
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
"Alhamdulillah akhirnya boleh pulang juga," kata Bu Erlina. Hari ke lima Pak Suradi sudah boleh kembali pulang dia sudah dinyatakan sehat dan tinggal berobat jalan saja.
"Ada barang yang ketinggalan enggak?" Erlina bertanya pada Bambang yang sedang beberes kamar.
"Sudah nggak ada Bu. Laci-laci, kamar mandi dan semua sudah saya cek kosong semua." kata Bambang. Mereka akan kembali pulang ke rumah.
"Kamu kapan mulai kerja mBang?" tanya Pak Suradi di mobil. Bambang yang selama ini jaga malam di rumah sakit menyopiri mereka untuk kembali ke rumah.
"Hari Senin pas tanggal 1 Pak. Katanya biar perhitungan gajinya mudah," jawab Bambang sambil memindah gigi karena baru akan jalan lagi sehabis berhenti karena kena lampu merah.
"Yang bener kalau kerja mBang," nasihat pak Suradi yang merasa sayang pada Bambang seperti pada anak sendiri.
"*Nggih* Pak," Bambang senang diberi nasihat, artinya dia diperhatikan.
\*\*\*
Hari Senin, Bambang mulai menjadi montir dia bekerja lima hari kerja jadi Senin sampai Jumat kerja, lalu libur satu hari dan hari Minggu nya masuk lagi sampai hari Kamis, hari Jumat libur, lalu hari Sabtu masuk lagi lima hari, begitu seterusnya.
Jadi disebutnya system 5-1.
Tahun terakhir kuliah, Fitri bawa mobil sendiri karena dia mengancam tak mau melanjutkan kuliah bila masih diantar sopir. Sebelumnya pak Suradi memang akan mencarikan sopir pengganti untuk Fitri.
\*\*\*
Sudah enam bulan Bambang kerja di PO, dia mulai mencari kesempatan untuk jadi sopir. Tahapnya adalah menjadi asisten sopir dulu.
"SIM B1 mu sudah ada mBang?" tanya staf HRD.
__ADS_1
"Sudah Pak."
"Oke kamu sudah mulai bisa jadi sopir cadangan. Mulai lusa kamu saya jadwalkan untuk Solo ~ Wonosobo ya."
"Iya Pak, terima kasih." Bambang sangat suka cita bisa mulai menjadi sopir cadangan. Tidak jadi montir lagi.
\*\*\*
"Bang besok hari Sabtu kamu libur enggak?"
"Saya sudah tidak jadi montir Bu. Karena saya sudah jadi sopir. Sekarang masih sopir cadangan Solo ~ Wonosobo.” Bambang menjawab pertanyaan bu Erlina. Rupanya bu Erlina tak memperhatikan kalau sekarang Bambang bukan berangkat jam 08 pagi dan pulang jam 06 sore, melainkan berangkat sebelum subuh agar bisa narik yang terpagi dan kadang pulang jam 8 atau 10 malam.
"Wah hebat, cepat juga prosesmu."
"Ada apa Bu tanya saya libur atau tidak?" Bambang tahu bu Erlina pasti butuh bantuan bila bertanya seperti itu.
“Kalau bisa hari Sabtu ngancani ke rumah sakit, jadwal bapak berobat. Sopir rumah pas mau khinatin putranya jadi enggak mungkin antar bapak.”
\*\*\*
"Tak terasa kamu sudah kerja di PO itu satu tahun ya mBang," Erlina ingat satu tahun ini Fitri tak disopiri oleh Bambang tapi bawa mobil sendiri.
"Injih Bu ini sudah sebelas bulan," kata Bambang.
"Sekarang kamu masih di Solo ~ Wonosobo?" tanya Pak Suradi. Mereka sedang dalam perjalanan menuju gedung wisudanya Fitri. Bu Erlina memang meminta Bambang sejak minggu lalu untuk mendampingi Fitri di hari wisudanya. Bukan hanya sekedar mengantar mereka saja.
"Enggak Pak. Saya sudah bawa bus Solo ~ Purwokerto dan sudah bukan sopir cadangan tapi sopir batangan.”
"Wah sudah mulai jauh jarak tempuhmu," puji Suradi.
__ADS_1
"Iya Pak, saya lagi ngincer posisi Jogja ~ Jakarta atau Jogja ~ Bogor," Bambang memberitahu impiannya saat ini.
"Terus kalau dari kamu bawa bus dari Jogja berarti kamu nanti tinggal di Jogja?" tanya Erlina penasaran. Fitri hanya mendengarkan saja.
"Iya Bu, saya memang akan pindah Jogja bila memang posisi bus yang saya bawa nanti Jogja ~ Jakarta atau Jogja ~ Bogor atau Jogja ~ Bandung."
\*\*\*
Acara wisuda Fitri berlangsung lancar.
"Mbang, kamu dampingi mbak Fitri." Suradi meminta Bambang mendampingi Fitri saat bersalaman dengan teman-temannya.
"Kenapa saya jadi pendamping Pak?"
"Wis tho, tinggal diem aja," bisik Erlina.
"Fit, iki calonmu po?"
"Iya."
Bambang kaget mendengar pengakuan Fitri kalau dia adalah calonnya.
'Rupanya kalau sudah wisuda tidak ada pendamping tak ada harganya, makanya aku dijadikan sebagai pendamping pura-pura.'
Bambang hanya tersenyum saja.
\*\*\*
Bambang makin tekun setelah menjadi sopir Solo ~ Purwokerto. Penghasilannya cukup banyak dan dia bila habis turun istilahnya sehabis pulang dari Purwokerto, libur 2 hari dia akan langsung pulang ke desa istirahat di rumah ibunya.
Bambang tak pernah liburan di rumah kost. Dari rumah ibunya dia langsung ke kantor PO untuk berangkat lagi ke Purwokerto begitu seterusnya. Dia tidak membuang waktu untuk tiduran di kamar kost seperti dulu.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok