BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KENAPA ENGGAK MINTA ANTAR MAS?


__ADS_3

Pagi ini Riani akan keluar rumah dia kaget melihat tanah kosong di seberang rumahnya mulai kedatangan bahan-bahan baku. Sepertinya akan dibangun sesuatu. Dia sama sekali tak tahu kalau itu adalah proyek putrinya. Riani pun mengeluarkan mobilnya tanpa peduli pada lingkungan sekitar.


Besok paginya Husein juga melihat bahan-bahan bangunan yang siap di kerjakaan,  ada beberapa kayu yang sudah mulai diserut juga beberapa lubang untuk dibuat pondasi.


“Akan dibuat apa ya fasum di depan rumahku?” kata Husein sambil mulai menyalakan mesin mobilnya. Pak satpam yang ada di posnya hanya tersenyum melihat Husein mengeluarkan mobil untuk berangkat kerja. Pak satpam dan masyarakat sekitar sudah diberitahu oleh Tria untuk tidak bicara apa pun soal proyek yang dia kerjakan. Tria bilang biar itu jadi surprise kedua orang tuanya karena orang tuanya juga tidak peduli tentang apa yang dia kerjakan.


Waktu Tria berkata begini kepada wakil developer juga pada Pak RW mereka malah kagum. Anak SMA sudah berbuat positif dan orang tuanya tidak mendukung sama sekali. Mereka malah akan mensupport Tria semaksimal mungkin.


Dari developer Tria akan mendapatkan saluran listrik free dan dari Pak RW Tria mendapatkan sambungan PAM dari pos satpam. Semua itu juga free. Benar-benar support yang sangat membangun. Tria tak menyangka hal itu dia dapat berkat kegigihannya.


“Seriusan Dek?” tanya Fitri.


“Bener Mbak. Sudah selesai kok. Besok kita baru mau mulai hunting cari bibit. Karena selama ini kita tanya-tanya bibit itu secara online. Besok hari Sabtu dan Minggu kita mau datangi tempat penjualan bibit kelinci sesuai dengan yang sudah kita hubungi via telepon,” jelas Timah. Mereka sedang memetik bunga pepaya gantung di kebun belakang untuk di sayur besok.

__ADS_1


“Wah Mbak jadi pengen ikutan,” kata Fitri sambil mengambil tangkai bunga pepaya yang Timah ambil dengan galah bambu.


“Janganlah Mbak, ini perjalanan anak-anak gadis. Biar kami happy sendiri. Emak-emak di rumah saja,” kata Timah menggoda kakak iparnya itu.


Fitri terbahak mendengar gurauan adik perempuannya.


“Mau ke mana kamu pagi-pagi hari Sabtu Dek?” tanya Herry. Dia juga sehabis sarapan bersiap untuk keliling tambaknya.


“Aku ada janjian dengan Mbak Tria. Aku sudah pesan ojek online untuk berangkat sampai ke ujung desa,” jelas Timah yang suah rapih sejak sebelum sarapan. Walau habis sarapan dia tetap mencuci piring.


“Nggak Mas, aku nggak mau ngerepotin dan Mbak Tria sudah bilang jangan pernah bikin Mas Herry terhubung dengan Mbak Tria. Kalau Mas Herry nganterin kan mungkin ketemu Mbak Tria, padahal dia nggak mau bertemu dengan Mas Herry.”


“Memang kenapa?” tanya Herry bingung mendengar jawaban Timah yaang sangat jujur.

__ADS_1


“Seperti yang waktu itu Mbak Tria bilang, kan dia tidak mau hubungan persahabatan kami menjadi beban buat Mas Herry. Jadi sebisa mungkin pertemuan kami kapan pun tak boleh ada akses dari Mas Herry. Jadi aku juga tadi pesan ojek online. Sebentar lagi datang kok,” kata Timah.


Sekarang ojek online memang sudah sampai ke desa Timah. Karena beberapa pengemudinya ada yang berasal dari orang sekitar situ. Jadi mungkin sekalian berangkat atau ada penumpang yang masuk menggunakan ojek online jadi pas kembalinya keluar desa bisa dipesan oleh pengguna lainnya. Benar-benar sangat membantu mobilitas warga desa.


“Emang kalian mau ke mana?” tanya Yanto. Dia sudah diberitahu Timah janjian denganTria, tapi tak dirinci tujuannya oleh Fitri.


“Kami sudah menghubungi beberapa penjual bibit secara telepon atau email. Kami sekarang mau lihat secara real. Baru melakukan pembayaran,” kata Timah.


“Kami sudah dapat peternak kelinci lokal maupun kelinci impornya. Kami sudah survei secara online. Tapi tetap kami harus lihat secara riil. Jadi tak mau langsung diantar bibit ke lokasi kandang,” Timah mengulang kalimatnya.


“Lokasinya sudah jadi?” kata Yanto. Yang juga akan pergi bersama kedua anaknya dan Fitri.


“Sudah Mas. Sudah jadi. Begitu bibit datang nanti akan ada selamatan kecil-kecilan dengan developer dan pengurus RW. Nanti baru akan mengundang orang tua Mbak Tria,” jelas Timah.

__ADS_1


“Aku salut banget sama Tria, dia bisa bikin proposal sebagus itu,” kata Fitri yang juga sudah siap.


“Iya Mbak. Hebat banget ya sendirian dia bisa maju perang  saat mempertahankan proposal itu di depan orang-orang developer dan orang-orang pengurus RT dan RW.”


__ADS_2