.
“Lagi kepengin aja,” kata Fitri.
“Kalau rasa coklat seperti biasa tadi enak,” kata Yanto.
“Kan yang kotak besar tadi beli yang coklat, duren dan avocado,” kata Fitri.
“Ya sudah yuk,” kata Yanto sambil mengambilkan tissue di tas Fitri. Dia berikan pada Fitri. Lalu Yanto memasukkan barang-barang belanjaan ke mobil. Fitri menunggunya di sisi mobil.
Sesekali Fitri masih menyodorkan es krimnya ke mulut Yanto yang sedang memasukkan barang ke bagasi mobil.
Fitri juga mengelap mulut suaminya bila ada noda di pinggir bibir suaminya.
Semua dilihat oleh mata yang sejak mereka belanja tadi mengikuti kegiatan pasutri tersebut dengan pandangan acak aduk. Ada marah, iri dan dendam.
Tatapan itu berakhir ketika Yanto mulai menjalankan mobilnya keluar dari parkiran supermarket.
__ADS_1
Anak-anak dan orang tua telah tiba di rumah desa lebih dulu dari Fitri dan Yanto.
Mereka berangkat sejak jam 09.00 pagi tadi dari rumah kota. Dari rumah kota Erlina telah membawa makanan matang untuk sampai malam karena di rumah kota banyak pegawai Suradi yang menganggur bila tuannya tidak ada di rumah. Jadi Erlina memberdayakan mereka membuatkan masakan buat hari ini juga untuk beberapa hari ke depan yaitu makanan yang bisa disimpan di freezer seperti rendang, semur dan makanan lainnya untuk disimpan di rumah Erlina dan rumah Gendis di desa nanti.
Erlina tadi semalam sudah minta pembantunya untuk belanja banyak dan memasak sehingga dikemas dalam thin wall yang siap saji bila dibutuhkan.
Fitri turun lebih dahulu karena Yanto harus menurunkan barang-barang. Baik barang dari rumah sakit mau pun barang belanjaan mereka.
“Kok baru sampai?” tanya Erlina.
“Keluar dari rumah sakit kami beli botol buat tempat jus. Juga belanja ke supermarket Bu. Karena aku yakin stok buahnya abis. Nanti anak-anak dan Mas Yanto enggak bisa minum jus lagi.”
“Kirain kalian mampir ke mana lagi. Kalau masakan daging, Ibu sudah dari rumah kota. Semalam Ibu minta mbok bikinkan rendang, semur, daging masak parprika buat bawa matang kesini,” jelas Erlina.
“Enggak Bu, cuma kedua tempat itu tapi memang tadi kami keluar sudah jam 10.00 lewat kok. Kalau sudah banyak daging matang ya daging yang aku beli biar disimpan dulu. Yang penting ada stock,” jawab Fitri.
“Kalian sudah makan siang?” tanya Erlina.
“Belum lah, baru sarapan saja,” jawab Fitri.
__ADS_1
“Ya sudah nanti Ibu minta bu Yati untuk mengatur makan siang, karena kami sudah selesai makan siang,” kata Gendis menimpali pembicaraan Fitri dan Erlina.
“Sudah enggak apa-apa Bu. Biar aku yang atur sendiri,” kata Fitri.
“Kamu jangan banyak pegang apa pun dengan tangan retakmu itu, biar cepat sembuh,” kata Gendis.
“Kan bisa pakai tangan kanan, Bu.”
“Pokoknya dikurangi kegiatan tangan kirimu dan tidak usah gendong Daanish sama sekali,” larang Gendis.
“Iya Bu,” jawab Fitri. Dia tahu larangan dari mertuanya itu adalah untuk kebaikannya bukan karena mertuanya benci pada dirinya.
“Anak-anak di bengkel bilang botol yang kamu beli saat sebelum kecelakaan ada di bengkel mereka lupa lapor,” kata Yanto saat meletakkan belanjaan mereka di meja dapur. Waktu itu Fitri memang membeli 2 lusin botol.
Fitri sering membagikan jus pada beberapa orang sehingga tentu botolnya tak akan pernah kembali. Selain itu kadang Yanto maupun Herry dan Timah suka lupa membawa pulang kembali botol yang telah mereka habiskan isinya, sehingga stock botol di rumah memang sering habis.
Karena sering lupa bawa botol bekasnya pulang maka Fitri menggunakan botol kemasan air mineral tidak dengan Tupperware lagi. Karena kalau Tupperware hilang lumayan mahal daripada botol kemasan air mineral.
Memang setiap hari Timah, Herry maupun Yanto selalu membawa jus untuk bekal ke sekolah dan kerja. Itu sudah kewajiban yang Fitri tekankan sejak tinggal di rumah ini. Mereka tidak boleh tidak membawa jus.
__ADS_1
Kalau untuk bekal, Yanto selalu membawa nasi yang Fitri siapkan. Tapi kalau Timah dan Herry kadang membawa roti isi saja. Kadang mereka tak sempat kalau harus bawa nasi dan lauk. Mereka tidak malu, sama sekali tidak, tapi kadang waktu istirahat mereka sangat terbatas karena banyaknya kegiatan sehingga mereka lebih suka bawa roti beberapa tangkep.