BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TAK MAU MUNAFIK


__ADS_3

“Sebenarnya berapa biaya yang kamu butuhkan?” tanya Gultom dia belum mau menolak atau menerima tapi dia bertanya dulu berapa besarnya. Gultom yakin untuk sebuah toko kecil yang baru mau dibuka modalnya cukup besar. Tapi dia tak keberatan untuk membantu keponakannya itu.


Satrio mengeluarkan satu lembar kertas yang sudah dia persiapkan dia berikan kepada Gultom rincian sejak sewa ruko sampai membeli paku sekali pun ada di sana semua. Dia buat rinci tanpa terkecuali. Ada juga dana taktis cadangan buat operasional.


Gultom memperhatikan bahwa secara administrasi Satrio sudah sangat hebat merinci semuanya tanpa terlewatkan. Angka yang dia lihat memang cukup besar tapi tak jadi kendala.


“Bagaimana Ma?” tanya Gultom. Dia tidak mau memutuskan sendiri. Riana tersenyum. Pertanyaan seperti itu sudah biasa dari Gultom. Itu artinya Gultom setuju. Kalau tak setuju Gultom akan langsung bilang maaf aku tidak setuju bla bla bla bla.

__ADS_1


Itu ciri khasnya Gultom. Kalau dia melempar ke Riana itu tandanya setuju hanya seakan-akan minta persetujuan atau pendapat Riana. Gultom dan Riana bukan baru kenal satu atau dua hari. Mereka sudah hidup bersama sejak 18 tahun lalu. Sejak mereka menikah. Jadi Riana tahu Gultom luar dalam.


“Kalau Mama sih setuju. Hanya pengembaliannya yang harus kita bahas. Rasanya Mama tidak setuju kalau pengembaliannya terlalu cepat atau juga dirinci dengan materi,” kata Riana. Ada beberapa kerabat yang pimjam bantuan Riana dan Gultom, mereka juga akan mengembalikan sesuai dengan kesepakatan. Tapi untuk Satrio Riana ingin berbeda karena keponakannya baru kelas 1 SMA. Suatu hal sangat luar biasa. Dia akan membantu apa pun caranya.


“Maksud Mama bagaimana?” tanya Gultom.


“Bukan bisnis namanya kalau kamu rugi. Kamu tidak perlu mengembalikan tapi itu syarat dari Bude. Terserah nanti dari Amang syaratnya bagaimana. Kalau Amang minta dikembalikan Oke. Tapi kalau tidak berarti kamu mulai menabung angsuranmu dalam bank. Suatu saat angsuran itu Amang atau Bude minta kamu sudah ada. Secara lisan Bude katakan Bude tidak minta dikembalikan dengan materi.” Gultom tersenyum mendengar jawaban bijak istrinya.

__ADS_1


“Bude jangan terlalu mempermudah aku seperti itu. Aku malah tidak mau. Seakan aku minta bantuan modal,” ucap Satrio.


“Kamu pikir angsuran mu itu mudah? Kamu mengangsur dengan prestasimu loh. Kamu tidak boleh turun prestasimu di pelajaran sekolah. Kamu harus terus berprestasi. Itu suatu angsuran yang berat, karena bila angsuranmu itu berkurang Bude akan cabut modal seluruhnya! Bukan sebagian.”


“Begitu pun dengan bisnismu. Bisnismu tidak boleh jalan di tempat. Kalau diam di tempat, Bude akan cabut semua modal. Apalagi bila kamu rugi. Itu sudah angsuran yang terberat buat Bude. Jadi jangan sepelekan. Tadi Bude bilang kan, Bude tidak kasih free. Itu jumlah besar bukan satu atau dua juta. Itu puluhan juta. Anggap saja Bude investasi di situ,” kata Riana.


Satrio tak menyangka orang-orang di luar kedua orang tuanya sangat mendukung prestasi dirinya dan Tria. Dia mengambil tangan Riana dan menciumnya berkali-kali lalu dia pun memeluk budenya itu. Sangat bertolak belakang dengan Riani dan Husein.

__ADS_1


Walau sudah kepentok masalah Eka, Riani dan Husein belum berubah sama sekali. Mereka masih menuntut Satrio dan Tria bersikap manis seperti Eka. Suatu sikap kepura-puraan yang tak dimiliki oleh Tria dan Satrio. Mereka memang anak yang tak mau munafik.


__ADS_2