
“Masih ada tempat lain?” tanya Herry
“Nggak Mas, cuma tiga tempat yang barusan saja yang janjian sama aku. Entah kalau ada tempat lain yang kita lewatin. Yang janjian sih cuma tiga tempat itu. Dan biasanya kalau ada yang mau jual sudah tahu nomor teleponku. Mereka akan menghubungiku. Kadang setelah lihat saat videocall aku langsung minta diantar ke rumah sekalian bayar sih,” jawab Timah.
“Kamu sudah bilang sama mobil baknya untuk jemput?” tanya Herry lagi.
“Sudahlah Mas. Tiga tempat ini sekalian diambil. Makanya harus satu kali jalan karena bawa tujuh ekor anak kambing tentu nggak bisa naik motor,” balas Timah sambil memakai helm. Walau hanya seputaran kampung, tetap dia pakai helm agar kulit wajahnya tak terbakar.
“Oke kalau seperti itu. Kita sekarang mau ke mana lagi?”
“Aku pengen nongkrong di kandang deh Mas. Ada nggak ya Mbak Tria di sana? Karena Harry Minggu gini dia suka jalan sama kak Andre,” ucap Timah.
“Ya kamu jangan ganggu lah kalau orang lagi jalan berduaan seperti itu,” ucap Herry pedih.
“Kita kan juga jalan berduaan Mas. Memang siapa yang mau ganggu kalau naik motor?” balas Timah sambil mengeluarkan ponselnya.
__ADS_1
“Aku coba telepon dulu deh,” putus Timah tanpa minta pendapat Herry.
“Datang saja, nggak ada siapa-siapa kok. Kak Andre lagi tanding futsal dan sepertinya tadi Satrio janjian dengan Harry mereka akan nonton karena itu bisa untuk bahan liputannya Harry.
“Oh gitu. Mbak lagi punya program apa dan mau dibawain apa?” tanya Timah.
“Aku lagi mau coba bikin asinan betawi yang pakai bumbu kacang. Kalau asinan bogor kan dia nggak pakai bumbu kacang jadi bening. Nah enaknya tuh pakai kerupuk mie. Tapi aku belum punya kerupuk mienya. Kalau kamu lewatin pasar belikan kerupuk mie ya. Seperempat kilo saja, nggak usah banyak-banyak,” pinta Tria menjawab pertanyaan Timah.
“Bahan asinannya sudah ada semua Mbak?”
“Aku akan cari kerupuk mienya. Minyak goreng kita masih ada tanya?” Timah.
“Masih. Kalau minyak goreng atau apa pun bisalah Mas Pujo nanti lari ke warung. Yang penting kerupuk mienya. Tadi di warung tak ada kerupuk itu,” jelas Tria.
“Oke siap. Aku akan cari,” jawab Timah cepat.
__ADS_1
“Eh, kamu naik apa? Kalau mampir-mampir nggak usah lah. Nanti kamu repot. Kasihan ojek onlinemu,” Tria baru sadar kalau Timah itu tak punya motor walau kalau hanya sekitaran rumah sering bawa motor. Tapi kalau ke kandang tentu tak bisa karena rumah Tria itu di kota. Akan melewati jalan raya dan riskan ditangkap polisi.
“Aku sama Mas Herry karena kami baru saja membayar 7 anak kambing untuk kandang. Di kandangku kan mulai menipis stoknya untuk periode berikutnya. Takutnya iklan kita jalan terus tapi stok nggak ada. Ini aku beli yang baru umur 2 mingguan. Sehingga bisa kita pelihara dan perbesar dengan cepat sesuai dengan pola perawatan kita.”
“Baiklah kalau sama Mas Herry. Jadi aku nggak nyusahin kamu kalau mampir-mampir. Lagian kan dia memang suka kerupuk.”
“Pasti, dia suka kalau beli kerupuk.”
“Dia mah penyuka segala kerupuk. Tapi yang paling disukai yaitu kerupuk kampung yang seperti kemarin. Yang biasa sudah matang beli di pasar itu. Nggak usah kerupuk yang mahal. Hanya kerupuk itu saja. Lebih-lebih kalau cari yang gosong dan bantat, itu kesukaannya.” jelas Timah.
“Sama dengan aku tuh. Kerupuk kampung yang gosong dan bantat itu memang paling enak,” kata Tria yang ternyata satu frequensi dengan Herry kalau soal kerupuk.
“Ya sudah ya Mbak. Nanti aku ke situ sambil bawa kerupuk. Ini aku sudah lagi jalan kok. Semoga ada yang sudah digoreng. Di pasar kadang ada kerupuk mie yang sudah digoreng kok,” kata Timah.
“Oke aku tunggu. Hati-hati,” jawab Tria.
__ADS_1