BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
DEDE TAHU PAPA PUNYA WIL


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Mas kalau kita udah pulang aku kepengen belanja ikan patin di tambak,” kata Fitri.



“Aku pengen beli ikan di tambak lalu dimasak pepes, aku makan langsung pada saat pepesnya masih panas tanpa nasi,” kata Fitri sambil terpejam membayangkan pepes panas tanpa nasi.



“Ya nanti kita pulang istirahat dulu ya, kamu sehat dulu baru kita ke desa. Kalau kamu enggak sehat enggak boleh ke desa, nanti malah bahaya buat dede. Kan kamu tahu kondisi bayi kita lemah,” kata Yanto membujuk Fitri



“Kalau dekat Papanya Dede enggak pernah lemah dia tuh lemah kalau jauh dari Papanya,” rajuk Fitri tak mau kalah.



“Ya bilangin aja sama dede’, Papa enggak pernah pergi-pergi kok,” kata Yanto kalem. Dia tak sadar kalimat ini pemicu ungkapan Fitri selanjutnya.



“Yang Dede’ tahu, kan Papanya ngelayap dan punya sesuatu di Bogor,” balas Fitri.



“Sudah ya Sayank, enggak usah dibahas soal itu ya? Nanti bikin kamu dan Dede’ sakit. Itu masa lalu yang harus ditutup, walau enggak bisa kita hapus karena sudah pernah terjadi.”



“Tapi jangan kita buka lagi ya, nanti dede’ sama mamanya sakit. Itu kesalahan Papa ya. Maafin Papa,” pinta Yanto sambil dia mengusap-usap perutnya Fitri.



Yanto tahu semua itu karena kesalahannya sehingga Dede’ dan Fitri menjadi seperti itu. Gendis, Erlina dan Suradi tak bisa bicara kalau sudah membahas masalah perempuan di Bogor yang menjadi penyebab huru hara rumah tangga Yanto dan Fitri. Andai tak ada keributan itu mungkin Yanto tak hilang kendali sehingga tak terjadi kecelakaan.



Teramat sulit menghapus kepahitan yang Fitri rasakan walau sekarang sudah tahu kalau Yanto tak pernah mendua. Tapi mengingat saat dia merasa tersisih, mengingat saat dia melihat Yanto satu rumah dengan perempuan lain, mengingat Yanto pernah berbohong demi menghidupi perempuan itu tentu tak mudah rasa pahit itu hilang.



Pantas saja Yanto memberitahu usia kehamilan dan usia pernikahan yang selisih satu bulan, ternyata niatnya ingin mempermalukan perempuan itu. Ternyata usia kehamilan malah lebih tua dari saat pertemuan dengan Yanto.



Erlina berupaya mengalihkan pembicaraan agar Fitri tak terlarut emosi.



“Fit, kalau enggak ada pisang kepok mengkal, pakai pisang lain mau?” tanya sang ibu.



“Ganti ubi ungu rebus aja deh, sepertinya enak Bu,” jawab Fitri.


__ADS_1


Malamnya Yanto yang tidur di bednya Fitri. Dia menciumi wajah Fitri juga mengusap-usap perut Fitri sampai istrinya tidur.



“Bagaimana kondisi Bu Fitri Pak?” tanya suster yang datang malam itu. Suster melihat Yanto masih mengelus-elus perut Fitri sambil menonton televisi.



“Sudah tidak muntah dan sudah tidak mual lagi katanya, dia juga sudah makan banyak. Sudah minum su5u juga sudah minum semua vitamin suster,” jawab Yanto.



“Baik Pak, tolong kalau cairan infusnya habis pencet bel ya. Sesudah ini habis ini infusnya dihentikan kata dokter. Karena ibu sudah mau makan dan sudah berhenti muntah,” jelas suster.



“Baik suster. Nanti akan saya beritahu bila infusnya habis.” Jawab Yanto. Infus milik Fitri masih berisi setengah botol, kalau infusnya Yanto baru dipasang botol baru.



“Kalau dihitung dengan kecepatan tetes, itu masih cukup lama Pak, sekitar 3 jam lagi. Bapak tidur dulu saja,” Suster memberitahu perkiraan cairan infus habis.



