
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
Seperti perkiraan dokter, hari ini pak Suradi boleh pulang Erlina membawa mobil Pak Suradi dengan driver sedang Bambang dan Fitri dengan mobil Fitri sendiri membawa semua peralatan.
“Harusnya tadi ibu enggak usah bawa supir, kan ada mobil kita Dek,” potes Bambang.
“Lha wong maunya ibu seperti itu, mau diapain?” kata Fitri.
“Ya udahlah, udah terlanjur dibawa mau diapain? Semoga ayah terus sehat ya Dek,” harap Bambang.
“Iya.”
Hari ini Bambang mulai masuk ke rumah Pak Suradi sebagai menantu. Sejak menikah dadakan dia belum pernah pulang ke kamar kost.
“Mas barangmu pindahin ke sini aja,” saran Fitri,
“Nanti ya Dek, aku capek,” bisik Bambang tak mau didengar mertuanya.
“Kalau begitu biar dibantu mbok Darmi atau satpam?” usul Fitri.
“Enggak usah, aku nggak punya barang kok. Cuma baju dan beberapa buku. Nanti aja ya. Sekarang aku mau tidur dulu boleh ya?”
“Mas tidur aja di kamarku. Kan sekarang sudah jadi kamar kita,” tawar Fitri.
“Enggaklah, mas tidur di kamarku aja. Biar lebih nyaman.”
“Kok gitu Mas? Nanti aku bilang apa sama ayah sama ibu kalau Mas masih tidur di belakang?”
“Sebentar aja Dek. Mas lebih nyaman tidur di tempat yang biasa. Nanti malam baru Mas pindah ya tidur di tempatmu. Kalau aku nggak nyaman aku nggak nyenyak nanti malah aku drop.” kilah Bambang.
__ADS_1
“Mas sebentar aja, walau pun sebentar kalau tempat nyaman pasti aku enggak stress.”
‘Ya sudah, nanti aku bilang kamu lagi beres-beres aja ya?”
“Begitu pun baik. Mas ke belakang dulu sebentar ya,” Bambang mengacak puncak kepala istrinya dan menepuk bahunya, lalu dia keluar kamar. Bambang bukan tidak mau tidur sama Fitri, tapi kan terganggu dengan aktivitas istrinya atau ada suara lain. Lebih baik di kamar belakang dia bisa tidur nyenyak.
\*\*\*
Semua keluarga senang Pak Suradi sudah pulang dan sudah sehat kembali. Rencananya besok Bu Erlina akan membuat syukuran berupa pengajian. Syukuran atas kesembuhan Pak Suradi juga mengumumkan bahwa Fitri sudah menikah.
Malam nanti Bambang dan Fitri akan menghadap Pak RT untuk melaporkan dan memperlihatkan buku menikah mereka sekalian mengundang selamatan atas sembuhnya Pak Suradi. Resepsi nanti akan dibahas setelah Pak Suradi betul-betul sembuh.
Bambang bangun sore hari dengan tubuh yang fresh dia sudah segar. Dua jam dia tidur tanpa gangguan. Bambang lalu mandi dan beres-beres. Bajunya dimasukkan ke kardus begitu pun buku-buku dan semua peralatan nya. Nanti malam tinggal diangkat ke rumah Pak Suradi, karena kalau angkat-angkat siang rasanya enggak enak banyak anak koss di rumahnya Pak Suradi.
“Ini kopinya Mas,” Fitri memberikan kopi pada suaminya yang baru datang dari belakang.
“Ayah lagi disuruh istirahat sama ibu. Dari tadi pulang ke rumah dia ngobrol sama para pembantu dan juga tukang kebun serta sopir. Sudah habis makan terus disuruh masuk kamar. Kalau enggak gitu dia terus ngomong.”
“Si ayah kan memang sukanya gitu,” jawab Bambang sambil menyeruput kopinya.
“Nanti malam kita lapor RT ya Mas sambil bawa buku nikah. Sekalian ngasih tahu besok habis magrib akan ada selamatan ayah pulang dari rumah sakit,” ujar Fitri memberitahu apa yang harus mereka kerjakan malam ini.
“Oke,” tanpa banyak cakap hanya itu yang Bambang ucapkan.
“Kemarin ibu tuh lupa ngasih tahu atau lapor ke RT dan RW bawa ayah masuk rumah sakit,” jelas Fitri.
“Ya udah sih nggak apa-apa. Nanti kita bikin pengajian kan orang pada tahu, tapi pasti pada marah karena enggak dikasih tahu waktu Ayah sakit,” jelas Bambang.
“Ya namanya orang panik kan wajar,” kata Fitri.
__ADS_1
“Barangnya udah diberesin Mas?”
“Sudah tapi kan enggak enak bawa hari gini. Nanti ajalah malam-malam, aku tinggal angkat barangku. Lagian barang aku kan enggak banyak. Cuma buku sama sedikit baju aja. Nanti buku-buku yang sudah enggak perlu juga akan aku loakin aja, biar nggak penuh sesak kamarnya.”
“Kamarku besar banget, cukup koq buat bukumu.
“Ya tapi buat apa? Buku juga udah enggak ada gunanya. Dibakar juga sayang. Mendingan dikasih tukang loak aja. Enggak apa apa yang penting nggak menuh-menuhin tempat,” kata Bambang/
“Terserah wae lah.”
\*\*\*
“Wah, selamat ya Mbak Fitri.”
“Iya Pak maaf kemarin ini kami menikah di rumah sakit karena kemarin ayah kritis. Jadi minta kami segera menikah. Ini baru pulang rawat Pak dan besok habis magrib ayah mengundang acara pengajian syukuran ayah sembuh.”
“Insya Allah saya akan datang,” kata Pak RT.
“Iya sekalian minta tolong dikasih tahu warga sekitar Pak,” pinta Fitri.
“Nanti saya akan beritahu warga dengan surat edaran bahwa akan diadakan pengajian Mbak.”
“Habis magrib Pak pengajiannya.”
“Injih nanti akan kita beritahu pada anggota RT.”
\*\*\*
“Sudah jelas ya para warga bahwa mbak Fitri sudah menikah kemarin . Tadi Pak Suradi sebelum pengajian minta diumumkan tentang pernikahan putrinya di rumah sakit. Jangan sampai ada gosip. Ini buku nikahnya sudah saya pegang,” kata Pak Ustad memperlihatkan buku nikah dari Fitri dan lalu pengajian pun dimulai.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok
__ADS_1