BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BARISAN SAKIT HATI


__ADS_3

“Silakan mas Suryo lanjut ya. Saya kan hanya sekadar tahu saja. Kalau untuk urusan penyidikan dari polisi maupun bukti-bukti ya langsung polisi saja. Saya dan Herry sama sekali tak tahu seakan-akan kami tidak terlibat di pencarian bukti ini,” kata Yanto mereka sudah diperlihatkan bukti yang Husein dapatkan, entah melalui siapa dan data itu ada di Suryo. Tentunya Yanto tak perlu memegang bukti tersebut yang penting dia sudah melihatnya.


“Papa dengar nggak tadi kalimat terakhirnya Pak Husein, saat kita pamitan?” tanya Fitri pada suaminya saat mereka akan masuk mobil.


“Yang mana Ma?” tanya Yanto sambil memasang seat beltnya.


Dia bilang dia setuju Tria jadian sama Herry,” sahut Fitri.


“Masih kecil Ma, masih lama jalannya,” jawab Yanto santai.


“Jangan suka ngomong kayak gitu, dulu mama ditaksir anak sekolah juga waktu dia masih kelas 1 STM loh. Cuma dia pendam aja enggak berani ungkapin,” jawab Fitri sambil senyum usil. Dia sengaja memalingkan wajahnya keluar jendela karena takut tak tahan ketawa.


Yanto tertawa terbahak-bahak mengingat kisah mereka


“Tapi kan antara anak kecil itu sama Mama nggak ada hubungan apa pun cuma disimpan dalam hati. Kalau Herry dan Tria sudah saling ungkap tentu beda. Apalagi sudah di restui. Mereka bisa kebablasan,” ungkap Yanto.


“Bahaya berhubungan seperti itu, bisa terjadi interaksi yang membakar atau juga bisa menenggelamkan tergantung bagaimana hubungan tersebut,” jelas Yanto.

__ADS_1


“Iya sih. Jalan mereka masih lama dan belum tentu mereka bisa meredam api asmara seperti kita. Kita hanya bisa saling diam.” kata Fitri.


“Kita ikuti alurnya saja. Kita ikuti apa yang ditetapkan oleh Allah. Nggak usah kita melarang atau menganjurkan, kalau memang mereka berjodoh silakan,” kata Yanto.


“Dan kita juga nggak bisa melarang cita-citanya Herry. Kita ikuti aja. Toh kalau sudah selesai SMA bisa nikah walaupun masih kuliah. Nggak ada larangan,” kata Yanto.


“Bener Pa. Biarin aja sesuai dengan alurnya.” jawab Fitri setuju dengan opini suaminya.


“Lho kok ke sini Pa?” kata Fitri melihat Yanto membelokkan mobilnya ke sebuah resto.


“Kita sekalian keluar makan malam lah, jarang-jarang kan kita makan berdua atau menonton. Anggap aja kita lagi nge date. Tapi sekkarang kita maghriban dulu sebelum masuk ke resto,” jawab Yanto.


Sehabis melaksanakan salat maghrib Yanto dan Fitri  masuk ke restoran western. Mereka pesan dua porsi steak dengan kematangannya medium.


“Pa, kalau dua manusia yang menganggap dirinya korban bertemu itu mau ngapain ya Pa?” tanya Fitri. Dia menerima steak yang sudah Yanto potong. Walau pernikahan mereka sudah berjalan hampir satu dekade, tapi untuk masalah seperti ini Yanto tetap melakukannya. Tak hanya saat pengantin baru saja.


“Maksud Mama bagaimana?”

__ADS_1


“Misalnya Herry, kan dia sudah menolak Tria, lalu ada perempuan lagi yang juga merasa ditolak Herry misalnya. Nah kalau dua perempuan tersebut bertemu mereka menyusun rencana apa ya?” tanya Fitri.


“Kudeta mungkin?” kata Yanto asal-asalan.


“Kalau Mama di kudeta bagaimana Pa?” pancing Fitri.


“Kok jadi Mama yang di kudeta? Mau seperti apa pun Mama diguncang, Papa nggak peduli. Papa cuma cinta sama Mama, nggak ada orang lain,” jelas Yanto dengan yakin.


“Begitu ya? Tapi yang pasti mereka menyusun kekuatan kan Pa?” tegas Fitri.


“Bisa jadi! Itu disebut barisan sakit hati,” kata Yanto sambil mulai menyuap steak miliknya.


“Wah Mama harus susun ekstra kekuatan untuk menghadapi barisan sakit hati nih,” ucap Fitri.


“Dari tadi Mama ngomong muter-muter nih. Memang kenapa sih Ma?”


“Di belakang Papa ada Aisy dan Tini. Kira-kira mereka kebetulan bertemu atau janjian bertemu karena sama-sama sendirian di rumah makan seperti ini,” ucap Fitri.

__ADS_1


Yanto langsung menengok arah yang Fitri sebutkan. Benar saja, terlihat Aisy dan Tini ada di sana.


__ADS_2