BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BUKAN KEDATANGAN YANG PERTAMA


__ADS_3

“Kamu seriusan Dek?” tanya Fitri.


“Bener lah Mbak. Kami sudah janjian karena dia mau belajar masak soal ikan dan belut dari Mbak terus sama aku dia mau diskusi tentang memulai bisnis. Karena dia pikir aku saja yang masih SD saat itu bisa mulai bisnis kenapa dia nggak. Gitu Mbak. Soal dana dia nggak kurang, tapi ingin punya usaha sendiri, gitu loh Mbak.” jawab Timah.


“Memang rencananya dia mau bikin bisnis apa?” pancing Fitri.


“Belum matang sih Mbak. Kemungkinan dia ingin coba kelinci hias yang jenis mahal jadi bukan yang kelinci pedaging atau kelinci lokal,” jawab Timah.


“Padahal kalau kelinci lokal itu pemasarannya lebih mudah loh Dek. Bisa dijual ke pasar kampung-kampung biasa. Tapi memang kompetitornya banyak sehingga harganya tidak terlalu tinggi. Beda dengan kelinci hias yang dari luar negeri. Nanti kita lihat ada korelasi dengan biaya pakan dengan harga jual. Kan makan kelinci import sama kelinci yang biasa tentu beda.” Fitri menerangkan sesuatu dasar buat seseorang berbisnis.


“Nah ini, masukkan seperti ini yang harus kita bahas Mbak. Biar semuanya ada pembandingnya,” jawab Timah senang.


“Ah Mbak jadi kepengen juga bikin peternakan kelinci seperti yang kalian angankan.”


“Bisa juga tuh Mbak. Kita bikin di sini nanti biar Mbak Tria sebagai pemegang saham juga. Jadi parohan sama Mbak Fitri,” usul Timah.


“Itu juga bisa sih Dek. Nanti kita bahas saja semuanya,” jawab Fitri. Sejujurnya dia tak serius ingin membuka peternakan. Dia hanya senang memelihara kelinci saja.


“Nah asyik nih, berarti Mbak Tria besok punya partner,” ucap Timah bersemangat.


“Kamu?” kata Herry. Dia tidak menjawab salam yang Tria ucapkan. Hari Sabtu pagi jam 08.00 Herry kaget ketika Tria sudah ada di rumahnya.


“Kenapa kok malah bukannya jawab salam?” kata Tria melenggang masuk halaman rumah Herry.

__ADS_1


“Wa’alaykum salam,” Jawab Herry begitu sadar.


“Ada apa kamu ke sini?”


“Nggak ada apa-apa. Aku janjian sama Timah mau belajar masak dengan Mbak Fitri,” jawab Tria. Dia membawa satu kresek bahan entah apa yang apa isinya Herry tidak tahu.


“Bagaimana kamu tahu rumahku?” Herry tak tahu bagaimana Tria bisa tahu rumahnya karena yang dia tahu Tria hanya pernah satu kali datang ke tambak ketika syukuran.


“Ini bukan yang pertama aku datang ke sini,” jawab Tria santai.


“???” Herry tak bisa berkata apa pun. Dia bingung mendengar jawaban Tria.


“Halo Mbak, sudah datang?” sambut Timah.


“Ayo siap. Tutornya sudah ada kok dia sudah nanyain benar nggak Mbak datang karena bahannya sudah disiapkan dari tadi,” ajak Timah.


“Alhamdulillah aku ingat kok. Tenang saja,” balas Tria.


Yanto membawa kedua anaknya bermain saat Fitri sedang masak hari ini. Memang dia seperti biasa hari Sabtu dan Minggu Yanto memang libur tidak pergi ke bengkel bila tidak ada janjian dengan konsumen. Karena itu adalah hari libur sekolah sehingga memang dia membiasakan diri hari Sabtu dan Minggu libur. Atau kalau pun dia ke bengkel anak-anak akan dia bawa tentu bersama Fitri. Tapi karena hari ini Fitri sedang ada jadwal masak bareng dengan Tria maka Yanto mengajak anak-anak bermain di TK.


“Kok bumbunya gampang banget ya Mbak? Itu kayaknya standar ya,” kata Tria sambil memperhatikan semua bumbu yang Fitri siapkan untuk semua jenis masakan.


“Iya mainnya cuma di situ sih. Bumbunya sama saja cuma permainan dirasa saja. Biasanya ada yang lebih suka banyak asemnya atau apanya ini lebih enak lagi kalau pakainya tuh belimbing wuluh jangan asam jawa. Apalagi kalau pakai cuka itu beda banget rasanya kata Fitri.

__ADS_1


Dia meminta agar Tria memotong-motong belimbing wuluh yang tadi dipetik oleh Timah. Tentu saja belimbing wuluh itu diiris tipis kalau yang untuk pepes dan diiris memanjang bila yang untuk kuah asam.


“Kamu nggak catat Mbak?” tanya Timah.


“Nggak Dek cukup diingat saja. Lagian sudah aku foto. Nanti akan aku tulisi saja,” kata Tria.


“Wah kayak Mbak Fitri. Cuma nyicipin makanan orang langsung besoknya dia akan eksekusi. Dulu waktu pacaran sama mas Yanto begitu.


“Benar seperti itu Mbak?” tanya Tria pada Fitri yang senyum saja. Tria bertanya untuk memastikan.


“Iya dulu kalau aku dibawa mas Yanto ke sini, ibu akan nyiapin makanan kegemarannya mas Yanto misalnya pepes atau patin kuah asam dan sebagainya. Aku hanya mencicipi dan mereka-reka saja apa ya bumbunya?”


“Aku pikir sendiri dan aku coba berkali-kali. Begitu pun kalau kami ke resto. Di resto nanti aku akan membayangkan bumbu mkanan yang aku makan apa aja. Kalau zaman sekarang enak deh sudah ada Google. Tinggal cari saja resepnya gampang. Keluar semua tinggal kita coba,” kata Fitri sambil mengaduk belut yang akan di pepes dengan bumbu.


“Tapi tetap harus kita modifikasi dengan lidah kita. Karena tidak semua yang dari Google itu enak di lidah kita. Harus kita uji berkali-kali. Kadang untuk satu resep yang fix buat lidah kita, buat keluarga kita, itu kita dapat setelah tiga atau empat kali masak,” jelas Fitri.


“Wah ini baru ilmu yang sangat bagus,” kata Tria.


Herry masih tak habis pikir bagaimana mungkin Tria dan Timah janjian tanpa dia tahu. Dia sekarang telah berada di tambaknya. Kalau Sabtu dan Minggu tentu kalau tidak ada kegiatan sekolah, dia akan full di tambak baik untuk mengontrol semuanya maupun untuk evaluasi.


Herry akan pulang jam makan siang karena memang Bu Gendis minta kalau ada di rumah langsung semua kumpul makan siang.


Jam 10.00 Fitri dan Tria sudah selesai masak sedang dari tadi Yanto sudah pulang bersama anak-anak karena mereka juga harus makan buah jam 10.00 dan anak-anak biasanya tidur dulu kalau tidak sekolah.

__ADS_1


__ADS_2