BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KRITIS


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Saudara pemirsa, kita perhatikan dulu Breaking News yang baru saja kami dapatkan. Sebuah bus antar kota antar propinsi dari Bogor ke arah Jogja mengalami kecelakaan di jurang sekitar Kebumen dan Kutoarjo.”



“Berita yaang kami dapatkan sementara tiga orang penumpang meninggal di tempat, sopir juga sedang kritis sedang sopir cadangan selamat. Polisi sedang menyelidiki mengapa bus dengan nomor pin R055 bisa terjun ke jurang pada pukul 02.20 dini hari tadi.”



Erlina mendengar breaking news di TV,  lalu dia langsung menghampiri TV dan menonton dengan serius.



“Astagfirullah itu kan mobilnya Yanto,” pekiknya mengamati berita itu.



Di desa Timah yang baru pulang sekolah pun menonton berita itu dan mengabarkan pada ibunya bahwa bus yang dikendarai Yanto masuk jurang dan tiga orang penumpang tidak selamat dan sopirnya kritis.



Erlina juga Gendis  di tempat yang berbeda menangis meraung. Fitri hanya terpaku menatap layar televisi di kamarnya.



“Ini dengan siapa ya?” tanya Herry saat dia baru saja tiba di rumah dan mendapati ibunya sedang menangis karena kakak sulungnya mengalami kecelakaan masuk jurang. Yang menghubunginya bukan telepon Yanto atau mbak Fitri. Kalau temannya tentu tak akan telepon di nomor biasa, paling telepon ke WA.



“Saya temannya Mas Bambang, bisa bicara dengan ibu Dek?” tanya Burhan.



“Bisa Mas,” jawab Herry segera. Dia langsung memberitahu ada telepon dari temannya mas Yanto.



Burhan masih bisa menangkap suara isak tangis di ujung telepon yang dia hubungi.



“Bu, Saya Burhan temannya Bambang, sekarang Mas Bambangnya kritis di RSUD Purworejo,” kata Burhan. Kecelakaannya berada di antara Kebumen dan Kutoarjo tapi korban di bawah dilarikan ke Purworejo oleh pengurus PO. Mungkin agar lebih dekat dengan kota Jogja.

__ADS_1



“Baik kami akan ke sana, terima kasih atas informasinya pak Burhan,” kata Gendis. Dia tak mengerti harus menggunakan apa ke Purworejo. Bukan soal biaya karena isi tabungannya lumayan ada sejak Yanto menikah dengan Fitri 3 tahun lalu. Setiap bulan menantunya memberi uang cukup banyak sisanya sehingga dia tabung. Padahal untuk makan sehari-hari Fitri rutin mengirim sembako. Sehingga uang dapurnya sangat berlebih. Gendis berpikir takut tidak kuat fisiknya bila naik bus sendirian ke Purworejo.



“Assalamu’alaykum, dari siapa? Ada apa?” tanya Fitri melihat nomor telepon yang tidak dia kenal menghubunginya.



“Bu Fitri, saya Burhan sopir cadangannya Pak Bambang.” Burhan memperkenalkan dirinya pada Fitri.



“Oh iya, ada apa?” tanya Fitri ketakutan sebab dia sudah menonton siaran kecelakaan bus yang disopiri Yanto.



“Saya cuma mau kasih tahu, sekarang Pak Bambang ada di rumah sakit RSUD Purworejo. Kondisinya kritis.” Burhan menjelaskan kondisi Bambang.Burhan masih mendengar ada nada sedih di suara Fitri.



 “Saya masih di sini bersama beberapa orang kantor dari PO,” lanjut Burhan.



“Baik terima kasih,” jawab Fitri. Dia kacau mendengar kondisi Yanto kritis.




“Ibu siap-siap ya, aku akan menjemput Ibu untuk berangkat ke Purworejo,” jelas Fitri setelah memberi salam dan bertanya apa bu Gendis sudah tahu khabar Yanto. Dari bu Gendis Fitri tahu kalau Burhan sudah mengabari kondisi Yanto.



Tentu saja Herry dan Timah senang karena ibunya ada yang menemani untuk berangkat ke rumah sakit, walau mereka tidak ikut tapi setidaknya ibu akan aman bila berangkat bersama Fitri.



Fitri menjemput Ibu Gendis di rumahnya dia memberi salim pada ibu mertuanya dan ibu mertua memeluknya dan mereka bertangisan. Menangisi laki-laki yang sama-sama mereka cintai.



Rupanya Erlina juga ikut menemani Fitri karena tak tega anaknya pergi sendiri. Akhirnya tiga perempuan itu pergi ke rumah sakit umum daerah atau RSUD Purworejo. Tidak terlalu jauh dari Jogja, tapi ya lumayan jauhlah karena mereka kan berangkat dari Solo.


__ADS_1


fitri bertanya pada petugas administrasi dimana ruang rawat sopir bus yang masuk ke jurang dinihari tadi. Pada Fitri, Erlina dan Gendis petugas memberitahu tentang posisi ruang rawat Yanto dia berada di ICU kondisinya sangat kritis.



“Dengan Bu Fitri?” tanya Burhan pada seorang perempuan manis yang dia dengar bertanya tentang letak pasien sopir bus.



“Benar saya Fitri.”



“Bu, saya ingin bicara boleh?” tanya Burhan.



 ”Ada apa ya?” tanya Fitri.



“Nanti ya Bu kita bicara. Sekarang kita lihat dulu kondisi Pak Bambang,” kata Burhan.



Mereka bertiga yaitu Gendis Erlina dan Fitri diajak Burhan menemui dokter yang menangani Yanto.



“Pak Dokter ini istri dari Pak Bambang bersama orang tuanya,” kata Burhan. Lalu dengan sopan Burhan pamit keluar ruangan.



Dokter memberi penjelasan bagaimana kondisi Bambang saat itu.



“Jadi persentasenya bagaimana pak Dokter?” tanya Gendis.



“Wah kalau persentase itu agak ambigu ya Bu. Tapi kita tetap berharap Pak Bambang bisa bertahan. Itu harapan kami. Tapi kalau lihat kondisinya kemungkinan itu sangat kecil. Jadi saya harap keluarga bersiap. Jangan terlalu besar harapan nanti malah kecewa,” jelas Pak Dokter dengan jujur.  Dokter tak ingin memberi harapan palsu pada keluarga pasien.



Gendis menangis dalam pelukan Erlina sedang Fitri hanya diam saja. Fitri hanya duduk terdiam tak ada air mata keluar. Dia hanya memandang tanpa ekspresi, tatapannya kosong.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang beda thema dari novel yang biasa eyank tulis. Kita masuk thema HOROR dan ini berdasar kisah nyata yang di kembangkan.

__ADS_1


Cuzz ke novel dengan judul CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK yok



__ADS_2