
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
"Mas Yantoooooo," pekik Fatimah atau Timah melihat sosok yang turun dari mobil di depan rumah mungilnya.
"Kok Yanto?" Fitri bingung.
"Nama saya Bambang Putranto jadi dipanggilnya kalau di keluarga itu Yanto." Sahut Bambang.
"*Oh ngono*. ( oh begitu )"
"Mbak kan juga gitu, saya dengar di kampus pada nyeluk ( manggil ) dengan nama Diah kan? Tapi di rumah dipanggil Fitri."
"Mulai saat ini aku manggil kamu Yanto aja," Fitri ingin mengubah panggilannya untuk Bambang.
"Eh, uh," Bambang jadi serba salah sendiri dan tak bisa bicara. Dia membawa tasnya keluar serta bawaan Fitri untuk adik-adiknya.
"Enggak apa-apa kan?" Fitri memastikan mendapat izin dari pemilik nama.
"Enggak apa-apa kok. Mau dipanggil apa pun boleh," balas Bambang. Dia menerima pelukan adik kecilnya.
"Aku merasa jadi spesial karena itu kan panggilan keluargamu toh. Aku merasa jadi keluarga dekatmu." Fitri pun mengikuti langkah Yanto.
"*Injih* Mbak," kata Bambang.
"*Loh karo sopo Nang*?" Gendis keluar rumah karena ada mobil berhenti didepan gubuknya. Gendis bertanya kamu dengan siapa?
"Ini putrine ibu kost Bu. Dia pengen tahu suasana kampung, saya dipinjemi mobil suruh antar biar Mbak e jalan-jalan. Ini mobilnya beliau," kata Yanto.
Fitri memberi salim pada ibunya Yanto dengan sopan.
"Ini Mbak bawa oleh-oleh untuk kamu. Bukunya bagi dua ya Dek," kata Fitri.
"*Matur nuwun* Mbak," kata Timah.
"Mbake e ayu tenin ( mbaknya cantik sekali ),” puji Timah. Dalam bahasa Jawa TENIN itu diatas TENAN, mungkin bisa dipadankan cantik dan cantik sekali kalau dalam bahasa Indonesia.
"Ah kamu tuh bisa."
"*Tenan owg, mbak e ayu*," balas Timah lagi.
__ADS_1
"*Monggo pinarak*," kata bu Gendis memepesilakan tamunya masuk ke dalam gubuk kecilnya.
"Bu. Jangan seperti itu. Saya kan anak kecil buat Ibu jangan pakai bahasa tinggi seperti itu ya. Gunakan bahasa biasa saja Bu," pinta Fitri karena ibunya Yanto bicara seakan pada majikannya.
"*Monggo lenggah*," kata Gendis lagi. Dia bersiap membuatkan minum bagi tamunya.
"Enggak usah repot-repot," Fitri tak enak merepotkan.
"Dimakan dengan roti yang tadi dibawa Mbak. Mbak kan belum sarapan." Yanto mengingatkan kalau mereka berangkat tadi belum isi apa pun.
"Eh iya, yok sarapan. Ini cuma ada ubi rebus," ajak Gendis.
"*Injih* Bu. Monggo, tambah ini dek Timah," Fitri mengeluarkan roti yang tadi dia bawa untuk perjalanan. Tapi karena tehnya terlupa maka Yanto bilang nanti dimakan di rumahnya saja.
"*Wis rampung Le* ( sudah selesai nak )?" Tanya Gendis pada Herry yang baru masuk rumah.
"*Sampun* Bu," jawab Herry yang tangannya masih basah karena baru cuci tangan.
"Dari mana?" Tanya Yanto.
"*Resik-resik* ( bersih-bersih ) mushola Mas," jawab Herry. Dia mendapat upah 5 kg beras setiap minggu sehabis membersihkan mushola seminggu sekali.
"Ini roti Dek," tawar Fitri. Dia sendiri sejak tadi malah makan ubi rebus saja.
"Aaa," perintah Yanto menyodorkan roti di mulut Fitri. Fitri memandang mata Yanto lekat. Tapi dia tak menolak disuapi Yanto.
