BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
PEMILIK DETAK KEHIDUPAN


__ADS_3

Tengah malam Yanto mendengar ada isak tangis di sebelahnya tentu dia merasa terganggu dan segera bangun dia melihat istrinya sedang menangis sambil memeluk kedua lututnya, posisinya tidak sambil tidur tapi sambil berbaring miring


“Ma … Ma,” ulang Yanto. Dia mengguncang pelan lengan istrinya dengan lembut. Dia lihat wajah wanita yang sangat dia cintai pucat pasi seakan ketakutan yang teramat sangat dan bulir keringat terlihat di kening dan leher istrinya.


Yanto mengusap keringat tersebut, dia merasakan istrinya keluar keringat dingin.


“Bangun Ma, bangun,” Yanto menepuk lembut pipi Fitri agar istrinya terbangun.


Fitri membuka mata kaget, dia memandang suaminya dengan sinar mata ketakutan sambil menggeleng dan tak lama Fitri terkulai. Pingsan!


“Yank, Yank!” seru Yanto panik memanggil istrinya. Dia tepuk-tepuk kembali pipi istrinya untuk membuat Fitri tersadar. Tapi Fitri tetap tak meresponnya.


Yanto mengambil colonge milik Daanish, dia cium-cium kan di hidung Fitri agar istrinya cepat sadar. Dia usap kening dan pipi Fitri menggunakan colonge tersebut tetap saja perempuan yang mungkin tadi sedang bermimpi ketakutan itu tak bisa bangun.


“Bangun Ma. Bangun. Jangan bikin Papa tambah merasa bersalah. Bangun Ma,” Yanto mulai terisak. Sejak kemarin dia merasa siap berpisah dengan istri tercintanya itu. Tapi sekarang melihat Fitri pingsan seakan tubuhnya tak punya tulang.


Yanto super lemas dan ketakutan. Tak bisa terbayangkan hidup tanpa helaan napas Fitri.

__ADS_1


“Bangun Yank. Cuma kamu yang ada di hatiku. Enggak ada siapa pun. Bangun Ma. Aku cuma sayang kamu,” bisik Yanto sambil menciumi tubuh dingin istrinya.


‘Bila aku bangunin ibu karena kondisi Fitri seperti ini, nanti dikira aku ngapa-ngapain dia lagi. Padahal karena dia mimpi aku bangunin dia langsung pingsan,’ batin Yanto kebingungan.


Yanto pun mencoba mengambil minyak kayu putih. Sudah lebih dari 40 menit Fitri belum juga sadar. Tubuhnya makin dingin. Yanto menggosok perut dan d4da Fitri menggunakan minyak kayu putih. Dia pun menyodorkan botol minyak kayu putih di dekat hidung Fitri agar Fitri bisa menghirup bau minyak kayu putih tersebut. Perlahan Yanto melihat Fitri mulai sadar.


“Alhamdulillaaaah,” Yanto menciumi pipi, mata dan kening Fitri dengan lembut seperti biasa. Dia lupa ketegangan yang telah terjadi sejak kejadian Tini. Dia tak mau kehilangan pujaan hatinya. Dia peluk erat pemilik detak kehidupannya.


“Kamu kenapa Yank?” tanya Yanto pelan dengan nada khawatir. Fitri melihat masih ada sisa air di sudut mata suaminya.


“Enggak apa-apa,” jawab Fitri pelan sambil menunduk.


“Please jujur apa yang kamu pikir dan apa yang kamu impikan?” desak Yanto.


“Mama cuma mikirin apa yang Papa bilang bahwa Papa akan membiarkan apa yang Mama mau. Bahkan Mama juga sudah tahu dari ayah kalau Papa bilang bila Mama mau pisah, Papa tidak akan menahan, karena itu bentuk cinta Papa. Dan Papa bilang ke ayah, Papa ingin Mama bahagia.”


“Dan Mama mimpi kita berpisah, bukan karena kemauan Mama, tapi karena Papa sudah ada yang lain. Mama lihat Papa di kursi pelaminan. Mama datang bawa anak-anak ke pesta pernikahan Papa,” Fitri bercerita sambil tersedu.

__ADS_1


“Sstttt, itu tak akan mungkin terjadi. Cinta Papa cuma punya kamu dan anak-anak,” Yanto mendekap istrinya erat. Dia ciumi puncak kepala Fitri.


Fitri balas memeluk erat suaminya. Ada kehangatan yang dia rasakan setelah beberapa saat menghilang.


“Keinginan Mama cuma satu. Kita selalu bersama selamanya. Tapi Papa selalu menjauh seakan tak mau lagi memaafkan Mama,” isak Fitri belum reda.


“Jujur itu yang bikin Mama takut. Mama enggak mau pisah sama Papa. Mama tahu selama ini Mama egois. Mungkin karena terbiasa jadi anak tunggal, Mama tak ingin berbagi apa pun. Sampai Mama enggak mau dengar cerita Papa soal Tini sama sekali. Dan sedihnya Papa juga tidak mau lagi bahas masalah Tini karena itu menyakitkan buat Papa.”


“Bagaimana enggak nyakitin kalau Papa merasa Papa itu dituduh selingkuh, padahal Papa sama sekali enggak selingkuh?” Yanto mengungkapkan apa yang dia rasa.


“Kesalahan Papa di tata usaha sekolah adalah Papa terbawa ke masa lalu. Papa merasa Papa dan Tini itu masih anak-anak. Masih SD, sehingga tak berpikir bahwa interaksi tubuh kami itu adalah interaksi orang dewasa. Papa pikir saat itu Papa adalah anak SD yang bermain dengan taman seumuran. Itu kesalahan fatal Papa.”


“Tapi Mama enggak mau dengar penjelasan Papa. Mama beranggapan bahwa semua itu Papa lakukan karena Papa dekat dengan Tini, bahkan Mama berpikir di tempat umum aja kami bisa seperti itu apalagi di tempat khusus yang tak ada orang.”


“Itu sangat menyakitkan, saat ketahuan bersama Yani dulu tidak sesakit ini. Karena saat dengan  Yani, Papa punya Burhan sebagai saksi sejak awal saat Papa dikasih minum sampai nikah.”


“Segala macamnya ada Burhan yang bisa membela Papa sebagai saksi hidup. Sedang waktu Tini, Papa enggak punya saksi untuk bela diri. Itu yang bikin Papa terpuruk.”

__ADS_1


“Makanya Papa juga enggak ingin bahas itu lagi. Cukup rasa sakit yang sudah Papa rasakan.”


__ADS_2