BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MODAL KAYU BAKAR


__ADS_3

“Kami pulang dulu ya Dek,” kata Fitri pamit pada Tria.


“Iya Mbak. Terima kasih sekali lagi dan jangan kapok kalau aku akan selalu ganggu Mbak,” balas Tria.


“Insya Allah kami nggak kapok kok. Kami tunggu kedatangan kamu untuk diskusi, juga kita masak lagi,” balas Fitri.


“Iya Mbak. Aku pengen masak lagi. Aku sudah dengar dari seseorang kalau ikan patin itu enak di pindang kata orang dari Palembang atau Lampung Mbak. Jadi besok kita googling dan cari resep pindang patin yuk Mbak?” ucap Tria.


“Ayo, biar bikin menu baru buat Mas Yanto. Dia kesukaannya ikan patin,” Fitri tak menolak bila diajak masak menu baru.


“Sip Mbak. Aku seriusan mau loh. Nanti aku kabarin kapan bisa ke sana untuk belajar,” kata Tria.


“Oke Dek,” Fitri pun langsung memeluk Tria dengan senang hati.


“Aku pulang belakangan ya Bu. Bantuin Mbak Tria dulu,” kata Timah pada Gendis dan Yanto yang memang agak jauh dari Tria.


“Iya,” jawab Gendis. Dia tahu Timah belum bisa langsung pulang karena proyek ini adalah proyeknya Timah bersama Tria.


“Nanti kamu telepon saja kalau sudah di pintu gerbang kampung biar Mas jemput,” ucap Yanto pada adik bungsunya.

__ADS_1


“Nggak Mas. Aku langsung naik ojek online dari sini saja. Aku juga nggak mau dianterin Mbak Tria. Pasti dia sibuk. Biar aku langsung saja dari sini sekalian. Nggak usah mutus-mutus,” kata Timah.


“Oh ya sudah nek ngono, hati-hati,” jawab Yanto mendengar keputusan adiknya.


“Iya Mas, aku akan hati-hati.”


“Alhamdulillah ya Dek semuanya lancar,” kata Tria saat semua tamu sudah pulang. Di sana tinggal dirinya bersama satu orang pegawai dan dua orang satpam yang sedang membantu bersih-bersih.


Juga ada dua petugas kebersihan lingkungan nanti pasti semuanya akan dapat uang tip dari Tria.


Tanpa disangka tadi Bu Lurah memberikan amplop dengan jumlah uang cukup besar pada Tria untuk digunakan sebagai bantuan modal atau operasional awal.


“Kamu jangan lihat jumlahnya dan kamu tak boleh menolak ini bantuan pribadi Ibu. Benar-benar dari kantong Ibu. Ibu nggak siap bawa uang banyak. Ibu bangga sama anak perempuan yang mau maju. Kita perempuan memang harus siap, karena belum tentu suami kita itu benar atau baik. Kita harus punya modal kayu bakar untuk diri kita sendiri nggak usah nunggu kayu bakar yang dicari oleh suami kita di hutan.” bisik bu Lurah tadi pada Tria.


Tria bisa mencerna kata-kata itu bahwa perempuan itu tak boleh bergantung pada lelaki apa pun kondisinya. Karena kita tidak tahu di tengah jalan dalam rumah tangga suaminya itu belok atau tidak.


“Tendanya kapan dibongkar Mbak?” tanya Timah.


“Kalau nggak salah sih habis magrib Dek. Memang kemarin juga dipasang sore datang itu jam 05.00.  Aku tanya dibongkarnya habis maghrib karena dihitung 24 jam sewa,” Jelas Tria.

__ADS_1


“Oh gitu, aku pikir dibongkar sekarang nggak apa-apa kan sudah selesai acaranya,” saran Timah.


“Atau lebih baik ditelepon saja Mbak, biar dibongkar lebih cepat. Sehingga ini kue juga masih bisa dimanfaatkan oleh yang bongkar. Ada beberapa kue yang masih sisa kok. Saya pisahkan yang masih utuh. Yang tidak utuh pun saya sudah bongkar dan jadikan satu,” kata satpam.


“Yang sudah tidak utuh jadikan satu, lalu bisa dibagi-bagi kan,” kata Tria.


“Jangan lupa juga bawa ke rumah, itu bukan makanan bekas kok. Makanan masih utuh dalam plastik. Hanya dalam tiap kotak tersisa satu kue kan bukan makanan bekas.”


“Saya mengerti Mbak. Maka dari itu saya kumpulkan. Selain buat di rumah, juga bisa buat tenaga bersih-bersih dan nanti tenaga yang bongkar tenda. Kita tinggal siapin kopi saja kan di pos satpam ada dispenser,” kata sang satpam.


“Ah bener Mbak. Kita harus beli dispenser buat di sini. Kalau kita ingin ngopi atau ingin sesuatu yang dingin saat ada di sini kita bisa bikin,” ujar Timah.


“Kayaknya aku ingin siapin kompor saja deh Dek. Kompor satu tungku,  beberapa panci kecil, piring dan mangkok selain gelas. Jadi kalau kita mau bikin mie bakso atau apa bisa. Nanti juga Mas yang jaga di sini bisa bikin kopi dan mie,” jawab Tria.


“Tapi dispenser tetap perlu Mbak. Kali saja kita mau bikin minum sirop dingin.”


“Oke. Akan aku adakan. Kebetulan tadi dapat rezeki dan bisa kita belikan buat modal beli kompor serta dispenser dan alat-alat masak sederhana di sini. Kita nggak akan kelaparan, kita taruh saja mie instan nanti kita tinggal bawa ke sini sayuran sama bakso,” kata Tria yang memang penggila mie bakso itu.


Tentu Timah senang usulannya diterima.

__ADS_1


__ADS_2