BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KESUKAAN MAS YANTO


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



"Itu apa ya Dek?" Tanya Fitri melihat orang berkumpul.



"Itu lagi panen ikan ditambak Mbak,"



"Panen ikan apa?" Fitri penasaran.



"Hari ini panen ikan patin Mbak,  kemarin lalu habis panen ikan lele," jawab Timah.



"Kita lihat yuk Dek," ajak Fitri. Dia ingin melihat orang panen ikan.



"Wah gede-gede ya Dek."  Ucap Fitri melihat ikan yang sedang di serok setelah air di surutkan.



"Iya Mbak."



"Itu boleh dibeli Dek?"



"Ya boleh wong *jenengane* dipanen kan mau dijual," jawab Timah.



"Sana beli 2 kg Dek,” Fitri memberikan satu lembar uang merah pada Timah.



Timah segera mendekati yang bagian menimbang dan dia membeli 2 kg.



"*Kanggo sopo Nduk*?" Tanya pemilik Tambak.



"*Niku majikane mas Yanto rawuh, nyuwun tumbas Pakde*,” jawab Timah, dia bilang majikannnya Yanto yang minta dibelikan,



\*"Katahan niku \*( itu kebanyakan ) Pakde," protes Timah karena pemilik tambak menimbang 3 kg. Dia bilang kebanyakan.



"*Rapopo Nduk. Lewihe nggo kowe yo cah ayu*," jawab pemilik Tambak. Dia bilang tak apa apa, kelebihannya untuk Timah.



"*Nggih Pakde matur nuwun*," kata Timah dia pun membayar sejumlah harga 2 kilo yang diminta tadi.

__ADS_1



"Wah banyak ya Dek. Sini Mbak bawa, berat itu," Fitri minta dia yang membawa ikan itu.



"Enggak apa apa Mbak, aku biasa belanja owg," sahut Timah.



"Kita bawa pulang ya. Kamu maem pakai itu," kata Fitri.



"Ini *iwak* ( ikan ) kesenengane Mas Yanto. Entah digoreng *tok* atau di pepes atau dimasak kuah asam  pedas. Pokoknya Mas Yanto senang iwak patin.  *Tinimbangane* ( daripada ) lele." Timah menjelaskan kesukaan kakaknya.



"*Opo iwak* enak dimasak kuah Dek?" Fitri hanya tahu ikan patin digoreng saja.



"Enak Mbak, tapi yo sekarang kita jarang beli nek nggak dikasih pas orang panen gini. Saat orang panen banyak ikan yang besarnya  nggak sesuai dengan berat lainnya, lalu dibagi-bagikankan buat tetangga sekitar rumah."



"Nah saat itulah kami makan ikan lagi," jelas Timah tanpa beban. Sejak dia mengerti tentang hidup, dia langsung merasakan kesusahan. Jadi dia tak kaget.



'*Rupanya kehidupan setelah ayahnya meninggal memang sangat jauh berbeda karena tidak ada income lagi*.' batin Fitri.


\*\*\*



"Loh ini dari mana?" tanya Gendis saat Timah dan Fitri datang.




"Alhamdulillah. Kamu udah bilang matur nuwun sama Pak Parman?" Gendis selalu mengajarkan semua anaknya tahu bersyukur.



"Sampun Bu,"  Timah tentu tak akan melupakan ajaran ibunya.



"Herr, ambil daun pisang dua pelapah yo Le," perintah Gendis.



Timah mengerti tanpa disuruh dia lari ke kebun memetik daun kemangi sebanyak mungkin.



"Buat apa Dek?" Fitri mengikuti ke mana Timah pergi.



"Buat pepes Mbak pokok enak deh. Nanti ta’ kasih tahu enak tenan," Fitri tersenyum aja mendengar Timah berceloteh dengan senang.



Sementara Yanto sedang sibuk membetulkan semua yang perlu dibetulkan kalau dia pulang.  Memang begitu setiap dia pulang.  Ada saja yang dia betulkan atau dia buat.

__ADS_1



Kadang memaku kursi atau meja yang reyot. Membetulkan keran air atau menambal panci bocor. Pokoknya ada aja yang dikerjakan Yanto kalau dia pulang kampung.



Saat ini dia sedang menambal panci pakai timah.



"Sedang apa tho?"



"Ini loh pancine bocor."



"Bukannya ada kertas seperti alumunium yang suka di jual di pasar itu loh. Kan praktis."



"Ada tapi nggak tahan lama mending aku bawa pakai alat solder ku sendiri gini. Lebih tahan lama," Yanto memang membawa alat-alatnya di tas miliknya dia sudah tahu bahwa akan membetulkan panci-panci bocor milik ibunya.



"Habis dari mana?" Tanya Yanto tanpa memalingkan wajah dari timah panas di ujung solder.



"Jalan-jalan ke tambak sama lihat-lihat sawah.''



"Harusnya tadi pakai payung atau pakai topi, kamu kan bukan orang desa, nggak biasa panas."



"Aku sudah pakai sunblock kok jadi aman nggak apa-apa kena panas matahari," kata Fitri.



"*Karepmu*," pelan  Yanto bicara. Kalau bicara ke orang yang lebih tinggi derajatnya tentu tak berani menggunakan kata-kata itu.



Makan siang itu Herry dan Timah sangat senang karena mereka bisa makan sepuas-puasnya ikan yang ibu masak.



"Enak tho Mbak?" Timah menanyakan pendapat Fitri masakan ibunya.



"Enak banget Dek, aku baru ngerasain ini rupanya patin di pepes enak tenan. Biasanya kan kalau di rumahku cuma digoreng aja nggak pernah dimasak seperti ini," Fitri berpendapat soal masakan yang terhidang.



"Patin ini dibakar ya enak kok. Mau dibakar biasa atau  digoreng lalu kecapi jadi kayak ikan bakar yo bisa. Atau di bikin kuah asam pedas itu enak." Jelas Gendis.



"Wah besok simbok di rumah *ta*' ( saya ) suruh bikin deh," Fitri berniat minta pembantu di rumah memodifikasi cara masak ikan patin. Selama ini di rumahnya patin hanya di goreng saja.



“Nek yang nggak ngerti ya memang umumnya hanya digoreng tok," kata ibu Gendis.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok



__ADS_2