
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Memang bisa Yah?” tanya Yanto saat menerima permintaan Suradi.
“Bisa aja kalau atas namanya. Yang penting ada bukti diri KTP atau paspor serta bukti penunjang yaitu kartu keluarga.” jawab Suradi.
“Kamu beli mobil saja bisa di atas namakan siapa pun. Tapi kamu yang bayar kan?”
“Nama yang tercantum tidak harus yang bayar,” jawab Suradi.
“Oh begitu,” Yanto memang belum berpengalaman dalam hal ini.
“Iyalah, misalnya kamu beli Pulau kan bisa aja kamu berikan kepada Daffa atau Daanish tapi yang bayar kamu,” ucap Suradi.
“Ayah beli mobil buat ibu dan Fitri mereka enggak tahu, yang penting nama pemiliknya yang tertulis di situ adalah nama mereka. Ayah bagian bayar saja. Tak perlu khawatir dia akan tahu sebelum semua surat jadi,” kata Suradi saat dia bilang minta dibawakan KTP dan kartu keluarga milik Fitri secara diam-diam.
Sudah satu minggu ini Suradi dan Yanto bertemu di kantor notaris PPAT. Ternyata diam-diam Suradi membeli tanah di dekat rumahnya Gendis. Rumah yang Gendis pakai sekarang memang atas nama Gendis karena waktu itu dia belinya sesudah Suripto meninggal. Gendis menjual semua barang di rumah lama lalu dia beli tanah luas tapi membangunnya kecil karena waktu itu dana yang ada hanya cukup untuk bangun rumah kecil saja.
Itu sebabnya saat Yanto butuh dia bisa menambah 3 kamar tidur sehingga jumlah kamar di rumah Gendis sekarang menjadi 5 kamar. Juga ada kandang kambingnya Timah di ujung halaman belakang.
__ADS_1
Luas tanah milik Gendis memang cukup besar. Tanah yang sekarang Suradi beli juga hampir sama luasnya dengan milik Gendis. Hanya selisih beberapa meter saja. Dan tanah itu dibeli atas nama Fitri.
Suradi akan membangun rumah di situ dia ingin pindah ke situ karena dia tidak bisa jauh dari kedua cucunya. Suradi ingin menetap di desa saja yang tenang dan tak ramai.
Selain itu Suradi juga membeli dua buah tambak secara diam-diam. Kalau tambak itu nanti akan dia berikan pada Herry untuk mengelolanya walau sertifikat atas nama Fitri.
Walau anak lelaki kecilnya itu sepertinya belum tertarik pada bisnis tidak seperti Timah yang sudah bisa menghasilkan tiap minggu dari kotoran kambing miliknya, Suradi yakin begitu diserahi tanggung jawab Herry pasti akan langsung bergerak melesat bagai anak panah yang ditarik dari busur.
Suradi yakin kemampuan anak-anak itu sangat hebat karena didikan Gendis memang bukan main-main. Dan kemampuan bahasa Inggris mereka sejak kecil memang hebat sekali. Hanya Yanto yang pura-pura bodoh padahal sejak dulu dia mahir. Gendis lama tinggal di Singapura sehingga sejak kecil anak-anaknya sudah belajar bahasa Inggris secara langsung praktik dengan Surito dan Gendis.
“Ayah sudah cari pegawai buat tambaknya?” tanya Yanto. Siapa tahu Suradi ingin mencari pegawai, dia harus menyaring yang benar-benar bisa dipercaya.
Padahal Timah bergerak aktiv, dia mendaftarkan usaha pemeliharaan kambingnya agar selalu di pantau rutin petugas penyuluhan setiap bulan.
“Aku sekarang sadar Yah, umur itu bukan patokan untuk seseorang punya ilmu sedikit atau banyak.”
“Contohnya saja Timah. Timah itu ternyata ilmu tentang kambingnya lebih dari yang aku tahu. Padahal aku anak desa dan biasa dengan ternak. Tapi karena Timah menggeluti dengan serius dia lebih tahu. Timah belajar lebih dalam dari aku Yah. Dan aku salut, kemarin ada seorang paklik ngajak dia kerja sama, dia tidak mau.”
“Kenapa enggak mau? Bukannya kerja sama itu menguntungkan?” Suradi tak percaya anak seumur Timah bisa menolak kerja sama.
__ADS_1
“Timah sudah belajar dari banyak kasus Yah. Ternyata katanya ada yang banyak ditemui kambing beranak dua di bilang satu atau beranak tiga yang satunya kan bingung baginya. Ada juga yang beranak satu kan bingung nanti langsung di kasih uang sekadarnya aja padahal perjanjiannya tidak seperti itu.”
“Ya bikin hitam atas putih, jadinya tidak ditipu,” kata Suradi.
“Hitam atas putih banyak Yah, tapi tetap saja namanya orang licik tuh pasti ada aja caranya buat menipu. Aku duduk di sebelah Timah Yah. Tapi aku enggak bicara apa pun soal agreement. Aku tetap cuma sebagai saksi takut Timah ditekan agar mau di ajak kerja sama.”
“Tapi Timah diplomasinya sangat hebat, aku salut pada anak 10 tahun itu Yah. Diplomasinya hebat banget, aku salut sama dia,” kata Yanto dengan bangga.
“Timah malah bilang Paklek cari aja orang lain lag,i saya tidak bersedia untuk bekerja sama. Penolakannya juga bagus. Aku salut sama dia,” kata Yanto lagi. Bukan karena yang dipuji adalah adik kecilnya tapi memang kemampuan Timah di atas rata-rata.
“Timah cerita kalau kambing kita dibawa ke kandang betina, bisa aja nanti kambing jantan kita sewakan ke orang lain bila orang yang bekerja sama dengan kita cuma punya satu betina. Jadi orangnya bayar ke yang bawa kambing kita, yang mau kerja sama dengan kita. Pokoknya banyak kecurangan lah Yah.”
“Ya jangan kambing kita dibawa,” kata Suradi.
“Betinanya yang datang.”
“Kalau betinanya yang datang seperti tadi Yah, kadang bagi hasilnya tidak jujur.”
“Iya sih, lebih baik punya sendiri aja lah. Enggak usah kerja sama seperti itu,” jawab Suradi. Dia juga kagum pada putri kecilnya yang tidak mau di belikan sepeda listrik malah memilih kambing. Sungguh di luar ekspektasi dari seorang ayah.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE yok.
__ADS_1