
“Kalau kalian melakukan seperti itu, kalian masuk lubang yang sama. Tria dan Satrio terutama Satrio pasti akan berontak lebih kuat dan dia akan membuat omongan kalian terbukti. Kalau kalian bilang saya tidak mau kamu jadi seperti Eka, dia akan jadi seperti Eka. Karena itu yang membuat dia merasa tertantang,” ujar Riana yang seorang psikolog.
“Kamu bisa bayangkan bagaimana repotnya Tria membangun bisnis itu. Dari mulai mengajukan proposal, lalu berperang pendapat dengan pengurus, lalu membangun. Itu pemikirannya saja sudah menyita pikiran dan tenaga dia. Tapi dia masih tetap bisa berprestasi. Buktinya dia masih terpilih menjadi wakil sekolahnya untuk mengikuti pekan weekend se Jawa Tengah.”
“Dia selalu bisa menabung semua uang yang kamu berikan, memang Satrio sering minta uang karena dia butuh. Itu yang membuat kamu membenci Satrio karena selalu kurang uang. Padahal uang yang dibutuhkan Satrio itu untuk kegiatannya, bukan untuk beli narkoba. Eka dulu tidak pernah cukup uangnya, dia akhirnya cari jalan keluar sendiri. Itu semua kesalahan kalian kok.” kata Riana selanjutnya.
Memang Riana dan Gultom selalu bekerja sama dalam menangani kasus. Riana akan menilai dari sudut ilmu kejiwaan dan Gultom memandang dari segi hukumnya. berbeda dengan Riani yang langsung tak mau bekerja apa pun. Dia lebih sibuk sebagai pekerja sosial tapi sama sekali tak memperhatikan anak-anaknya. Riani dan Husein sama-sama lulusan dari manajemen perusahaan, setelah menikah Riani memang berhenti bekerja full untuk di rumah saja. Tapi tetap tidak memperhatikan anak-anaknya sebagus orang-orang yang bekerja kantoran.
“Kalian mau minum apa?” tanya Yanto saat Tria baru datang dan Satrio belum masuk karena masih di luar ruangan bengkel.
“Kami air putih saja Mas. Nanti biar kami ambil sendiri,” kata Tria.
“Ini adik aku,” Tria pun memperkenalkan Satrio yang baru masuk. Tadi Satrio memang memarkirkan motornya barengan dengan Tria. Tetapi Satrio langsung melihat-lihat bengkel itu.
__ADS_1
“Kalau kamu ingin ngobrol sama Mas, kamu bisa janjian di nomor yang Tria punya. Kamu bisa main ke rumah,” kata Yanto.
“Serius boleh main ke rumah Mas?” tanya Satrio. Dia tentu senang boleh main ke rumah keluarga angkat kakaknya itu. Memang secara tak langsung Tria bilang dia merasa jadi bagian keluarga Timah.
“Boleh saja, kamu akan bisa lihat peternakan kambingnya Timah, lalu kamu bisa lihat tambak milik Herry atau bisa juga peternakan ayam petelur dan ayam kampung milik Timah serta milik ayah mertuaku,” Yanto memberi gambaran apa yang Satrio akan lihat di rumahnya.
“Atau kamu bisa lihat kebunnya ibu,” kata Tria.
“Kebun apa?” tanya Satrio penasaran.
“Wah aku jadi pengen tahu,” kata jawab Satrio yang sangat suka akan pemanfaat limbah.
“Sekarang Timah sedang usil.” kata Yanto.
__ADS_1
“Usil gimana Mas?” tanya Tria.
“Kemarin dia baca di Google tentang memelihara ikan lele di dalam ember dengan atasnya itu menanam kangkung secara hidroponik. Jadi dia sedang membeli ember-ember bekas untuk pelihara lele di ember,” ucap Yanto dengan senyum manis yang membuat Fitri dulu terpesona. Senyum yang sangat pelit dia berikan pada orang lain selain orang terdekatnya saja.
“Buat apa?” kata Satrio bingung.
“Bukannya sudah ada tambak yang memenuhi kebutuhan kalian semua, bahkan mau tiap hari makan ikan lele kan bisa?”
“Itu akan dibuat pilot projectnya di sekolahan. Timah ingin membuat itu untuk bahan di sekolahannya. Jadi semua siswa nanti berperan aktif di sana.”
“Ya ampun sampai seperti itu? Padahal Timah masih kelas 1 SMP ya?” kata Satrio.
“Iya, dia sedang membuat proposal. Untuk itu dia akan uji coba dulu 3 ember untuk tiap treatment. Nanti setelah berhasil dia akan bikin laporan kepada ketua yayasannya. Kebetulan ketua yayasannya itu adalah kakak angkatnya Mbak Fitri. Tentu saja Timah tidak mau asal bikin. Karena itu dia akan mencobanya. Step by step akan dia buat foto dan video sehingga memang betul-betul hasil pengamatannya, bukan hanya teoritis saja.”
__ADS_1
“Wah aku serius jadi pengen kenal dengan Timah,” kata Satrio.