Dokter juga tadi bilang infus yang dipasang di Yanto adalah infus terakhir, besok dia bisa lepas infus. jadi Fitri dan Yanto sama-sama lepas infus besok pagi.



Saat adzan subuh Yanto melihat bahwa infusnya Fitri sudah hampir habis dia langsung menekan bel memanggil suster. Yanto juga baru bangun.




“Habis infusnya Pak?” tanya perawat tersebut.



“Iya. Infus istri saya hampir habis Mas,” sahut Yanto.



“Milik saya juga sebentar lagi habis,” lapor Yanto selanjutnya.



“Baik saya copot dulu yang punya ibu ya Pak. Yang punya Bapak mungkin sekitar 30 sampai 45 menit lagi baru habis,” kata perawat laki-laki tersebut.



Dengan cekatan perawat lelaki tersebut langsung membuka infus di tangannya Fitri. Fitri terbangun karena ada yang memegang tangannya dan merasakan dingin alkohol yang diusap di bekas jarum infus.



“Habis Mas?” tanya Fitri.



“Iya Sayank, infusmu sudah habis dan sudah dibuka kamu sudah tak butuh inpus lagi karena sudah tak muntah,” kata Yanto sambil mengusap kening istrinya lembut.


__ADS_1


“Maaf ya Bu, ganggu tidurnya,” kata perawat tersebut.



“Enggak apa-apa kok,” jawab Fitri. Fitri senang karena sudah tidak diinfus lagi. Dia akan lebih leluasa bergerak.



“Tapi pesan dokter tetap tak boleh banyak gereak dan tak boleh angkat barat berat ya Bu.” Ujar sang perawat sambil membereskan alatnya.



“Ya Mas, akan saya ingat,” sahut Fitri.



Sesuai dengan dugaan perawat infusnya Yanto dibuka di menit ke-35 dari dibukanya infus Fitri tadi.



“Alhamdulillah,  Papa udah buka infus Dek. Jadi kita bisa jalan bareng Papa,” kata Fitri saat melihat perawat sedang membuka infus di kengan kiri suaminya.



“Paling enggak kita bisa duduk nonton bareng ya,” kata Yanto. Dia tak mau Fitri banyak bergerak mengingat kondisi kandungan Fitri sangat lemah.



“Aku tuh enggak apa apa Mas kalau enggak habis muntah-muntah atau mual. Aku tuh enggak lemah,” protes Fitri mendengar Yanto hanya ingin mereka duduk bareng nonton TV.



“Iya Yank, Mas mengerti kok. Tapi kita juga harus hati-hati mengingat kita ini sangat lama bisa dapetin Dede. Jadi harus kita jaga benar-benar ya. Mas enggak ngecilin arti kamu Ma. Papa enggak bilang Mama lemah cuma kita harus menjaga Dede’ dengan sangat hati-hati,” kata Yanto dengan sangat lembut.



Yanto tahu perempuan hamil sangat sensitif.  dia tak ingin Fitri merasa direndahkan atau merasa diintimidasi. Yanto menciumi wajah Fitri dengan lembut, dia tak ingin Fitri terluka dengan kata-katanya.



Yanto sadar pernah melukai perasaan Fitri teramat dalam. Dia tak ingin Fitri mengalami sakit kembali. Sakit yang tak mudah diobati.



“Mas mau ke mana?” tanya Fitri melihat Yanto turun dari tempat tidur mereka.



“Papa mau bikin su5u ibu hamil dulu sebentar ya. Mas Cuma ke situ kok bikin su5u buat dede’nya Papa,” kata Yanto. Lelaki itu mengambil gelas dan membuat su5u hangat buat minum Fitri. Dia membaca dengan saksama petunjuk di kemasan lalu dia tambah dosis bubuk su5unya, karena Fitri sukanya su5u yang kental.



Fitri sangat bahagia mendapat segelas su5u ibu hamil pertama yang dibuatkan oleh Yanto sejak dia mengandung. Fitri langsung meminumnya hingga habis.



“Aku laper,” bisik Fitri setelah su5unya tandas tak bersisa. Yanto terkekeh mendengar bisikan istrinya tercinta. Sejak mereka menikah Fitri tak pernah lapor kelaparan walau tak makan seharian karena mereka sibuk kerja.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok.


__ADS_1


__ADS_2