
“Loh Kak Andre kok udah sampai? Bukannya sampai sore nanti pertandingannya?” tanya Tria menutup malu disebut dia jodoh dengan Herry. Sedang Herry tak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut kekasih Tria.
“Lawannya nggak datang. Jadi kita dinyatakan menang WO,” jawab Andre. Herry masih terpana dengan kata-kata Andre yang mengatakan kalau dia dan Tria jodoh. Mengapa Andre tidak menyiratkan cemburu? Saat itu masuk juga Satrio dan Harry.
“Loh kalian ada di sini juga?” kata Satrio. Dia tak menyangka ada Herry. Karena tak ada chat di group.
“Iya aku bikin asinan betawi dan Timah bawa kerupuk mie.”
“Wah ada asinan sayur? Aku mau,” kata Harry cepat.
“Nah gitu dong kamu berpendapat. Ayo kita ambil ke belakang saja,” ajak Satrio.
“Ambilkan Kakak juga Sat,” kata Andre.
“Iya Kak, aku ambilkan mangkoknya saja karena nanti semuanya ambil sendiri di meja. Aku bawa semuanya di meja biar ngambil sesuai dengan keinginannya sendiri,” kata Satrio.
“Timah mana?” tanya Harry.
__ADS_1
“Timah sibuk dengan mas Pujo di belakang,” jawab Herry
“Enak banget ya. Seger, ini enak,” kata Andre saat dia mencicipi asinan buatan Tria.
“Kamu makin pinter saja. Benar-benar siap nih jadi istrinya Herry,” ucap Andre tak terduga.
Herry dan Tria berpandangan lalu Herry memandang Andre.
“Kok jadi istri aku?” kata Herry. Sedang Harry tersenyum mendengar kata-kata itu. Dia setuju banget sahabatnya jadian dengan Tria.
“Kakak tuh suka ngaco saja deh kalau ngomong. Nanti orang mengira aku yang enggak-enggak. Aku takut orang salah duga seperti dulu pada saat Totok asal telan saja info kalau aku dan Herry pacaran dan akhirnya malah bahaya.”
“Kami masih SMA Kak. Nggak usah macam-macam,” protes Tria selanjutnya.
“Bukannya kakaknya Herry yang laki-laki juga masih SMA ya waktu dia suka sama Mbak Fitri? Mereka nggak apa-apa tuh sampai sekarang awet saja. Nggak usah dipikirin soal itu. Kalau memang jodoh walau sejak SMP pun nggak masalah,” kata Andre.
“Banyak kok yang pacaran sejak SMP. Mama dan papa aku sejak SMA. Dan sampai sekarang awet saja. Jangan berpikir dengan batasan yang kamu buat sendiri, karena itu tak berlaku untuk ketentuan yang Allah bikin atau Allah gariskan,” nasihat Andre dengan bijak.
__ADS_1
“Udah Kakak, nggak enak nanti dikiranya aku yang macam-macam. Padahal aku sudah mengikuti keinginan mas Herry lho. Bahwa aku hanya boleh berteman dengan dia,” ucap Tria tak sadar menyebut ketentuan Herry dulu.
“Cie … panggilannya saja udah MAS. sudahlah akui saja kalau kamu memang masih tetap suka sama dia,” goda Andre.
Herry makin tidak mengerti bagaimana mungkin kekasihnya Tria malah jodoh-jodohin dia dengan Tria.
‘Masih tetap suka? Apa selama ini dia sengaja menghindar agar aku tak marah padanya?’ pikir Herry.
“Kak Andre aku bilangin mama nih,” rajuk Tria.
“Tuh kan, kalau kamu sudah bilang begitu berarti kamu malu kan? Kamu kalah nggak bisa debat kan?” kata Andre lagi.
Satrio dan Harry hanya senyum-senyum mereka menikmati asinan mereka sambil mendengar debat Tria dan Andre.
“Eh aku ke belakang ya. Aku mau lihat Tria kata Harry setelah asinannya habis.
“Tapi mangkokku biarin di sini saja. Nanti aku pakai lagi untuk session kedua,” ucap Harry selanjutnya.
__ADS_1
“Kamu tuh sudah mulai kelihatan ya rakusnya,” ejek Satrio.
“Ya aku kenyataannya seperti ini, katanya nggak boleh malu-malu. Harus jadi diriku sendiri,” balas Harry.