
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kita mau ke mana Yah?” Tanya Timah tatkala Suradi minta sopir mengarah ke hypermart terlebih dulu.
“Tadi ibu Lina minta belanja buat bahan bahan salad pesanan Mbak Fitri Sebentar ya kita belanja dulu,” kata Pak Suradi pada Timah yang duduk di sebelahnya. Herry yang duduk di depan bersama pak sopir.
“Iya Yah, enggak apa-apa kok,” jawab Timah. Dia paling suka ke supermarket yang tak sama dengan pasar tradisional. Timah kecil berangan-angan akan bekerja di supermarket ketika besar nanti.
“Aku yang dorong ya Yah.”
“Kamu boleh dorong, tapi jangan nabrak-nabrak ya.” Timah hanya menjawab dengan anggukan dan mengambil dorongan trolly ari tangan Suradi.
“Ayah aku mau itu,” tunjuk Timah.
Suradi tentu senang Timah meminta sesuatu. Anak itu ditawari aja tak mau menerima walau semahal sepeda listrik. Jadi kalau anak tersebut mau minta itu hal sangat spesial.
“Itu apa? Yang mana?” tanya Suradi bingung dengan yang diinginkan anak angkatnya itu. Memang sejak Fitri memperkenalkan kedua adik Yanto saat Suradi sembuh dan pulang dari rumah sakit dulu, Suradi bilang pada Erlina kalau dia mau ambil alih semua kebutuhan biaya hidup dua anak yatim tersebut.
“Itu Yah,” tunjuk Timah.
“Keju slice ini?” tanya Suradi.
“Iya Yah. Aku ingin makan roti pakai keju yang seperti itu, bukan keju yang dipotong-potong atau di parut,” kata Timah dengan mata berbinar.
“Kamu mau berapa?” tanya Suradi, gadis kecil itu memang tak sampai makanya tadi minta pada Suradi untuk mengambilkan.
“Satu aja Ayah. Cukup,” kata Timah.
Perempuan kecil itu tak pernah memiliki ayah dalam arti sebenarnya karena saat dia masih kecil ayahnya sudah meninggal. Wajar kalau dia sekarang dekat dengan Suradi dan sedikit kolokan. Berbeda dengan Herry yang takut bila akan bermanja pada Suradi takut membebani lelaki tersebut padahal Suradi sangat senang karena hanya memiliki satu anak yaitu Fitri.
__ADS_1
“Kamu mau apa Mas?” tanya Suradi. Dia mengambil 5 bungkus keju slice sebagai stock alasannya. Padahal akan dia bawakan saat Timah pulang besok.
“Enggak Yah,” jawab Herry.
“Bagaimana kalau kita nanti beli satu kotak es krim kita makan bareng Mbak Fitri dan Mas Yanto?” Suradi
“Mau Yah, mau tapi aku pengen pakai itu yah, contong itu,” tunjuk Timah.
“Kamu mau beli cone. Ayah ambil ini ya, yang keci-kecil aja,” kata Suradi dengan senang. Dia ambil cone ice cream warna warni size super kecil.

“Kalian beli apa?” tanya Bu Gendis ketika kedua anaknya sudah kembali.
“Aku tadi minta es krim sama ayah,” jawab Timah tanpa ragu.
“Wah asyik Dek, kamu beli es krim rasa apa?” tanya Fitri antusias. Dia lagi suka yang segar-segar.
“Wah enggak ada yang vanilla ya atau yang duren?” tanya Fitri.
“Mbak kepengen itu?” tanya Herry.
“Iya Dek. Pas ngomong es krim kok Mbak jadi kepengen yang rasa duren atau rasa vanilla,” jawab Fitri.
“Sik, Mbak,” tanpa bicara apa pun Herry langsung meninggalkan ruang makan. SIK itu bisa diartikan tunggu sebentar ya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Yanto. Dia sedang duduk di ruang teras melihat besi dan segala macam perlengkapan tenda yang baru datang sedang diturunkan oleh para pegawainya. Sekarang Yanto tentu tak bisa ikut turun tangan walaupun sudah mulai sembuh. Tapi dia tidak boleh bergerak oleh Suradi, jadi hanya melihat saja walau pengen banget ikut membantu.
“Itu loh Mbak Fitri kepengen ice cream duren atau ice cream vanilla. Tadi ayah belinya ice cream strawberry dan coklat. Aku ta ke warung beliin dia yang kecil. kasihan nanti adikku kepengen es yang rasa itu.” jawab Herry sambil memakai sandalnya lalu pergi ke warung dekat rumah yang menjual ice cream cup kecil-kecil.
__ADS_1
‘*Ya ampun adikku sebegitu cintanya pada istriku. Aku enggak dengar sendiri sih, kalau aku dengar juga aku yang pergi ke warung kok. Enggak mungkin enggak. Herry aja tanpa disuruh sudah berinisiatif melakukan hal itu, suatu hal yang sangat bagus dan aku bangga padanya*.’
“Ini mbak rasa duren dan vanila kebetulan ada keduanya,” kata Herry menyodorkan tas kresek kecil berisi dua cup ice cream rasa vanilla dan durian.
“Kamu beli di mana Dek dan pakai uang siapa?” Tanya Fitri yang kaget atas attesinya Herry.
“Wiis tho, yang penting adikku enggak ngiler. Kata orang kalau lagi mbobot ( hamil ), lalu kepengen sesuatu, harus di turuti biar adik bayinya enggak ngiler,” kata Herry lagi.
“Ini bukan adikmu,” kata Erlina.
“Itu keponakanmu, jadi nanti kamu dipanggilnya Paklek atau Om ya,” jelas Erlina selanjutnya.
“Oh iya lupa, aku tahu kok itu keponakan, tapi aku kepengennya dia sebagai adikku.”
“Kan kamu sudah punya Timah?” cecar Gendis.
“Enggak, aku pengennya adek lelaki seperti yang diperut mbak Fitri.”
“Memang kamu tahu itu laki-laki kan dokter belum kasih tahu,” kata Erlina.
“Aku yakin dia laki-laki sudah beberapa kali aku bermimpi dia datang padaku dan dia panggil aku PAMAN, bukan paklek atau Om,” jawab Herry dengan senyum usilnya.
“Sok tahu kamu,” bantah Gendis. Mereka langsung tertawa.
“Asyiiiiiiiiik yo mbak bisa bikin es krim sendiri,” kata Timah. Maksudnya bikin sendiri adalah menuang ke cone, karena dia tinggal menyendoki es krim dalam kotak dipindah ke dalam cone yang dibelikan oleh Suradi. Tentu saja dia suka cone kecil warna-warni yang memang sangat menarik hatinya.
“Papa mau?” tanya Fitri begitu melihat Yanto masuk ke ruang tengah.
“Enggak. Aku enggak kepengen,” jawab Yanto. Dia hanya memandangi Fitri yang sedang asyik makan es krim durian. Biasanya Fitri tak terlalu suka es krim vanilla tapi yang kali ini dia kepengen yang vanilla dan kalau durian memang buah kesukaannya Fitri.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul REGRETS yok.
__ADS_1