
“Assalamu’alaykum … assalamu’alaykum,” sapa seorang lelaki yang pagi-pagi ini sudah mengetuk pintu rumah Gendis.
Hari masih cukup pagi, baru jam 05.20 orang tersebut sudah bertamu. Kalau tak ada penting tentu tak mungkin pria itu mendatangi rumah Gendis.
“Wa’alaykum salam,” jawab Fitri. Dia sedang di dapur yang membukakan pintu karena Yanto sedang sibuk mengurusi Daffa.
“Siapa?” tanya Gendis.
“Sebentar Bu. Biar aku yang buka,” jawab Fitri.
Timah dan Herry sibuk di kamar Masing-Masing bersiap sekolah.
“Wa’alaykum salam. Ada apa ya Pak?” jawab Fitri setelah dia membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Pak Raharjo penjaga tambaknya Herry bagian belut.
“Mas Herry ada Bu Fitri?” kata Pak Raharjo.
“Sebentar ya Pak, saya panggilkan. Monggo lenggah rumiyen Pak,” kata Fitri menyuruh bapak itu untuk duduk dulu karena dia akan memanggilkan Herry.
“Sopo Nduk?” tanya Gendis.
__ADS_1
“Pak Raharjo Bu. Mau ketemu Herry. Sebentar saya panggilkan Herrynya,” kata Fitri.
Gendis pun langsung membuat minum teh untuk tamu dan ada serabi yang dia keluarkan juga
“Silakan minum Pak Harjo, sambil nunggu Herry,” kata Gendis. Dia sama sekali tak mau ikut urusan usaha anak-anaknya jadi tak mau bertanya ada apa pagi-pagi pada Harjo sudah mendatangi rumahnya.
Yanto keluar bersama Daffa dan berbarengan dengan Herry yang diikuti oleh Fitri.
“Ada apa Ma?” tanya Yanto.
“Itu di luar ada Pak Raharjo ingin bertemu sama Herry,” jawab Fitri.
“Aku juga belum tahu Mas ini baru mau keluar. Ayo kalau Mas Yanto mau tahu biar keluar bareng-bareng,” kata Herry. Dia sudah lengkap dengan seragam SMA nya.
“Iya sebentar Dek,” kata Yanto. Dia pun mengambilkan sarapannya Daffa. Ayo Mas Daffa kita sambil maem,” ajak Yanto pada puta sulungnya.
“Ada apa Pak Raharjo?” tanya Herry pada pegawainya karena pagi-pagi tumben Pak Raharjo langsung mendatangi rumahnya.
“Saya nggak tahu harus ngomong dari mana Mas Herry,” jawab Raharjo sedikit bingung. Seharusnya jam segii dia pulang dan tidur setelah jaga malam.
__ADS_1
“Memangnya kenapa?”
“Jam 03.00 saya masih keliling sama Pak Budi. Kita duduk di saung antara tambak kita dan tambaknya Pak Budi, lalu kami bikin kopi di situ. Pak Budi juga bawa pisang rebus makan di situ. Memang beberapa kali seperti ada orang menimpuk, baik ke tambaknya Pak Budi maupun tambak saya eh tambak kita,” jelas pak Raharjo.
“Awalnya saya pikir seperti buah sawo jatuh karena pohon sawo kan sering jatuh ke tambak, jadi saya nggak curiga begitu pun Pak Budi. Lalu kami tinggal sebentar salat subuh di mushola dekat situ.” pak Raharjo berhenti sejenak seakan berupaya mengumpulkan keberanian mengucap info yang akan dia laporkan.
“Sebelum pulang ke rumah, kami berdua kembali ke tambak untuk mematikan colokan setrum kejut. Saat itulah Pak Budi berteriak karena ikan patin nya sudah mulai mengambang dan tak lama saya lihat juga belut kita pun sama nasibnya. Rupanya lemparan itu bukan buah sawo tapi entah siapa yang melempar rupanya racun,” jelas pak Raharjo pedih.
“Jadi tambak Pak Budi dan tambak kita yang kena?” tanya Herry. Dia masih berusaha sabar. Tidak ada emosi di wajah anak tersebut.
“Iya Mas Herry, Pak Budi sekarang malah shock sekali karena patinnya siap panen dan dia berharap besar untuk panen kali ini. Dia akan ngirim uang untuk anaknya yang kuliah yang sudah menunggu uang semesternya.”
“Baik kalau begitu Pak Raharjo sama Pak Budi saya bisa minta tolong? Saya kebetulan sekarang kan lagi ujian semester juga. Saya nggak bisa melaporkan. Pak Budi dan Pak Raharjo langsung saja lapor ke perangkat desa juga ke polisi sesuai dengan kronologis yang ada. Nanti pulang sekolah baru saya urus yang lainnya,” kata Herry dengan sangat santainya.
“Pak Harjo nggak usah ketakutan saya akan menyalahkan Bapak atau bagaimana. Yang penting sesuai yang tadi saya bilang, Bapak lapor ke polisi dan perangkat desa saja agar masalah ini bisa ditangani oleh yang berwenang. Mohon maaf pagi ini saya benar-benar tidak bisa turun langsung karena saya sedang ulangan semester dan nggak mungkin saya minta Mas Yanto yang mewakili karena dia nggak ada hubungan apa pun dengan tambak,” kata Herry.
“ Baik Mas Herry, nanti saya bilang sama Pak Budi kita bikin laporan bersama,” jawab pak Raharjo.
“Ya udah Pak. Monggo di unjuk dulu,” kata Herry. Pak Harjo pun meminum teh dan memakan serabi yang disiapkan oleh Gendis
__ADS_1