
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Namanya Daanish Narendra Putra Bu, Daanish itu artinya orang yang berpengetahuan luas.
Kalau mas Daffa lengkapnya Daffa Maulana Putra. Daffa artinya orang yang memiliki pertahanan diri,” jalas Yanto.
“Becik, apik jenenge. Alhamdulillah,” Kata Erlina dia tak pernah protes dengan nama cucunya yang penting bermakna baik dan anak-anak juga selalu sehat.
“Iya Bu doakan saja kami semua selalu sehat,” pinta Yanto.
“Nanti Ibu langsung pulang ya sehabis bertemu dengan Fitri,” ujar Erlina.
“Kembali ke rumah Bu Gendis kan?” tanya Yanto memastikan.
“Iyalah kami menginap di sana ari-ari juga dikubur di sana aja. Kami mungkin dua atau tiga hari kok di desa. Enggak langsung pulang ke kota. Kami sudah bawa banyak bekal baju. Kami tahu kamu juga nggak bakalan pulang sebelum Fitri pulang dari rumah sakit. Jadi kami akan menemani ibumu menjada Daffa,” jawab Erlina.
Yanto sadar tadi telah salah menduga. Dia pikir mertuanya mau langsung pulang ke kota.
“Yah kabel dan lampu buat ari-ari sudah saya siapkan, nanti tanya ke Ibu di rumah saja. Saya sudah bikin panjang kok. Nanti tambah colokannya kalau kurang panjang,” Yanto memberitahu Suradi. Rupanya dia sudah menyiapkan lebih dulu keperluan ari-ari putranya.
Zaman dulu ari-ari pasti pakai lampu minyak atau sentir, sekarang menggunakan lampu bohlam.
“Ya nanti Ayah tanyakan pada ibumu,” kata Suradi. Saat itu Fitri sudah boleh pindah ke ruang rawat sehingga Erlina dan Suradi bisa menemuinya.
“Selamat ya Nduk. Ayah senang banget kamu sudah memberi tambahan cucu untuk Ayah,” Suradi mencium kening Fitri lembut penuh rasa syukur.
__ADS_1
“Terima kasih doa dan supportnya ya Yah. Atas doa Ayah Adik Daanish lahir sehat,” kata Fitri.
Erlina mencium kening putrinya. “Selamat ya Nduk kamu sudah bertambah lagi tanggung jawabnya.”
“Iya Bu, matur nuwun. Juga matur nuwun karena Ibu sudah memerintah bu Yati untuk tinggal bersama aku,” kata Fitri.
Fitri dan Yanto tak percaya diberi seorang yang bisa membantu untuk menjaga Daffa.
“Itu sudah kami pikirkan lama, kebetulan bu Yati kemarin sambat ke ibu dia ingin bekerja sehabis suaminya meninggal tiga bulan lalu. Minggu lalu dia ibu suruh datang ke Solo. Jadi Ibu sudah siapkan orang sebelum kamu telepon tadi pagi.” bu Yati itu saudara jauh ibunya Erlina. Sebenarnya bukan saudara, hanya orang satu kampung ibunya dari Cilacap tapi hubungannya akrab jadi serasa saudara.
“Nanti kalau bahasanya sedikit kasar ya kamu ngertiin dia belum terbiasa dengan bahasa Solo,” ucap Erlina.
“Ya Bu. Nanti aku ajari dia bicara secara toto kromo sini agar kalau saat dia mengajari Daffa tidak menggunakan bahasa Cilacap. Aku tahu semua bahasa itu baik kok, bagus cuma kan nanti kasihan Daffa kalau diejek teman-temannya karena bahasanya tidak sesuai atau sama dengan teman-temannya di sini.”
“Ayah dan Ibu pulang sekarang ya karena ini sudah tengah malam. Kasihan pak sopir. Lagian kami harus cepat mengubur ari-arinya agar tidak keburu bau. Tadi di rumah sudah disiapkan bunga rampainya oleh ibu Gendis. Ayah tinggal ngrumati , sambungan lampu juga sudah dibuatkan oleh Yanto,” kata Suradi.
“Injih Yah. Terima kasih sudah mau ngrumati ari-arinya Dek Daanish.”
“Enggak usah terima kasih, itu kan memang sudah kewajiban Ayah sebagai Eyangnya.”
“Aku dengar Ayah sama Ibu mau nungguin aku pulang dari rumah sakit baru pulang ke kota?” tanya Fitri.
“Iya nungguin kamu pulang dari rumah sakit dulu, paling tidak sepasaran ( hitungan jawa yaitu 5 hari ) baru kami pulang.”
__ADS_1
“Kenapa enggak sampai aqiqah sekalian Yah? Kita langsung buat aqiqah aja begitu aku tiba di rumah,” usul Fitri.
“Astagfirullah, Ayah lupa. Iya ya kamu harus langsung aqiqah. Ya sudah Ayah akan pulang sesudah aqiqahan saja. Nanti biar Mbok Parmi dan mbok Darmi langsung menyusul 1 hari sebelum acara aqeqahan.”
“Enggak apa-apa kok mereka enggak datang Yah. Kan semuanya kita pesan matamh saja.”
“Enggak bisa pesan semua, enggak bisa,” protes Erlina.
“Nanti yang satu dibikin untuk satu box, yang satu dibikin untuk prasmanan,” kembali Erlina mengatur karena dia tahu yang disembelih adalah dua kambing.
“Aku manut, nanti biar Mas Yanto yang beli kambing dan menyiapkannya ya Bu. Kalau soal masakan dan segala macamnya Ibu rembukan aja sama ibu Gendis,” Fitri tak mau ribut kalau urusan seperti ini. Dia akan membiarkan kedua ibunya bahagia dengan boleh ikut repot mengurusi acara cucu mereka.
“Nanti pasti Ibu bicara dengan ibu Gendis lah, enggak mungkin Ibu ngatur sendiri. Soal undangan untuk anak yatim piatu dan santunannya biar Ibu Gendis yang atur.”
“Uang santunan seperti yang lalu ya,” kata Suradi.
“Maksud Ayah bagaimana?”
“Satu Panti Asuhan biar dari uang Ayah, yang satu lagi kamu,” pinta Suradi.
“Manut. Yang penting besarnya sama sehingga tak terjadi perbedaan,” jawab Yanto.
Akhirnya Erlina dan Suradi pun pulang.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul ENGAGED TO HIS SON, MARRIED TO HIS DADDY yok.
__ADS_1