
Karena kesehatan ibu Gendis itu maka Fitri memang mengubah pola konsumsi seluruh keluarga. Tidak hanya menyediakan untuk suaminya tapi dia membuat semua terbiasa dengan pola yang ibu Gendis harus konsumsi. Jadi cemilan gorengan untuk Yanto itu benar-benar dibuat untuk dibawakan bekal misalnya pisang goreng atau bakwan atau lumpia dan sebagainya semua dibawakan untuk bekal. Kasihan kalau ibu Gendis melihatnya.
Snack di rumah biasanya dibikin olahan modifikasi dari bahan dasar pisang, kentang, ubi atau singkong. Misalnya seperti ketimus, mata roda, cenil dan sebagainya. Pokoknya yang benar-benar direbus tidak digoreng. Itulah sebabnya pagi ini Fitri membuat kue pisang dari bahan tepung beras dicampur sedikit tepung sagu agar tidak keras. Lalu tengahnya pisang dibungkus daun pisang lalu di kukus. Atau dia suka bikin juga kue dari tepung ketan yang diisi unti kelapa. Pokoknya semua serba kukusan seperti itu yang dihidangkan untuk sore. Jadi dia buat pagi saat anak-anak sekolah seperti saat ini.
“Iya Pa?” jawab Fitri mendengar panggilan telepon dari suaminya.
“Ma nanti sore Papa pulang mampir ke toko buah. Mama mau pesan apa?” tanya Yanto.
“Yang ada di situ saja Pa. Nggak usah Mama pesan. Pokoknya yang ada di situ yang bisa buat bikin salad buah dan jus buah. Papa beli saja sesuai kebutuhan. Jangan lupa catatan soal mayones dan mustard serta krim kejunya, itu yang penting,” ucap Yanto.
“Tapi Mama buatin Papa jus strawberry ya. Nggak pakai susu, pakai gula saja biar nggak terlalu asam. Nggak mau pakai madu. Pokoknya nggak mau madu!” kata Yanto.
“Iya,” jawab Fitri. Tak mau dia bantah suaminya.
Padahal biasanya untuk Gendis dan Yanto selalu menggunakan pemanis madu. Begitu pun buat anak-anak. Hanya buat Timah dan Herry yang menggunakan gula. Sedang kalau untuk Fitri sendiri tanpa gula sama sekali, untuk semua buah. Dia tidak menggunakan gula sama sekali. Tapi kali ini Yanto berpesan untuk dirinya maunya pakai gula.
Juice strawberry ini sangat jarang dia bikin karena anak-anak tak ada yang suka begitu pun Timah dan Herry. Walau diberi gula masih terasa asam buat mereka. Ini karena Yanto minta ya sudah. dia akan buatkan nanti bila suaminya pulang dan membawa bahan salad yang dia pesan tadi pagi.
__ADS_1
“Buah strawberrynya jangan banyak-banyak belinya ya? Yang lainnya nggak ada yang makan,” kata Fitri.
“Iya,” jawab Yanto. Dia pun tahu anak-anak dan adik-adiknya tak ada yang suka buah strawberry segar. Paling nanti jusnya hanya untuk dirinya dan Fitri saja. Karena rasanya strawberry pasti asam sedang Fitri tak suka menggunakan gula sama sekali.
Harry ini Herry tak mau istirahat di luar kelas. dia hanya di dalam kelas saja. Baik di istirahat pertama maupun makan siang di istirahat kedua. Sekarang pelajaran sudah mulai penuh tidak ada lagi pulang lebih cepat.
“Kok nggak keluar?” tanya Harry.
“Lagi malas,” jawab Herry. Dia memang malas keluar karena begitu keluar dia akan sakit hati akibat cemburu melihat Tria dan Andre yang makan bersama setiap hari.
“Aku ikut makan di sini sama kamu ya?” tanpa menunggu jawaban Harry pun mengeluarkan kotak bekalnya.
“Iya, mereka masih anggap aneh kalau aku bawa bekal,” jawab Harry sedikit sedih.
“Ya pasti aneh lah, namanya anak juragan batako. Semua orang juga tahu siapa kamu. Tiba-tiba kamu bawa bekal seakan-akan usaha abahmu sudah bangkrut,” kata Herry.
“Abah sama umi malah seneng banget aku bawa bekal. Mereka dari dulu menyuruh aku tapi aku tak menggubris. Sekarang mereka senang aku berubah,” ucap Harry.
__ADS_1
“Orang dulu mengira kamu bawa bekal karena kamu anak janda miskin. Mereka tak tahu kamu owner tambak yang sangat sukses sejak SMP. Tapi kalai diriku mereka tahunya harta orang tuaku saja,” sedih Harry karena orang masih menilai dari harta.
“Kalau menurut Abah, bekal itu hanya buat kesehatan bukan buat pengiritan. Kalau mau foya-foya lain cerita. Tapi memang kesehatanku itu yang Abah pikirkan. Tentu saja aku boleh tetap jajan semauku tetapi yang penting makan siang itu dengan menu makanan dari rumah yang sehat,” ucap Harry yang kemarin baru membeli 2 kambing milik Timah untuk aqiqah keponakan dan banyak telur serta ayam serta ikan dari usaha Timah dan Herry.
“Kamu bawa apa?” tanya Harry.
“Aku bawa tumis touge,” jawab Herry santai.
“Sama ini, kakakku bikin ayam tapi dicampur dengan bumbu pecel karena permintaan Mas Yanto, ya nikmati itu saja lah yang penting ada sayurnya tumis toge,” ucap Herry yang suka sayuran, beda dengan Yanto.
“Aku bawa tumis kangkung. Sama ya kita. Aku juga bawa tempe goreng dan ayam goreng,” ucap Harry.
“Wah tempe gorengnya bawa lebih nggak? Aku mau dong,” pinta Herry.
“Ada. Aku bawa dua kok. Lalu Harry langsung memberikan satu tempe ke tempat bekal makannya Herry.”
Mereka langsung makan sambil bicara tentang pelajaran hari itu. Walau beda kelas mereka tetap sama-sama IPA sehingga masih bisa bertukar materi pelajaran.
__ADS_1