
Hampir bedug magrib Fitri kembali ke rumah. Di tangannya ada beberapa tas. Kalau dilihat logo paper bag adalah dari toko pakaian anak-anak terkenal.
“Kamu dari mana Nduk?” tanya Suradi dengan lembut. Tak ada kemarahan pada suara ayah satu anak kandung itu.
“Aku habis healing aja Yah. Enggak ke mana-mana kok. Sepanjang hari ada di bengkel, lalu saat pulang mampir belanja baju anak-anak dulu,” jawab Fitri tanpa rasa bersalah. Dia sudah sadar, dia harus bisa egois dan mulai memikirkan diri sendiri. Selama ini dia hanya berpikir dan bertindak untuk orang lain.
Sepanjang hari Fitri merenung di bengkel. Dia selusuri perjalanan hidupnya yang sejak dulu hanya memikirkan pandangan orang yang dia cintai. Orang tua, suami, keluarga suami dan ditambah anak-anak.
Sepanjang hari Fitri perang batin ingin segera pulang mendekap anak-anaknya. Tapi dia terus mengkaji ulang. Sore dia memutuskan akan memperhatikan dirinya sendiri. Tapi itu semua tentu tak semudah membalik telapak tangan. Lihat saja yang dia beli. Semua baju anak-anak saja. Tak ada satu lembar baju atau hanya sekadar pakaian dalam untuk dirinya.
Fitri segera masuk ke kamar untuk mandi dan memegang anaknya.
“Ma … Mama,” tegur Yanto yang sedang menggendong Daanish.
Fitri tak menjawab lalu langsung masuk kamar mandi dan membersihkan diri.
Sesudah itu Fitri langsung menuju kamar salat dan bersiap salat maghrib berjamaah.
Sesudah selesai salat Fitri langsung mengambil makanan untuk kedua anaknya. Dia langsung mengajak Daanish dan Daffa ke ruang tengah dan duduk di karpet.
__ADS_1
“Ma, Papa mau bicara,” ucap Yanto yang duduk di atas kursi di atas Fitri yang duduk d lantai bersama kedua anak mereka.
Fitri tak peduli pada Yanto lalu dia menyuapi Daffa dan Daanish bergantian. Fitri terus bicara dengan Daffa dan Daanish.
Yanto tak lagi mendesak Fitri, dia tahu tak baik anak-anak mendengar keributan. Jadi dia diam, hanya tetap duduk di sebelah Fitri.
“Sini Mbak aku yang jagain anak-anak. Mbak dahar aja sama yang lain,” kata dua orang pembantu rumah tangga saat sudah waktunya makan malam.
“Enggak apa apa. Jagain aja mereka, tapi aku tetap di sini. Aku enggak mau makan bareng,” kata Fitri.
“Aku nanti makan belakangan aja,” Fitri tak mau beranjak dari karpet. Putra-putranya sudah anteng dengan mainan mereka.
“Ayo Nduk makan bareng,” ajak Gendis.
“Kan anak-anak ada para mbok. Sudah kita makan bareng yuk aja,” Gendis masih berupaya membujuk menantunya.
“Enggak Bu, enggak usah. Aku di sini aja,” tolak Fitri.
Gendis tak berani mendesak lagi, biar bagaimana pun dia sadar diri ini bukan di rumahnya. Gendis pun langsung ke meja makan.
__ADS_1
“Mbak ayok makan sama aku. Mbak marah ya karena aku enggak temani mas Yanto pagi tadi?” desak Timah setelah Gendis berlalu.
“Apa urusannya Mbak marah sama kamu? Lagian Mbak juga pergi enggak marah sama siapa pun kok. Kamu enggak usah merasa bersalah seperti itu,” jelas Fitri.
“Tadi itu ada teman aku dari SD lain, dia rupanya juga diterima di sekolah tadi. Dia ngajak aku beli minum, jadi aku keluar beli minum. Itu mungkin waktu Mbak masuk melihat Mas Yanto sedang ngobrol dengan temannya. Waktu aku tinggal belum ada teman siapa pun kok. Mas Yanto sendirian,” Timah menjelaskan kronologi agar Fitri mengerti.
“Mbak enggak peduli Dek, Mas Yanto mau ngobrol dengan siapa pun silakan. Monggo aja, jadi kamu enggak usah ketakutan seperti itu. Mbak enggak apa-apa. Mas Yanto mau punya perempuan lain juga enggak apa-apa. Sudah kamu tenang aja. Mbak enggak apa-apa,” begitu terus yang Fitri katakan.
Semua yang dia katakan itu bertolak belakang dengan apa yang dia rasakan.
“Kamu makan aja ya enggak usah tungguin Mbak, Nanti kalau kamu sudah selesai makan baru kamu gantian sama Mbak,” Jawab Fitri lagi.
“Ya wis ya Mbak. Dari pada ribut semua aku makan duluan,” Timah dengan gontai meninggalkan ruang tengah.
“Mana mbakmu?” tanya Suradi pada Timah.
“Tadi bu Gendis juga sudah ngajak, barusan aku juga ngajak Yah. Tapi mbak bilang nanti aja gantian. Dia mau makan belakangan sendirian.”
Yanto pun berinisiatif tidak makan biar bisa makan bareng dengan Fitri.
__ADS_1
“Kamu makan aja Nto. Kamu enggak akan mungkin bisa makan bersama dia. Kalau kamu mau barengin dia, nanti malah tidak makan sama sekali. Ibu sudah hafal kelakuan dia, jadi lebih baik kamu makan,” tegur Erlina menegaskan pada Yanto jangan sekali-kali sengaja menunggu agar bisa makan bareng. Karena itu akan berakibat lebih fatal.