
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Jam 08.00 pagi Erlina serta Gendis, Timah, dan Herry datang kembali ke rumah sakit. Mereka membawa apa yang Fitri minta yaitu lontong sayur ayam, goreng serta pepes patin. Walau pun enggak cocok, tapi karena itu yang diminta oleh Fitri ya semua dibawakan.
Suradi cerita kalau sejak tadi Fitri makan tidak berhenti.
Gendis juga ingat kemarin dengan Timah dan Herry Fitri terus mengunyah. Kemarin Fitri berkali-kali menyuruh Herry keluar untuk beli siomay, bakso atau roti dan gorengan.
Gendis tidak menyangka itu karena kehamilan yang Fitri alami. Waktu itu dia berpikir Fitri hanya ingin menyenangkan adik-adiknya sehingga jajan terus.
“Ayo Bu Fitri kita periksa dokter ya,” kata suster. Suster membantu Fitri untuk duduk di kursi roda.
“Ibu sama bu Gendis aja yang menemani, aku sama Herry dan Timah ke ruangannya Yanto,” kata Suradi pada Erlina.
“Ya Yah,” jawab Erlina patuh. Dia tahu tentu tak enak Suradi menemani ke OBGYN.
Gendis tentu suka diperbolehkan ikut untuk mengetahui kehamilan cucunya.
“Ada apa aku dibawa ke sini?” tanya Fitri melihat poli yang didatangi adalah poli kebidanan dan kandungan.
“Ya kita cek aja karena itu adalah rujukan dari dokter yang memeriksa saat kamu pingsan kemarin,” Kata Erlina. Erlina dan Gendis sudah diberitahu bahwa Suradi tidak memberitahu kehamilan Fitri biar dokter aja yang cerita.
Karena Fitri adalah pasien rujukan jadi dia tidak ngantri, begitu sampai di sana langsung ditangani oleh suster dan langsung dibawa masuk ke ruangan periksa.
“Langsung dibantu ke bed periksa aja,” kata dokter. Suster pun membantu Fitri untuk langsung berbaring di ranjang pemeriksaan.
Dokter akan mengoleskan gel konduktif ke seluruh permukaan area kulit perut Fitri untuk diperiksa. Fitri merasakan dinginnya gel menempel di perutnya.
__ADS_1
Kemudian, dokter akan menggerakkan transduser dengan gerakan maju mundur secara perlahan ke area permukaan kulit perut Fitri sambil memperhatikan apa yang terpampang melalui monitor.
“Ibu-ibu, memang benar apa perkiraan dokter kemarin. Bayinya sudah berumur 7 minggu.” Fitri kaget dia sedang hamil 7 minggu berarti hampir 2 bulan.
Dia baru berpisah dengan Yanto satu bulan. Jadi sebenarnya saat ke Bogor dia dan Dina sama-sama sedang hamil.
Tentu saja Fitri senang tapi dia berpikir Anda saat itu Yanto tahu pasti suaminya akan sangat bahagia. Tiga tahun perjalanan mereka berikhtiar, minum obat tanpa bosan akhirnya sekarang dia bisa hamil.
Gembira terlalu berlebihan, Fitri kembali pingsan!.
Suradi yang mendapat khabar Fitri pingsan kembali segera berlari ke poli kebidanan. Suradi lupa dia tak boleh terlalu lelah.
Dari poli kebidanan Fitri kembali di bawa menggunakan brankar ke ruang rawatnya. Fitri belum bisa digabung dengan Yanto walau Suradi sudah minta untuk digabungkan. Dokter sedang mengobservasi mau dipindah ke mana dua pasien itu agar lebih mudah pengawasan karena mereka memang suami istri. Kasihan keluarganya bila mereka dipisah pengawasannya agak terlalu sulit. Dokter pun mengerti keterbatasan pengawasan untuk dua orang yang berlokasi sangat jauh di rumah sakit itu.
Bila sadar nanti Fitri harus bedrest untuk menjaga kehamilan.
Tak lama Fitri siuman. Fitri diberitahu semua yang dokter sarankan. Tentu Fitri akan mematuhinya, dia tidak ingin bayi yang sudah sangat sulit dia dapatkan harus keguguran.
Suradi menyuruh sopirnya membeli semua resep itu ditambah su5u ibu hamil yang dipesan oleh Fitri. Selain itu Fitri juga meminta dibelikan suplemen untuk Bu Gendis dan Timah serta Herry. Nanti sore mereka akan pulang diantar oleh sopir.
Sekalian menebus obat, Pak Suradi juga meminta sopirnya membelikan makan siang nasi box agar dibawa ke ruangan Fitri aja. Sehingga semua makan di sana bersama Fitri.
“Bapak nanti sehabis makan Bu Fitri dan Pak Yanto bisa disatukan ruang rawatnya. Dokter sudah memberi arahan mereka disatukan dalam satu ruangan agar lebih mudah dijaga oleh keluarga,” kata suster pada Suradi.
Tentu saja Fitri kaget mendengar ayahnya minta agar dia disatukan dengan Yanto agar lebih mudah pengawasannya. Begitu pun Gendis karena dia tidak menyangka Fitri dan Yanto satu ruangan.
__ADS_1
Erlina sudah tidak kaget karena Suradi sudah cerita tadi.
“Baik habis makan nanti bisa saya beritahu agar anak saya dipindahkan ke ruangan bersamaan dengan suaminya,” jawab Suradi senang.
“Iya Pak. Suaminya sudah kami pindah. Dia sudah ada di ruangan tersebut,” jelas suster tersebut.
“Baik suster, kami selesaikan dulu makannya. Nanti akan saya kabarin,” jawab Suradi.
“Iya Pak, saya tunggu kabarnya,” kata suster, tentu saja Fitri senang akan satu ruangan dengan Yanto.
“Ayo Dek makannya yang banyak dan ingat itu tadi vitamin yang Mbak belikan buat kalian berdua, biar kalian enggak lelah. Juga biar belajarnya tidak ngantuk. Kalian harus terus berprestasi,” kata Fitri.
“Iya Mbak,” jawab Timah.
“Nanti sore kalian harus pulang ya, besok sekolah. Hari ini sudah bolos,” Kata Fitri.
“Iya Mbak,” jawab Timah lagi.
“Ibu, kalau Ibu mau ke sini, ingat Ibu harus bilang. Nanti dijemput,” kata Fitri pada Gendis.
“Enggak usahlah kalau ke sini Ibu bisa kok naik angkot sendiri,” tolak Gendis.
“Enggak bisa Bu. Nanti kalau Ibu ada apa-apa di jalan gimana? Aku dan Mas Yanto sedang tidak bisa langsung lari. Sebaiknya Ibu harus antar jemput kalau memang mau ke sini. Enggak apa-apa sopir aku kan nganggur,” kata Fitri.
“Tapi jadi merepotkan keluarga kamu,” kata Gendis.
“Enggak ada yang direpotan. Pokoknya Ibu harus bilang kalau minta dijemput,” jawab Fitri lagi. Gendis tak bisa berkelit karena memang itu kemauan menantunya.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok
__ADS_1