"Dari tadi koq malah cuma makan ubi aja," protes Yanto.
"Enak owg," jawab Fitri.
"Makanan kampung Den," sahut Gendis.
"Bu, jangan panggil Den. Panggil nama saja," protes Fitri.
"*Njih* Mbak." Tak enak bila langsung menyebut nama, maka Gendis menyebut Fitri dengan panggilan Mbak.
"Enggak usah repot, saya cuma mau jalan-jalan di sini. Yanto biarin aja berkegiatan seperti biasanya saat saya enggak ikut. Saya nggak usah dihiraukan. Enggak apa apa kan saya yang ikut. Jangan terhalang karena kehadiran saya."
"Enggak kok Mbak nggak repot," kata Yanto.
__ADS_1
"Aku cuma kangen Ibu aja karena Ibu udah sering sakit."
Sebenarnya tujuan utama Bambang datang adalah mengantarkan gajinya sebagai sopir Mbak Fitri karena dia kan dapat gaji cukup banyak enggak serabutan lagi tiap bulan.
Satu pertiga gajinya dia serahkan pada ibunya untuk berobat dan hidup sehari-hari serta untuk sekolah kedua adiknya. Satu pertiga untuk kebutuhan hidupnya dan sisanya dia tabung.
Sejak punya penghasilan, Yanto memang mengalokasikan sepertiga pendapatannya untuk di tabung. Yanto punya cita-cita tinggi yaitu punya usah jual beli mobil bekas dengan kondisi mesin yang prima. Jadi dia akan service dulu mobil yang dia beli, baru nanti dia jual.
"Timah kita jalan-jalan yuk," ajak Fitri pada Timah.
"Ayo Mbak." Fitri dan Timah jalan-jalan di seputar desa. Tentu saja orang-orang pada takjub melihat kecantikan Fitri.
"Wah Mbak ini kepanasan. Mestinya tadi pakai payung atau *nganggo* topi," Timah melihat Fitri bercucuran keringat.
"Alah nggak apa-apa Dek. Biasa owg," jawab Fitri santai.
"Tapi kan jadi *kemringet* ( keringetan ) gitu," kata Timah.
"Ya nggak apa apa nek *kemringet*," kata Fitri, dia mengeluarkan satu pak tissue dari sling bagnya.
Fitri menyodorkan tissue pada Timah gadis kecil itu langsung mengelap keringatnya.
"Seneng ya Dek suasana di sini tentram."
" Iya Mbak dulu bapak punya sawah, pas Bapak sakit semuanya dijual kata Mas Herry. Aku sih belum ngerti wong aku masih kecil. Terus semuanya udah nggak ada. TV ya nggak ada semuanya dijualin Ibu buat berobat Bapak." Cerita Timah pada Fitri.
"Terus selama ini Ibu buruh tani?" tanya Fitri.
"Mboten Mbak, ibu itu buruh cuci sama bu Dukuh. Pokoke di rumahnya bu Dukuh, ya nyuci, nyetrika dan resik-resik. Pembantu rumah tanggal lah. Pergi pagi pulang siang. Setiap hari Minggu libur."
"Nah sekarang ibu udah sakit-sakitan. Makanya Mas Yanto sering pulang ngasih uang. Mas Yanto yang sekarang cariin uang sekolah aku sama uang sekolah Mas Herry."
"Uang gaji Ibu tuh buat maem kami aja. Sekarang mending mas Herry dapat beras tiap hari Minggu karena resik-resik mushola."
'*Segitu beratnya beban hidupmu. Pantas kamu sama sekali enggak ingin melirik bangku kuliah. Karena akan mengurangi waktumu buat cari makan*.' Fitri baru tahu alasan Yanto sebenarnya tak ingin kuliah.
"Oh gitu ya."
"Kemarin juga ibu habis sakit. Makanya mungkin Mas Yanto sekarang datang karena mau nyuruh Ibu berobat. Biasanya Mas Yanto habis dateng langsung Ibu besoknya berobat," kata Timah dengan polosnya.
'*Oh pantes dia ngotot ingin pulang ternyata mau antar uang*.'
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok