BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TERJAWAB SUDAH RASA PENASARAN FITRI


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Makan siang kali ini sengaja di teras belakang. Makan siang dengan urapan Lalu ada patin goreng dan belut goreng semua digelar di tikar di halaman belakang dan alas nasi serta yang lainnya adalah daun pisang jadi tidak pakai piring.



![](contribute/fiction/7055660/episode-images/1689937047815.jpg)



“Ayah mau bicara dengan Fitri, Ibu dan Herry,” kata Suradi, setelah selesai prasmanan di kebun.



“Kenapa aku ya?” tanya Herry bingung.



“Nto, ambilkan,” pinta Suradi pada Yanto.



”Injih Yah,” jawab Yanto, dia langsung mengambil 3 map di dalam kamarnya. Fitri tak tahu sudah satu minggu dia menyimpan sertifikat tanah di kamar mereka.



“Ibu, Fitri, Ayah sudah beli tanah di sini. Nanti akan Ayah bangun dan ayah akan tinggal di sini biar dekat dengan Daffa dan Daanish,” ucap Suradi.



“Oh jadi ini proyeknya Ayah sama Mas Yanto diam-diam dari aku,” kata Fitri cepat.



\*‘Alhamdulillaaaah,’ \*puji syukur dalam hati Erlina ucapkan.



“Iya Nduk. Ayah enggak kepengen kamu tahu sebelumnya. Ini memang Ayah belikan buat kamu,” lalu Suradi menyerahkan surat tanah kepada Fitri.



“Kok atas nama aku Yah?” tanya Fitri.

__ADS_1



“Mau pakai nama suamimu dia ngotot tak mau menerima. Mau pakai nama Daffa dan Daanish, mereka belum punya nomor induk kependudukan karena waktu kemarin NIK Daanish kan belum jadi yang di KTP anak-anak itu. Jadi ya sudah pakai KTP mamanya saja. Itu urusan kalian nanti bagaimana pembagiannya. Kali aja anak kalian bukan dua ini tapi tambah lagi,” ujar Suradi.



“Aaamiiin,” kata Yanto.



“Aku berharap juga tambah lagi,” jawab Fitri.



\*‘Yanto mana mau dibelikan tanah, di belikan motor saja dulu tak mau, di belikan mobil tak mau,’ \*ucap Suradi dalam hatinya mengenai prinsip menantunya. Itu sebabnya dulu dia memaksa Fitri menikah dengan Yanto.



“Sekarang Ayah harap Ibu mengerti kalau Ayah akan sering bolak-balik. Nanti Ayah akan sering ke sini karena Ayah akan mulai bangun rumah tinggal kita. Rumahnya enggak terlalu besar, paling hanya dua atau tiga kamar saja Bu. halamannya yang besar karena tempat bermain cucu-cucu,” kata Suradi sambil membayangkan para cucunya bermain di halaman rumahnya kelak.



“Kita sudah punya rumah besar dengan banyak kamar di kota, rumah di sini kamarnya  sedikit aja walau tanahnya besar seluas ini juga.”



“Ayah pengin punya kandang ayam, jadi kita beternak ayam kecil-kecilan buat konsumsi keperluan sendiri aja.”




“Enggak, kita pelihara ayam negeri aja. Cuma yang warna hitam dan merah bukan yang putih,” jelas Suradi.



“Wah,  aku kepengen juga ayam negeri yang itu,” kata Timah antusias.



“Kamu tuh kalau peternakan apa aja kepengen sih?” tukas Yanto pada adik bungsunya.



“Nanti kamu kuliah di fakultas peternakan saja, ambil  kedokteran hewan biar bisa mengobati hewan yang sakit. Jadi nanti kamu bisa punya peternakan besar,”  kata Suradi.


__ADS_1


“Iya Yah, nanti aku jadi dokter hewan yang hebat aja,” kata Timah.



“Aamiin,” jawab Fitri. Dia senang adiknya punya cita-cita yang tinggi.



“Lalu untuk Herry anak Ayah,” kata Suradi, dia tak membedakan bahwa Herry itu bukan anak kandungnya.



“Ayah sudah beli dua tambak ikan, memang sertifikate bukan atas namamu karena dilarang mas Yanto. Tapi semua pengelolaannya pakai namamu Nak. Kamu yang bertanggung jawab, kamu yang atur gaji pegawai, kamu yang atur manajemennya, kamu yang ngatur pola tanam dan pola panennya.”



“Mungkin satu sampai dua bulan ini kamu belajar dulu di tambak yang sudah berjalan. Nanti baru kamu bisa tentukan ikan apa yang ingin kamu tanam di sana. Ayah siapkan kamu 2 tambak,” kata Suradi.



Herry  langsung tertunduk dan meneteskan air mata. Dia tak percaya diberi amanat oleh Suradi seperti itu.



“Kenapa Ayah percaya sama aku? Apa aku mampu?”



“Ayah yakin kamu mampu. Kamu laki-laki, kamu kuat. Timah adikmu yang perempuan saja sudah sejak tahun lalu menggeluti peternakan awalnya tanpa dia tahu apa pun. Sampai sekarang dia mahir. Terlebih kamu yang lebih bisa bereksplorasi bebas,” kata Suradi memompa semangat anak lelakinya.



“Kalau Ayah sudah memberi amanat seperti itu, aku akan jalankan semaksimal mungkin. Aku yakin Ayah enggak akan menyesal memberikan mandat itu ke pundakku,” kata Herry. Dia akan belajar, belajar, dan belajar.



“Matur nuwun Yah,” kata Herry lagi.



Gendis tak bisa menahan isak tangisnya, dia benar-benar terharu mendapatkan keluarga Suradi yang sangat baik pada anak-anaknya. Gendis tak percaya terdamparnya  Yanto di kos-kosannya Suradi malah mendapat jodoh anak majikan dan malah bisa mempunyai usaha sendiri besar seperti sekarang. Bengkel Daffa milik Yanto semakin besar dan mulai banyak berkembang. Modalnya dari hanya punya dua mobil sekarang mobilnya sudah 11.



Timah memeluk Gendis dia tahu ibunya sangat terharu mendapatkan anugerah dari Allah yang sangat besar ini.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.



__ADS_2