
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Ayo Nduk kita pulang.” ajak Erlina pada putri tunggalnya.
“Lalu siapa yang jaga Mas Yanto Bu? Gimana kalau Ibu dan Bu Gendis aja pulang. Aku biar jaga di sini nanti suruh orang dari rumah bawakan bajuku juga peralatan mandiku biar aku yang jaga mas Yanto.”
“Biar Ibu aja yang jaga,” kata Gendis. Dia tak enak pada Fitri karena walau pun baru lisan, tapi Fitri sudah diberi talak oleh Bambang Putranto, anak sulungnya.
“Enggak Bu. Ibu harus istirahat. Lagian adik-adik kasihan kalau mereka ditinggal tanpa ibu. Ibu enggak usah berpikir bingung kalau aku yang tunggu. Secara negara aku masih istri sah mas Yanto. Jadi aku wajib tungguin Mas Yanto. Enggak apa apa, Ibu pulang aja ya,” kata Fitri meyakinkan ibu mertuanya.
“Iya ayo kita pulang aja,” ajak Erlina pada Gendis. Erlina mengetahui Fitri ingin berbakti pada Yanto. Walau bagaimana pun Yanto masih suaminya secara hukum negara.
Dengan berat hati Gendis pun meninggalkan Fitri di rumah sakit Purworejo.
“Kalau ada apa-apa telepon ya Nduk,” pesan Erlina.
“Tolong bawakan charger ponselku ya Bu. Sandal dan semua alat mandiku,” pesan Fitri.
“Nanti kamu tulis aja semua yang kamu minta. Ibu antar Bu Gendis dulu lalu nanti sopir yang lain kembali ke sini buat antar semua keperluanmu juga untuk makanmu nanti,” kata Erlina.
“Kamu jangan telat makan Nduk,” kata Gendis.
__ADS_1
“Ibu enggak ingin kamu juga ikutan sakit. Di sini bahaya kamu harus banyak minum vitamin biar tidak drop,” nasihat Gendis.
“Injih Ibu aku akan ingat semua itu.” jawab Fitri.
“Ibu tidak boleh ke sini sendirian, kalau Ibu mau ke sini nanti dijemput oleh sopir. Bilang sama aku biar aku kirim sopirku.di rumah kan ada telepon Herry. Bilang dia suruh hubungi aku, kapan pun Ibu minta jemput,” pesan Fitri pada ibu mertuanya.
“Aku akan marah kalau Ibu ke sini tanpa diantar sopir. Ibu enggak boleh pergi sendiri,” kata Fitri lagi mengingatkan Ibu mertuanya. Tentu saja Gendis tambah terharu melihat bagaimana tulusnya cinta dari Fitri untuk dirinya di luar keberadaan Yanto putra sulungnya.
“Ya Ibu akan bilang pada Fitri,” balas Gendis sambil memeluk menantunya.
“Yang sabar, Ibu harus kuat,” bisik Fitri dipelukan mertuanya.
“Insya Allah Ibu sabar,” jawab Gendis.
“Salam buat adik-adik ya Bu,” kata Fitri lagi.
“Telepon aja enggak apa apa. Aku pasti akan menjawab semua yang di tanjakan Ibu,” jawab Fitri.
Kedua ibu itu pulang dan Fitri masuk ke ICU sendirian. Fitri melihat wajah suaminya yang tidak terluka di wajahnya. Tak ada goresan luka wajah Yanto. Bagian dahinya memar karena dahinya terbentur oleh stir lalu ke dinding jendela sebelah kanan. Tangan kanan serta kaki kanannya patah karena jatuhnya bus adalah ke kanan.
Malam ternyata yang mengantarkan pakaian adalah Pak Suradi bersama sopir. Pak Suradi juga membawakan banyak makanan cemilan su5u, vitamin, membawakan gelas dan macam-macam buat Fitri.
Suradi memeluk putrinya dengan erat. Dia tahu bagaimana beratnya beban yang harus ditanggung putri tunggalnya.
“Ayah sudah dengar cerita ibumu, bagaimana Yanto bisa celaka karena mengetahui bahwa selama ini dia ditipu oleh perempuan busuk di Bogor itu.”
__ADS_1
“Iya Yah, dia sangat terluka sudah menjadi korban dan berpisah denganku,” kata Fitri terisak sambil memeluk ayahnya. Tadi di depan kedua ibu dia tak menangis sedikit pun. Sekarang baru dia ungkap semua sedih dan deritanya.
“Kamu harus kuat, karena supportmu itu dibutuhkan oleh dia untuk bertahan hidup,” kata Suradi.
“Entahlah Yah, Dokter bilang kemungkinan dia selamat itu kecil.” Keluh Fitri putus asa.
“Kamu ingat kasusnya Ayah waktu Dokter bilang tak ada harapan?” kata Suradi menggali ingatan Fitri.
“Saat itu sampai Ayah nikahkan kamu dengan Yanto secara tiba-tiba. Karena sebelumnya dokter sudah bilang Ayah tak akan mungkin kuat bertahan. Saat itu Ayah mendengar dokter bicara seperti itu pada suster. Mereka mengira Ayah masih pingsan jadi dokter tidak tahu kalau saat itu Ayah sudah sadar.”
“Itu alasan Ayah langsung memanggil penghulu dan segala macamnya karena Ayah mendengar kata-kata dokter pada suster. Berarti kan itu valid. Tapi nyatanya apa? Tuhan berkehendak lain sudah 4 tahun Ayah bertahan.”
“Jadi yang penting kita wajib berupaya, kalau dia sudah sadar nanti kita akan bahwa dia ke dokter spesialis yang terbaik yang penting sekarang dia bisa melewati masa krisisnya.” kata Suradi.
Mendengar support seperti itu tentu saja Fitri menjadi sedikit bersemangat.
“Kamu harus kuat, untuk itu kamu minum semua vitamin yang Ayah bawakan. Suplemen untuk kamu bertahan sehingga kamu tidak drop. karena kamu jaga sendirian. Ayah enggak bisa menemani kamu jauh-jauh.”
“Mungkin besok ada satu orang Mbok yang akan Ayah taruh di sini. Jadi kamu bisa berdua. Tadi belum kepikiran, sekarang baru Ayah ingat kamu harus ditemani seseorang.”
“Dina enggak mungkin kan temani kamu Dia sedang hamil lagi,” kata Suradi.
Dina memang sedang hamil anak kedua dan sekarang sudah masuk bulan ketiga. Rupanya Dina tidak sadar waktu berangkat ke Bogor dulu itu dia sudah mulai hamil anak keduanya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok