BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
OBSERVASI ULANG


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Erlina tentu senang mendengar kalau Yanto akan di pindah ke rumah sakit dekat rumahnya di Solo sehingga dia menyuruh Fitri untuk istirahat saja tak perlu menjaga 24 jam di rumah sakit.


Fitri hanya akan menjaga dari pagi sampai malam habis makan malam Fitri akan pulang dan tidur di rumah sampai besok paginya agar Fitri tidak sakit itu keputusan Erlina. Bila Yanto sudah sadar, nanti Fitri boleh menjaganya full.


Untuk malam Erlina akan menyuruh seorang pegawainya saja buat jaga malam di ruangannya Yanto.


Tengah malam ambulans keluar dari rumah sakit RSUD Purworejo menuju ke Rumah Sakit Prima Medika Solo sesuai dengan permintaan Suradi.


Suradi dan Fitri berada di mobil belakangnya yang termasuk dalam rombongan tersebut sehingga bisa melaju dengan cepat tidak terhalang oleh lampu merah atau hal lain.


Mereka sampai di Solo jam 03.00 pagi Suradi minta Fitri tidur dulu nanti sesudah subuh baru dia akan dibangunkan untuk mengurus Yanto bila telah sampai di ruangan.


Karena mereka juga memang tidak bisa ngapa-ngapain saat transisinya Yanto dari rumah sakit ke ambulans  sampai rumah sakit tujuan semua dilakukan oleh petugas medis. Suradi dan Fitri hanya menunggu sehingga mereka tidur dulu di mobil.


Fitri sarapan bersama Suradi akhirnya mereka jam 06.00 pagi baru ke ruangan ICU. saat itu Yanto sudah rapi, administrasi juga sudah clear. Nanti jam 07.00 pagi dokter datang untuk visite.


“Lalu Bagaimana Dok perkembangan setelah pindah lokasi?” tanya Suradi pagi itu kepada dokter yang menangani Yanto di Rumah Sakit Prima Medika Solo ( ini hanya sekedar nama ya, bukan nama real )

__ADS_1


“Saya sependapat dengan dokter di RSUD Purworejo bahwa kemungkinannya memang sangat kecil. Ingat ya Ibu, Bapak, sangat kecil bukan berarti tidak ada! Jadi doa kita yang memang menentukan apakah dia bisa bertahan atau tidak,” Jawab dokter dengan diplomatis.


“Faktor apa yang membuat dia seperti itu Dok? Karena kalau lihat luka luarnya kan nggak terlalu berat,” tanya Fitri.


“Betul Ibu, saya juga sudah lihat di rekam medisnya, untuk luka luar hanya ada di bagian pelipis kanan, dahi dan sedikit tangan kanan itu yang saya lihat di rekam medis. Saya juga sudah lihat langsung ke tubuh Pak Bambang tapi benturan di kepalanya itu yang membuat dia koma seperti sekarang dan kritis,” jawab dokter.


“Kalau tulang punggung Dok atau bagian yang lainnya?” tanya Suradi dia berharap menantunya kalau pun sadar tidak terjadi kesulitan dalam bergerak.


“Saya lihat tidak ada patah tulangnya, memar di lengan atas aja Pak. Kaki juga tidak. Kalau untuk punggung kita lihat nanti ya Pak. Hari ini ada rencana observasi dari bagian dalam, kita ulang semuanya yang sudah dilakukan di rumah sakit Purworejo,” kata dokter selanjutnya.


“Fit kamu sekarang pulang aja dulu besok baru kembali biar kamu istirahat,”  Suradi menyarankaan putrinya pulang istirahat.


“Ayo kita balik pulang sama Ayah,” kata Suradi lagi.


“Mungkin Mas Banu. Ayah sudah tugas-in Mas Banu dan Mas Aji untuk gantian jaga setiap malam. Mereka tidak jaga tiap malam karena mereka juga harus gantian dengan kegiatan lainnya.”


Akhirnya Suradi pulang ke rumah dia enggak bawa baju karena kemarin ke Solo tidak berpikir akan menginap.


“Loh Ibu kenapa ke sini? Ayah baru aja pulang lho Bu.” Fitri kaget melihat kehadiran ibunya di hari pertama Yanto di rawat di rumah sakit Solo ini.


“Ibu tahu, Ibu sudah hampir dekat, baru Ayah bilang sudah meluncur pulang. Kami sudah janjian sejak pagi bahwa Ibu memang mengantar makan siang untukmu,” kata Erlina.


“Bagaimana kondisi Yanto hari ini?” tanya Erlina sambil menyerahkan makan siang untuk putrinya.

__ADS_1


“Masih seperti kemarin Bu. Hari ini dokter di sini melakukan pemeriksaan ulang, mungkin merasa takut ada selisih perbedaan antara pemeriksaan di RSUD dengan di sini. Semuanya akan dilakukan tes ulang. Dokter tadi bilang lengan kanan dan semuanya baik tapi akan dilihat tes punggung. Apakah tulang punggungnya juga tidak ada gangguan akibat benturan.”


“Yang pasti sudah CT-Scan dan hasilnya ternyata memang benturan di kepala yang membuat mas Yanto kritis seperti sekarang.”


Sehabis Fitri makan siang, Erlina pulang meninggalkan putrinya sendirian berdua dengan Yanto. Sejak berada di ICU Fitri selalu membisikkan kata-kata pada Yanto.


Secara berkala Fitri terus bicara. Apa pun Fitri selalu ceritakan pada Yanto. Semua yang Fitri lakukan dia ceritakan pada Yanto.


“Mas, aku salat dulu ya?”


“Mas, aku maem dulu. Cepet sadar biar kita bisa makan bareng ya?”


“Mas, sekarang gerimis, biasanya kamu suka bau tanah yang baru kena tetes air hujan. Aku ingat itu. Cepat sadar biar kamu bisa menghirup bau kesenanganmu itu ya.”


“Aku pulang dulu ya Mas, ayah dan ibu bilang aku enggak perlu jaga kamu kalau malam selama kamu belum sadar. Nanti aku akan jaga kamu kalau kamu sudah sadar. Sementara kalau malam kamu dijaga Mas Banu atau Mas Aji secara gantian. Mas Banu sudah datang sejak tadi,” lapor Fitri sebelum dia pamit pulang hari pertama di rumah sakit Solo ini.


Tak lupa Fitri mencium punggung tangan suaminya baru dia cium keningnya dan pergi meninggalkan ruang rawat Yanto.


\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok


__ADS_1


__ADS_2