
“Aku bikin filenya loh Mbak,” kata Tria.
“Maksudmu file bagaimana?” tanya Fitri karena dia tahu yang dipanggil Mbak oleh Tria di rumah ini adalah hanya dirinya.
“Aku simpan di plastik klip kecil setiap hasil masakanku. Aku kasih nama pakai spidol permanen. Aku buat tulisan 1, 2, 3 dan seterusnya. Jadi aku bisa compare. Setelah dapat yang fix aku rasakan dan benar Mbak jauh beda. Jadi sengaja aku simpan terus aku compare saat semuanya sudah berakhir. Bukan compare tiap saat karena kan kita nggak tahu bedanya.” ucap Tria.
“Wah keren tuh. Ayah salut kamu bikin seperti itu,” puji Suradi.
“Iya Yah untuk bedakan masakan pertama dengan masakan ketiga atau masakan kelima, kan juga kalau hanya diingatan nggak akan mungkin pas. Jadi aku bikin compare file seperti itu. Aku masukkan di plastik klip dan kuberi tulisan dengan spidol permanen,” jawab Tria yang telah biasa memanggil ayah untuk Suradi. Satrio yang baru bergabung di keluarga itu masih menyebut dengan panggilan bapak.
“Pokoknya kulkas sekarang seperti laboratorium kimia, Pak,” kata Satrio sambil tertawa.
“Awas ya Dek. kamu tu ganggu aku terus,” ucap Tria yang sekarang juga terbiasa menyebut dek untuk Satrio.
“Aku mau masukin jus buatanku Mbak, tempatnya sudah full,” kata Satrio mengadu pada Fitri.
__ADS_1
“Eh iya, Satrio sekarang sudah bikin jus loh buat konsumsi kami. Memang nggak sebanyak di sini sih. Cuma setiap macam dia bikin 4 botol. Kemarin baru bikin jus pepaya dan mangga, karena sekarang lagi ada mangga. Sebelumnya dia buat dari jambu biji sama belimbing,” lapor Tria.
“Pepaya di sini sulit, bisa nggak ada yang mau,” kata Fitri.
“Jadi pepaya Mbak potong kotak-kotak, kadang kalau lagi rajin pakai pisau bergerigi agar bentuknya bagus. Kadang juga pakai pembulat yang buat es buah. Lalu taburi gula pasir sedikit. Baru atasnya kasih air jeruk perasan nipis, baru itu habis dimakan. Tapi kalau untuk jus di sini tak ada yang suka jus pepaya.”
“Berarti harus dimodifikasi biar dimakan ya Mbak?” kata Satrio.
“Iyalah. Jangan kalah sama anak-anak. Masa kita kalah. Makanya itu Mbak suka bikin yang macam-macam. Yang penting anak-anak masuk sayuran dan buah.”
“Dulu saat-saat awal menikah, setiap hari sampai disuapin biar makan salad,” kata Yanto lagi. Fitri hanya terkekeh.
“Mas Yanto itu dari dulu memang paling sulit makan sayur.” kata Gendis pada Satrio.
“Itulah akhirnya aku tiap hari dijejelin pecel, gado-gado, sama salad secara bergantian. Mblenger yo blenger. Selama itu belum masuk dia terus akan nyuapin aku,” kata Yanto mengingat awal-awal pernikahannya dengan Fitri.
__ADS_1
“Fitri dari dulu itu gila kesehatan,” kata Bu Erlina.
“Jadi ya wajar dia seperti itu pada Yanto. Kalau nggak makan serat ya sudah pasti kena bombardir sama dia.”
“Iya Mbak. Yanto itu makannya cuma kering-kering. Sayur sop, sayur bening. sayur lodeh itu nggak suka. Satu-satunya kuah yang dia suka cuma patin asam pedas itu saja. Itu dulu ya, aku ngomong dulu. Kalau sekarang dia masuk semuanya. Sekarang pindang patin saja dia suka seperti yang kemarin di uji coba sama Tria dan Timah.
“Dulu boro-boro sayur bening kelor seperti ini. Nggak ada. Pokoknya dia nggak makan sayur kuah sama sekali. Tapi juga nggak makan pecel atau gado-gado. Dia suka tumis-tumis kayak tumis tempe, tumis labu pokoknya tumis. Tumis daun pepaya dia masih makan tapi kalau untuk aneka sayur itu agak sulit.”
“Berarti Mas Yanto kena batunya ketemu Mbak Fitri?” kata Tria.
“Ketemu batu apane? Kalau batu kan sakit wong ini malah seneng kok,” kata Yanto.
Akhirnya semua malah tertawa mendengar kata-kata Yanto tersebut.
“Pertama aku suapin, dia kamigilen ( takut sampai gemetaran ) loh,” kata Fitri membuka rahasia.
__ADS_1
“Gimana nggak kamigilen Yah, yang nyuapin juragan e. Aku lagi jadi sopir disuapin roti Yah, pagi-pagi. Aku benar-benar kamigilen itu Yah. Untung mobil nggak nabrak. Nek enggak mau disuapin dia ngancam enggak mau kuliah. Lha aku bisa didukani ( dimarahi ) ibu kalau dia enggak kuliah. Kan simalakama itu tiap pagi,” kata Yanto mengingat bagaimana pertama kali dia disuapi oleh Fitri ketika akan berangkat kuliah.