
Satrio sejak tadi sibuk dengan tanamannya di kandang itu. Dia mengutak-atik media juga memberi tambahan urine kelinci. Menyiram sedikit urine kelinci yang diencerkan dengan air. Dia siram hanya pada medianya, tidak pada daunnya dan hanya sedikit saja karena ini sudah siang. Hanya untuk membasahi sedikit medianya dan langsung diserap sehingga dia tidak tahu kesibukan Pujo dan Harry, juga galauan Herry yang baru tahu kalau Andre adalah kakak sepupu Tria.
Satrio juga membuat POC ( Pupuk Organik Cair ) di kandang. Kotoran kelinci dia campur dengan sampah pasar yang sudah busuk karena terlalu lama tidak diberi makan pada kelinci, lalu dia tambahkan zat perangsang untuk membuat POC yaitu EM4. dia tutup lagi ember tempat bikin POC setelah dia memanen POC yang sudah jadi lebih dulu.
Besok POC itu akan dia distribusikan pada beberapa teamnya untuk digunakan di lahan yang mereka bina.
“Mas Iyok lagi apa sih? Serius banget sampai nggak lihat aku dari tadi perhatiin di sini,” sapa Timah.
“Anak cantik kalau dari tadi kamu perhatiin Mas Iyok, kamu tahu dong Mas lagi ngapain? Nggak perlu tanya seperti itu kan,” jawab Satrio tanpa mengangkat wajahnya.
“Aku tahu Mas kerja kok. Maksud aku pikiran Mas itu lagi ngapain?”
“Oh pikiran? Pikiran Mas lagi banyak cabang. Mau ngembangin apa lagi ya? Mau nambah apa lagi ya? Itu selalu yang ada di pikiran Mas setiap saat,” balas Satrio.
__ADS_1
“Kayaknya Mas Iyok sudah lama loh nggak cerita progresnya pet shop,” Timah mengingatka Satrio kalau awal membuat Iyok selalu konsultasi dengan dirinya.
“Pet shop jalan. Nggak mungkin nggak jalan. Bahaya! Bisa-bisa semua modal ditarik sama amang. Jadi pet shop juga sedang dipikirin bagaimana cara pengembangannya. Walau sudah masuk ke iklan kita juga dan kemasannya juga sudah seperti saran kamu yaitu kemasan kecil-kecil.”
“Kemarin Mas juga mencetak plastik lagi karena di dalam kemasan plastik yang lama belum ada email dan nomor telepon buat pesan hanya ada toko nama toko dan alamat pet shop saja,” jelas Satrio.
“Kenapa nggak minta Mas Harry untuk menulis tentang pet shop? Pasti nanti banyak yang baca dan orang akan datang,” usul Timah.
“Nah ini, nah ini yang Mas suka dari anak kecil ini. Aduh anak kecil pintar cantik. Nanti mas akan minta Harry untuk bikin liputan tentang pet shop,” kata Satrio senang.
“Ih ngapain aku naksir kamu? Mendingan naksir kelinci daripada naksir kamu!” jawab Satrio keqi.
“Lalu kenapa kamu sebut namaku?” balas Harry.
__ADS_1
“Ini lho gadis cantik ini sudah bilang kalau kamu harusnya nulis tentang petshop aku. Jadi bisa makin melebar jangkauan pasarnya,” balas Satrio.
“Kamu nggak pernah cerita tentang petshop-mu. Ya mana aku bisa liput,” kata Harry.
“Oke kapan kita meliput biar langsung aku tulis dan kita publikasikan,” tanya Harry selanjutnya.
“Oke lusa ya, karena besok jadwalku padat,” kata Satrio.
“Lusa aku nggak bisa,” kata Harry. Lusa itu aku ada pertemuan di keluarga besarku. Memang acaranya malam, tapi dari siang pasti pulang sekolah umi sudah sibuk nyuruh aku wira-wiri. Aku nggak berani nanti malah kita janjiannya nggak fokus,” kata Harry selanjutnya.
“Oke nanti kita janjian saja mungkin by chat biar kita cuma janjian berdua, nggak usah bawa anak kecil ini,” kata Satrio menggoda Timah.
“Mas Iyok anggap aku anak kecil terus. Oke lihatin saja besok aku bales,” kata Timah sambil memonyongkan mulutnya karena kesal.
__ADS_1
“Nggak gitu juga anak cantik. Jangan merajuk. Nanti Mas nggak punya adik kecil yang masakin Mas kalau Mas kepengen sesuatu,” bujuk Satrio.
“Bodo!” jawab Timah kesal. Satrio dan Harry terkekeh.