BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
PERMASALAHAN FITRI


__ADS_3

“Ibu itu penyakitnya darah rendah, tapi tadi masuk karena gejala stroke. Padahal kata orang kan stroke itu karena darah tinggi. Entahlah yang pasti seperti itu sakitnya,” kata Herry lemah. dia sungguh bingung. Tria mengeratkan pelukan di pinggang Herry. dia tahu Herry butuh dukungan. Itu sebabnya tadi dia memutuskan langsung datang ke rumah sakit. Tria juga langsung menghubungi Andre, Harry, Timah maupun Satrio. Mengabarkan bahwa dia akan menemani Herry di rumah sakit.


“Mas mau makan nasi soto atau bakso kuah?” tanya Tia saat mereka tiba di cafe.


“Kita kan tadi habis makan waktu Mas berangkat ke sini,” kata Herry malas. Dia mau diajak ke cafe agar ada tempat ngobrol dengan Tria saja.


“Aku ingat kok. Aku nggak lupa ingatan. Tapi Mas lagi kondisi begini. Kita sering lapar terus lupa makan. Itu yang pertama yang kedua Mas butuh perut hangat. Jangan sampai sakit. Jadi mau nasi soto atau mie bakso saja, atau bakso kuah?” desak Tria.


“Enggak jangan bakso kuah. Bakso pangsit rebus saja,” kata Herry mengalah.


“Nggak pakai mie?” tanya Tria.


“Nggak Yank. Bakso pangsit kuah tanpa mie saja,” balas Herry.

__ADS_1


‘Dua kali aku mendengar dia menyebut kata YANK buat diriku. Alhamdulillah akhirnya cinta yang sejak satu tahun lalu aku dambakan sekarang terwujud,’ kata Tria dalam hatinya.


Tria memesan satu porsi bakso kuah dan satu porsi pangsit rebus. Bukan baso pangsit kuah sesuai permintaan Herry. dia juga menambahkan satu porsi pangsit goreng lengkap dengan saos manis pedasnya.


“Tadi Mas Yanto bingung,” Herry mulai membuka permasalahan yang sedang dihadapi.


“Kenapa?” tanya Tria. Dia pegang jemari kekasihnya erat. Dia tatap mata Herry yang memancarkan kesedihan.


“Mbak Fitri kan lagi hamil, jadi tadi Mbak Fitri diantar pulang ke rumah kota. Mbak Fitri nggak akan mungkin mau pulang ke rumah kita di desa padahal anak-anak sekolah. Anak-anak nggak mungkin dibawa nginep di rumah kota dan bolos terus. Terlebih Daffa yang sudah mulai kelas 1 dan akan ulangan semester.”


“Aku yakin walau anak-anak dibawa ke rumah kota. Mbak Fitri tetap nggak bisa konsen untuk daring. Daring anak seumur itu kan harus ditemani orang tuanya.”


“Itu yang tadi mas Yanto ungkapkan. Begitu pun tentang ayah Suradi. Takutnya kondisi ayah drop lagi. Karena dulu ayah dua kali dirawat dan Mbak Fitri serta Mas Yanto menikah juga karena ayah sudah kritis.”

__ADS_1


“Lalu bagaimana enaknya?” tanya Tria.


“Itu yang aku ingin kita diskusikan nanti. Kalau memang seperti yang kamu bilang rekan-rekan ke sini. Kalau ada mereka kan kita nggak mungkin ngobrol berdua seperti ini,” ucap Herry.


“Ya Mas. Aku takut hubungan kita membuat mereka jadi jaga jarak,” balas Tria.


“Aku yakin mereka semua terima dengan hubungan kita. Cuma rasanya nggak enak saja. Biar saja mereka tahu pelan-pelan,” jawab Herry.


“Kalau Mbak Fitri pulang pergi juga nggak mungkin ya Mas? Walau naik mobil sekalipun.”


“Nggak mungkin lah Yank. Dia tuh hamil loh. Badannya pasti akan capek, dan pikirannya kalut. Itu yang buat Mas Yanto bingung. Masa ngorbanin anak-anak sih?”


“Mas waktu tempuh kota rumah kota ke rumah desa itu nggak sampai satu jam kok Mas. Kayaknya sih Mbak Fitri enggak apa-apa kalau tinggal di rumah desa saja. Kalau mendesak dia baru lari ke rumah sakit. Untuk hari-hari kan dia bisa zoom terus sama Mas atau ayah di kamar rawat bu Erlina?”

__ADS_1


“Aku harap bisa seperti itu Yank. Aku bener bingung. Kalau masalah ngurus adik-adik sih gampang lah. Ada dua mbok di sana. Selain itu mereka juga bukan anak-anak yang rewel. Atau bisa juga tambah embok dari rumah kota. Yang jadi masalah adalah pikiran dan kondisi tubuh Mbak Fitri saja.”


“Ya sudah itu pangsit kita datang. Kita makan dulu habis itu baru kita bicara lagi ya,” kata Tria. Dia memindahkan baksonya ke mangkok pangsit, dan sebagian pangsit dipindahkan ke mangkok bakso sehingga sekarang masing-masing punya bakso pangsit rebus. Yang goreng tentu saja ada jadi tidak dicampur.


__ADS_2