
“Tapi seperti yang tadi Mas bilang. Bukan berarti tidak pacaran itu adalah baik atau pacaran itu adalah baik. Tidak! Tidak seperti itu pandangan kita. Anak sekarang mayoritas sudah pacaran, bahkan ada yang sejak SMP. Kita nggak usah menutup mata. Tapi tetap ada batasan!”
“Mumpung kalian semuanya berkumpul di sini Mas kasih tahu. Ingat penyesalan itu tak mungkin bisa menutup apa pun. Kalian berbuat salah sekarang, sampai kapan pun tidak akan mungkin bisa kalian tutup. Lebih-lebih sekarang zaman digital. Semua masalah online jejak digital itu tidak akan bisa tertutup.”
“Jadi selama kalian masih muda, mau update sesuatu dipikir dulu. Jangan asal-asalan. Nanti jejak digitalnya itu tidak bisa kalian hapus. Lihat saja artis-artis yang dulu seperti apa vulgarnya, lalu sekarang tertutup rapat. Saat lagi ada masalah masa lalunya diungkit oleh orang lain. Padahal dia sudah tobat. Jadi Mas minta kalau kalian seperti tadi Satrio punya pacar ya monggo kami enggak apa-apa. Cuma dipikir ulang jangan sampai salah langkah,” kata Yanto.
“Kan tadi aku sudah bilang, dia bukan pacar aku Mas,” kata Satrio meralat ucapan Yanto.
__ADS_1
“Kan tadi ayah juga sudah bilang kalau pacar pun nggak apa-apa. Mas juga bilang pacar pun nggak apa-apa. Yang penting jangan salah langkah,” ungkap Yanto lagi.
“Ya Allah Mas, itu jaraknya bumi dan bulan. Nggak akan mungkin kami bertemu.” tolak Satrio.
“Buktinya Mas sama Mbak ketemu tuh,” kata Fitri.
“Jadi aku mendingan milih seperti Mas dan Mbak. Tanpa pacaran langsung menikah saja. Insya Allah kalau memang sifatnya sama pasti kita bisa menyesuaikan diri dengan lebih mudah,” kata Satrio.
__ADS_1
”Kalau sejak awal memang sifatnya sudah berbeda itu akan sulit disatukan.”
Gendis hanya tersenyum mendengar jawaban Satrio. Sama seperti dirinya. Dia juga tak pernah tahu bakal dapat anak orang kaya di Solo tapi buktinya apa? Pola pikir orang tuanya tidak sama dengan pola pikir Suripto.
Banyak friksi di dalam rumah tangganya, tapi karena dia dan Suripto punya pandangan yang sama mereka bisa bersatu. Suripto dan Gendis tetap berjalan sampai akhir hayat. Walaupun Suripto anak orang kaya, tak ada hartanya yang Gendis ingin memiliki. Mereka punya harta banyak hasil kerja sendiri.
Suripto memang sama dengan Yanto tak malu bekerja apa pun. Jadi waktu jatuh pun Gendis juga nggak malu jadi buruh cuci. Walau kalau mau seharusnya orang tua Suripto tetap membantu anak dan cucunya. Tapi mereka kan nggak bantu. Mereka hanya memandang Gendis dengan tatapan sinis. Padahal tak ada satu pun barang harta kekayaan keluarga Suripto yang Gendis ambil.
__ADS_1
‘Walau masih belia, pemikiran Satrio benar, kalau pandangan sama lebih nudah bersama. Perbedaan usia dan harta bukan kendala. Tapi kalau pemikiran tak sama walau tak ada kesenjangan usia dan harta. Tetap saja tak bisa bersatu. Kata Satrio tadi, bagai minyak dan air,’ pikir Gendis.