
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kok aku kepengen belut ya,” kata Yanto sambil makan nangka.
“Belut apa belut sawah atau belut budidaya?” tanya Fitri, katanya beda antara belut sawah dan belut budidaya.
“Belut budidaya aja, yang gendut-gendut digoreng yang enggak garing,” kata Yanto.
“Semoga besok pagi ada ya di pasar. Kalau hari gini nyari ya sulit,” jawab Fitri hati-hati. Dia takut memancing emosi suaminya.
“Enggak Papa cuma ngomong aja kok,” jawab Yanto. Rupanya dia berupaya meredam keinginannya agar tak merepotkan istrinya.
“Coba aku tanya ibu, ibu kan sore ini mau ke sini sama adik-adik nginep. Kali aja sepanjang jalan ada yang jual belut budidaya yang gendut-gendut,” kata Fitri.
“Nek deket kampung ada Yank, pas mau keluar kampung ada peternak belutnya,” kata Yanto.
Tanpa menunda Fitri langsung menelpon Herry, tadi sopirnya sudah berangkat menjemput ibu Gendis dan adik-adik.
“Kamu di mana Dek?” tanya Fitri.
“Ini baru aja mau berangkat Mbak. Ibu lagi ngunci pintu,” jawab Herry
“Tolong ya Dek mampir ke peternakan belut, nih kamu ngomong sama masmu aja, biar lebih jelas ya,” Fitri memberikan ponselnya ke Yanto untuk bicara dengan Herry.
“Itu loh peternakan belut’e Pak Mahmud ngerti ra?” tanya Yanto pada adiknya.
“Ngertos Mas,” Herry menjawab kalau dia tahu peternakan yang Yanto maksud.
“Minta yang gendut-gendut bukan yang masih kecil. Yang gede-gede sekali. Belikan 2 kilo, bilang ibu, nanti Mamas ganti ya uangnya,” pesan Yanto.
“Injih Mas. Mau langsung dibersihin, dipotongin atau bagaimana?” tanya Herry.
__ADS_1
“Resiki sama dipotong di sana aja, kepala dan ekornya buang aja enggak usah dibawa ke sini,” kata Yanto mewanti-wanti adiknya.
“Ya nanti tak bilang sama Pakde Mahmud suruh langsung diresiki,” jawab Herry.
“Alhamdulillah ya Pa, langsung dapet,” kata Fitri mendengar apa yang diinginkan suaminya dapat.
“Untung ibu belum berangkat saat Mas ngomong kepengin belut budidaya,” ucap Fitri.
“Mau dimaasak apa?” tanya bu Gendis.
“Aku cuma pengen digoreng aja Bu enggak usah dimasak apa-apa, tapi jangan garing, aku nggak mau kalau garing,” kata Yanto.
“Lalu bikin sambel matah aja. Sambal bawang putih tanpa terasi atau tomat.”
“Ya wis,” kata Bu Gendis, memang dia yang tadi beli dia juga mengingatkan agar tidak dibawa kepala dan ekornya karena nanti Yanto bisa marah.
Itu persis seperti kehamilannya Herry, suaminya rewel seperti Yanto. Padahal suaminya bukan type seperti itu.
Menu makan malam kali ini adalah menu yang tadi di siapkan oleh simbok ditambah keinginan Yanto yaitu belut goreng dan sambal matah.
Semua suka dengan menu tersebut ditambah ada lalapan lain. Fitri makan dengan lahap.
“Kamu suka Ma?” tanya Yanto.
“Iya, ternyata belut tuh enak ya kalau nggak garing. Karena ada dagingnya. Biasanya kalau yang di pasar itu kan enggak ada isinya jadi aku suka malas,” jawab Fitri.
“Yang di pasar itu kan belut sawah jadi enggak gemuk-gemuk. Bukan belut budidaya,” kata Pak Suradi.
“Belut kecil memang dibikin kering seperti keripik.” jelas Erlina.
__ADS_1
“Iya, aku enggak suka,” kata Fitri.
“Kalau gini, aku suka nih. Tapi jauh banget nyarinya, harus pesan ke sana,” kata Fitri lagi.
“Sopirnya kan sudah tahu, besok-besok tinggal beli sendiri kan bisa kalau memang kepengin,” kata Bu Gendis.
“Oh iya ya,” jawab Fitri.
“Tapi wong tinggal satu langkah ke rumah Ibu, masa enggak ke rumah Ibu ngapain juga coba?” kata Fitri sambil mengambil lagi sepotong belut.
“Nanti ya Bu, sekalian aku mau ke tambak. Aku kepengen makan pepes patin yang baru matang enggak pakai nasi,” kata Fitri.
“Kalau Mas Yanto sudah agak enakan kita ke desa mau ke tambak,” kata Fitri lagi.
“Ya, nanti kalau aku sudah agak sehat ya,” kata Yanto.
“Kalau mau sih aku sekarang juga mau, tapi takut malah lebih bahaya,” ujar Yanto.
“Sabar Nto,” Kata Erlina.
“Kalau sudah sehat kamu boleh ngapain aja kok, satu minggu ini kan kamu nggak boleh banyak gerak.”
“Sebenarnya enggak gerak gitu jadi sakit loh Bu, enggak enak. Awakku ( badan saya ) kalau suruh diam aja malah sakit,” kata Yanto mengeluh.
“Iya sih, memang Ibu juga ngerasain karena terbiasa kerja. Kalau suruh diam memang kita sakit, tapi daripada kita lebih parah lagi mending ngikutin anjuran dokter,” kata Gendis yang sangat mengerti alasan putra sulungnya.
“Kamu boleh naik sepeda kan? Ya kamu naik sepeda aja di sekitaran rumah,” saran Suradi.
“Enggak, besok ta’ bongkar-bongkar motor wae, cuma iseng duduk ‘kan enggak berat karena enggak ngapa-ngapain. Enggak bikin capek. Bongkar mesin motor enggak capek,” Yanto menyatakan tekadnya.
Yanto ingat ada satu motor lama yang rusak sudah lama dia ingin betulkan tapi waktunya selalu padat terlebih setelah dia tinggal di Jogja. Jarang pulang ke Solo sehingga belum juga dibetulkan. Besok dia akan membetulkan motor tersebut.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok.
__ADS_1