
Herry kaget melihat ada motornya Tria ketika dia tiba di rumah, tapi mau bilang apa dia sudah tiba karena jam makan siang memang Gendis mengharuskan hari Sabtu dan Minggu kalau anak di Dekat rumah semua makan siang bersama.
“Sudah selesai Pa?” tanya Fitri ketika suaminya tiba hampir bersamaan dengan Herry.
“Sudah cuma engselnya aja bagian atas nggak kenceng jadi harus Papa ganti sekrupnya aja kok,” kata Yanto.
“Oalah kirain ganti semuanya,” jawab Fitri.
“Nggak, sepertinya sepertinya kayu cagak pinggir pintunya harus diganti karena sudah mulai lapuk, sehingga engselnya copot. Tadi Papa sudah bilang sama ayah suruh beli kayu. nanti Papa yang bikinin. Tadi mau Papa mau ganti enggak ada kayu buat penggantinya,” balas Yanto lagi sambil menyerahkan telur yang memang rutin Erlina kirim.
“Ya sudah sekarang kita makan yuk. Anak-anak tadi sudah makan belum?” tanya Fitri. Kedua putranya langsung diurus bu Yani begitu mereka tiba di rumah.
“Anak-anak sudah disuapin sama eyangnya,” kata Yanto.
“Tadi Timah sama Tria masak pindang patin, makanan khas dari Palembang Mama sudah cobain. Enak tapi buat lidah kita belum sesuai masih ada kurang sesuatu nanti Papa cobain deh kurang apa buat lidah kita kalau buat lidah Palembang atau lidah Lampung itu mungkin pas karena kan kita memang lebih banyak ke manisnya.”
__ADS_1
“Oke siap nyonya. Papa cuci tangan dulu lagi ya,” kata Yanto.
“Wah nikmat ini menu barunya,” kata Gendis saat mencicipi menu baru di keluarga itu.
“Iya Ibu, enak banget ini tapi kalau aku bilang ini kurang asem dikit ya Bu. sama apa ya?” kata Tria sambil berpikir kurang apa untuk lidahnya.
“Kalau di lidah aku ini kurang asem dan kurang garam Mbak. Tapi ya kurang gula juga. Kurang gimana ya aku jadi bingung sendiri.” kata Timah.
“Bener kurang asem dan kurang gula aja, garam enggak,” jawab Yanto.
Tentu saja Yanto senang sekali karena patinnya sekarang tambah menu baru.
“Kamu kenapa sih Mbak sejak tadi aku perhatikan kamu kok seperti sedih gitu,” kata Timah saat mereka sudah duduk berdua di Dekat kandang kambing. Memang ada sedikit bau kotoran atau urine kambing tapi tidak seperti kandang biasa, karena semua kotoran disini sudah tertampung sehingga bau tak sedap sudah sangat diminimalisir. Mereka nyaman duduk di sana.
“Aku lagi galau Dek. Di rumah suasananya tambah nggak bener,” keluh Tria.
__ADS_1
“Ada apa? Cerita aja sama aku,” pinta Timah. Memang beberapa kali Tria cerita masalah dalam rumahnya dan Timah memposisikan menjadi pendengar saja.
“Sebenarnya aku pengen cerita sama Mbak Fitri juga, tapi kan nggak enak ganggu Mbak Fitri sama mas Yanto. Nantilah kapan-kapan aku mau cerita sama Mbak Fitri,” sahut Tria. Dia ingin minta pandangan orang dewasa.
“Kalau cerita soal kesulitan hidup lebih enak sama Ibu. Ibu itu sudah penuh asam garam,” kata Timah.
“Mbak Fitri juga apa-apa cerita sama Ibu kok. Lebih enak cerita sama Ibu,” ucap Timah membuat Tria makin iri. Mamanya boro-boro jadi teman cerita.
“Kalau begitu boleh dong aku cerita sama Ibu?”
“Boleh aja. Ayo Mbak kita cerita ke Ibu. Mungkin Ibu bisa bantu. Kayanya Ibu nggak lagi ngapa-ngapain kok,” ajak Timah.
Timah dan Tria menemui Ibu Gendis. Fitri sudah sibuk dengan kedua putranya, Yanto sedang sibuk menjawab beberapa telepon dari konsumennya, sedang Herry sudah kembali ke tambak. Tugas rutinnya bila akhir minggu.
“Bu, aku bisa cerita nggak?” kata Tria lirih.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Gendis yang sedang duduk di teras. Dia sedang memetik bunga pepaya gantung.