
Timah menyiapkan semua alat tulisnya dia masukkan juga nomor ujian semester nya, karena tanpa itu dia tidak boleh masuk ke sekolah. Memang ketika masuk pintu gerbang semua siswa harus memperlihatkan kartu ujian agar tidak grabag grubug mencari ketika sudah masuk kelas dan pelajaran akan di mulai. Sehingga masih sempat balik ke rumah bila ketinggalan.
Karena sedang ulangan umum maka Timah tidak membawa bekal nasi. Dia besok hanya bawa roti saja, bukan nasi. Tentu tetap dengan jus buah karena tak mungkin mereka bisa pergi sekolah tanpa bawa jus. Itu sudah ketentuan baku dari Mbak Fitri. Sejak Mas Yanto menikahi perempuan cantik tersebut. Mbak Fitri tak ingin keluarganya tidak mengkonsumsi serat.
“Kenapa Mas?” tanya Timah, saat itu Satrio memang menghubunginya.
“Kangen saja, kita sudah lama banget nggak nongkrong,” jawab Satrio santai.
“Sama Mas. Aku juga kangen ingin nongkrong, masak mie di kandangnya Mbak Tria seperti biasa.”
Memang mereka sekarang lebih senang masak mie sendiri. Mereka akan bawa sayuran dari rumah juga bakso maupun cabe rawit. Kadang juga tambah jeruk nipis. Nanti mereka akan masak mie yang mereka punya dan mienya juga macam-macam. Ada mie pedes keju atau ada mie jenis lain. Menu mie-nya benar-benar lebih variatif. Bukan beli mie ayam jadi.
Kadang Timah juga bawa topping ayam jamur buat mienya seperti sama yang diberikan oleh tukang mie ayam. Yaitu ayam cincang dengan jamur tapi kalau Timah sering ditambah dengan ceker atau kepala ayam kesukaan mereka bertiga.
“Habis ulangan umum kita kumpul ya?” usul Satrio.
__ADS_1
“Iya Mas, mau banget. Pokoknya habis ulangan umum kita harus kumpul. Aku akan bawa topping mie ayamnya yaitu seperti biasa banyakin kepala dan ceker sama jamur,” ucap Timah setuju.
“Mas bisa bawa sawi kan?” kata Timah. Sebenarnya di rumah juga banyak sawi hijau, tetapi biar semuanya sama-sama kebagian bawa saja. Hanya untuk mereka merasa satu tim yang solid. Tentu saja bukan soal yang sulit buat Satrio memenuhi keinginan Timah membawa sawi hijau. Semua sayuran sekarang ada di teras rumahnya. Di pagar-pagar rumahnya juga di pagar kandangnya Fitri semua ada di kemasan plastik limbah. Itu adalah hasil budidaya yang Satrio lakukan.
“Biar nanti Mbak Tria yang bawa baksonya sama mie. Tentunya jangan lupa aku mienya mie keju pedas.”
“Nanti aku bilangin sama Tria, pokoknya kita kumpul pas di hari terakhir ulangan umum. Jangan nunggu besoknya. Jadi hari Jumat siang kita ngumpul.”
“Oke, aku akan buatin toppingnya banyak-banyak biar kalian sampai mblenger,” kata Timah.
“Siap MasBro, pasti aku bikinin yang banyak kepala ayam buatmu,” kata Timah. Mereka tertawa sebelum sambungan pembicaraan diputus.
Tadi Herry mengetuk kamar Timah tapi adiknya tidak dengar karena sedang asyik ngobrol, sehingga dia membuka pintu kamar adiknya, jadi dia tahu bahwa Timah akan bertemu dengan Satrio.
“Loh Mas, ada apa?” tanya Timah begitu pembicaraan ditutup dia melihat ada Herry di depan pintu kamarnya.
__ADS_1
“Mas mau bicara dengan Satrio untuk program pengenalan pemanfaatan limbah dapur buat program kerja di OSIS. Kapan ya Mas bisa ketemu dia?” tanya Herry.
“Kalau Mas mau ketemu kami, kami ada pertemuan besok hari Jumat sepulang sekolah di kandangnya Mbak Tria. Kami akan masak bareng seperti kebiasaan kami. Biasanya kami masing-masing bawa-bawa. Aku besok bawa toping ayam cincangnya. Mas Satrio bawa sawi hijau, Mbak Tria yang siapin bakso dan mienya. Mungkin kalau Mas mau ikutan. Mas akan membawa apa? Karena nggak enak kalau Mas nggak bawa. Kalau kami sih nggak peduli. Cuma nanti Mas yang merasa minder sendiri. Kami terbiasa seperti itu,” jelas Timah. Dia juga tak ingin kakaknya datang dengan tangan kosong.
“Kalau begitu Mas ikutan. Mas akan bawa kerupuk,” kata Herry. Tadi adiknya belum menyebut kerupuk.
“Mas mau mie rasa apa? biar nanti disiapkan. Karena biasanya kami masing-masing punya request tersendiri.”
“Enggak lah Mas mie apa saja, mau pakai mie ayam atau mau bikin mie goreng enggak apa-apa,” jawab Herry.
“Kamu nggak usah bilang sama Satrio dan Tria soal kedatanganku. Suruh saja siapin mienya lebih, nanti aku datang,” ucap Herry. Timah tak khawatir mie kurang, karena memang Tria selalu melebihkan jumlah yang dia beli untuk stock berikutnya.
“Kamu kasih tahu saja alamatnya,” kata Herry. Karena dia belum pernah ke rumahnya atau pun ke kandangnya Tria.
“Baik nanti aku shareloc saat di sana, alamatnya aku kirim sekarang,” kata Timah.
__ADS_1