BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TERPERANGKAP GAYA HIDUP


__ADS_3

“Kalau Ibu tahu nak Fitri dari sebelum menikah sudah pakai mobil sendiri. Bukan mobil orang tua maupun mobil perusahaan dan Ibu juga tahu nak Yanto ini punya usaha sendiri. Makanya santai, jam kerjanya enggak seperti orang kantor biasa yang harus absen sesuai ketentuan jam kantor.”


“Mau tidak datang satu minggu atau satu bulan ke tempat usaha ya santai wae, namanya pengusaha,” kata seorang nenek yang mengantarkan seorang cucunya.


“Dan Ibu juga tahu, tanpa usaha Mas Yanto, Mbak Fitri punya puluhan kamar kost yang tiap bulan dana mengalir ke nomor rekeningnya, karena semua sudah jadi miliknya. Bukan milik orang tuanya lagi.”


Ina langsung tak percaya mendengar siapa yang dia hina sejak tadi.


“Sudah lah Bu. Enggak usah dijabarkan. Di atas langit masih ada langit. Sewajarnya kamai taak mau angkat muka. Masih banyak yang lebih hebat dari kami,” kata Yanto sadar diri.


“Kamu itu Nang. Ibu kenal kamu dari lahir hari pertama. Jadi Ibu tahu kalau kamu anak orang kaya. Tapi kamu tetap membantu teman temanmu sejak dulu,” kata sang nenek yang memang tahu sejak Yanto masih dalam kandungan Ibu Gendis.


“Oalah Ibu sudah tahu sejak Pak Yanto ini lahir toh?” kata beberapa ibu yang sepantaran Yanto atu Fitri.

__ADS_1


“Saya kan aslinya dari desa sebelah tempat keluarga Bbapaknya Yanto. Sampai Pak Suripto meninggal, lalu ibunya Yanto pindah ke sini ya saya tahu. Karena saya langsung ikut ke desa ini dengan suami saya,” jawab sang nenek.


“Sejak mereka kecil juga orang kaya. Tapi tak sombong kok. Dulu kedua orang tuanya tinggalnya di Singapura, bukan di sini. Tapi mereka ketika kembali ke desa mereka tak ragu menjadi petani. Tidak pernah ada kata sombong seperti orang baru kaya yang pakai mobil dari tempat suaminya bekerja,” ujar sang nenek pedas.


Ina tambah kaget mendengar fakta soal Yanto dan Fitri. Dan dia juga di sindir seperti itu menjadi malu.


“Ada apa ya Pak?” tanya Ubaydillah papanya Farhan karena dipanggil ke kantor cabang Solo. Dia kan hanya Kepala Kantor Cabang Unit di desa.


“Jadi sesuai instruksi dari kepala Cabang tingkat provinsi, mobil saya cabut dan kamu di mutasi menjadi pegawai biasa. Kamu juga diberi waktu satu minggu untuk keluar dari rumah dinas.”


Ubaydillah bapaknya Farhan kaget mendengar ultimatum kepala cabang Solo. Dia lemas dan segera kembali ke kantor unit desa yang baru saja dia pegang dan sekarang harus dia serahkan pada penggantinya.


Tentu saja Ina tak percaya dan dia jadi marah terhadap Fitri dan Yanto Karena dia pikir Yanto lah yang melaporkan penggunaan mobil dinas.

__ADS_1


“Kamu jangan cari masalah lagi. Pasti bukan orang tua di sekolah yang lapor karena kejadiannya baru tadi pagi di sekolah. Tapi orang unit yang tiap hari lihat aku naik motor bututku, bukan naik mobil dinas. Kamu sih yang terlalu ambisius dan sombong sehingga sekarang kita seperti ini.”


“Laporan itu sudah sampai ke kantor pusat provinsi di Semarang, artinya prosesnya bukan baru saja.”


“Ya sudah kita minta mutasi aja, balik ke Semarang,” kata Ina tak mau disalahkan.


“Memangnya bank itu punya kamu sehingga kamu yang mengatur? Masih bagus aku enggak di-PHK. Mau makan apa kamu kalau aku di PHK? Sekarang terima nasibmu ,karena kamu yang sombong. Kita merangkak lagi dari nol lagi,” jawab Ubaydillah sambil mulai berkemas memasukkan barang-barang pribadinya ke kotak.


“Kalau mulutmu dan kelakuanmu tidak sombong pasti tidak ada orang yang mengadukan kelakuanmu ke kantor pusat Solo.”


“Aku yakin yang lapor adalah orang dari unit yang melihat keseharianku tak pernah pakai mobil dinas. Dan mobil dinas bukan nongkrong di rumah tapi kamu gunakan buat gaya-gayaan.”


__ADS_1


__ADS_2