BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TERLINTAS KENANGAN BAHAGIA DI JOGJA


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


“Loh kok beli ikan gurame juga Mas?” tanya Fitri melihat suaminya membeli 3 ekor gurame besar yang juga sudah dibersihkan oleh petambaknya.


“Kayaknya gurame di masak asam manis enak deh Yank,” ujar Yanto. Dia membayangkan gurame asem manis masakan istrinya yang paling dia suka saat mereka tinggal di Jogja dulu.


“Mau buat kita bawa atau mau bagaimana?” tanya Fitri takut salah.


“Buat dibawa aja Yank, yang buat makan malam nanti kan pepes belut, lalu guramenya buat besok siang atau buat besok malam yang penting kita bawa,” jelas Yanto.


“Oke, nanti kalau Mas pulang dari bengkel jangan lupa belikan saus tomat ya kalau mau bikin asam manis,” pinta Fitri.


“Sama apalagi?” tanya Yanto.


“Nanti aku kirim dipesan aja supaya Mas enggak lupa ya,” jawab Fitri.


“Benar Yank,  kamu tulis aja dipesan supaya enggaka lupa apa saja yaang mau di beli supaya enggak lupa. Tapi tuliskan juga bahan-bahan buat salad buah ya Yank. Aku kepengen makan salad buah di rumah sini bukan buat di rumah Solo,” Yanto minta di beri catatan bahan buat bikin salad buah. Dulu kala Di Jogja Fitri memang sering membuat salad untuk Yanto. Sepertinya Yanto sedang ingin bernostalgia jaman mereka bahagia berdua di Jogja.


“Lho kenapa jadi Mas sukanya sayur-sayuran seperti aku?” tanya Fitri. Yanto sangat sulit makan buah dan sayur kalau bukan yang biasa dia makan ketika di desa. Saat awal mereka menikah Fitri selalu memaksa dengan menyuapi salad sayur dan buah juga juice untuk Yanto.

__ADS_1


Dan setiap Yanto berangkat kerja Fitri selalu membekali juice beku yang akan diminum siang saat sudah cair di tempat kerja Yanto. Entah di bengkel maupun dalam perjalanan ke luar kota.


“Enggak apa apa yang penting kamu makan protein tingginya jangan lupa. Yang kamu konsumsi kan buat anak. Kalau aku ngidam apa pun kan enggak berpengaruh ke bayi dan Daffa.”


“Iya Mas bener. Enggak apa apa Mas ngidam sayuran yang penting proteinnya  masuk di aku ya,”  Fitri setuju dengan pemikiran suaminya. Karena untuk asupan gizi bagi janin dan Daffa hanya dari makanan yang dia makan bukan yang dari Yanto.


“Mas berangkat dulu, jangan lupa catatannya dikirim. Mas cuma berharap satu sama kamu,” Yanto mengecup kening istrinya.


“Apa Mas?” tanya Fitri.


“Semoga dedeknya nggak rewel kalau Papa tinggal kerja. Dulu waktu Mas Daffa di dalam perut enggak suka ditinggal Papa. Pisah jauh sedikit aja Mama mual dan muntah.”


“Mungkin beda Mas, waktu Mas Daffa kan dia merasa Mas udah ngejahatin dia dengan meninggalkan ke Bogor.”


“Aku enggak bahas dia Mas, aku cuma bahas waktu Mas Daffa dia merasa tertekan karena Mas ninggalin dia untuk beralih ke perempuan di Bogor. Jadi aku bukan fokus ke perempuan itu, tapi aku fokus pada mengapa Daffa seperti itu.”


“Kalau Dedek kan enggak dia tahu Papanya kerja. Jadi Mama yakin Dede enggak akan rewel. Kalau Dede rewel kasihan Mas Daffa, Mama juga Dedek sendiri,” kata Fitri. Yanto pun mengerti apa inti yang Fitri katakan.


“Iya anak Papa pintar kok, enggak bakal rewel. Papa kerja ya Nak bukannya ke mana-mana dan enggak usah takut ditinggal Papa karena Papa enggak akan berpaling dari Mama,” kata Yanto sambil mengelus perut Fitri dengan lembut seakan mengusap kepala bayinya.


“Jangan lupa ya Yank, enggak usah banyak angkat-angkat yang berat, baik Daffa maupun yang lainnya.”


“Ya Mas,” jawab Fitri. Dia juga tak mau kehamilannya bermasalah bila dia angkat-angkat gendong Daffa. Jadi Daffa nanti akan lebih banyak ditaruh di stroller, bukan di gendong dengan tangannya.

__ADS_1


Paling angkat kalau pindahin dari kasur ke stroller atau ke high chair saja.


“Ibu kan juga enggak boleh angkat berat-berat. Jadi kalian memang harus jaga diri.”


“Iya nanti aku ingetin kok. Mas juga hati-hati ya,” kata Dinda sambil salim mencium punggung tangan suaminya.


“Iya, Mas enggak langsung ke bengkel Yank. Kan kemarin sudah janji mau lihat barang yang Mas lihat di iklan kemarin,” Yanto mengingatkan Fitri jadwal kerja dia hari ini.


“Semoga berhasil ya Mas,”  Fitri memberi doa dan support untuk suami tercinta.


“Aamiiin, Insya Allah berhasil kalau niat kita baik,” balas Yanto.


“Kita kan niat bekerja buat ibadah cari nafkah buat anaak-anak,” kata Yanto.


“Iya Mas,” Fitri setuju mereka kerja dan mencari nafkah hanya untuk anak-anak.


Sehabis Yanto berangkat, ibu dan Fitri langsung bersiap masak untuk dibawa ke Solo ke rumah Suradi, nanti malam rencananya Yanto dan Fitri akan memberitahu tentang kehamilan anak kedua mereka.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.

__ADS_1



__ADS_2