
“Ibu, bisa minta nomor dan alamat teman dekatnya Fitri saat SMA atau kuliah?” Pinta Yanto pada Erlina.
“Ibu enggak pernah mencatat atau menghubungi mereka, apalagi tahu rumah mereka,” kata Erlina jujur.
“Ibu punya gambaran di mana saya harus mencari Fitri?” tanya Yanto semakin putus asa.
“Ibu juga blank. Enggak tahu harus cari dia di mana,” balas Erlina jujur. Dia sama sekali tak pernah mengetahui nomor ponsel temannya Fitri apalagi tahu alamat rumahnya.” jawab Erlina lagi.
“Sudah kamu enggak perlu bingung mencari di mana anak ayah berada. Ayah yakin sebagai ibu dia pasti bertanggung jawab dan akan pulang mengingat ada anak-anak yang dia tinggal,” ucap Suradi pada Yanto.
“Silakan saja kamu jawab itu telepon yang sejak tadi terus menghubungi kamu. Rupanya dia belum puas ngobrol dengan kamu di sekolah tadi siang sehingga sejak tadi terus saja menghubungimu,” kata Suradi selanjutnya.
“Sekali lagi kamu bicara dengan dia, kamu enggak usah anggap ibu ada,” ancam Gendis geram.
__ADS_1
“Aku enggak punya hubungan apa pun dengan dia Bu,” kata Yanto membela diri.
“Mau kamu punya hubungan dengan dia atau tidak. Mau kamu sudah tidak lama bertemu atau baru kemarin bertemu Ibu tidak peduli. Silakan saja kamu bicara dengan perempuan itu. Perempuan yang sudah bikin anak ibu sakit hati,” kata Gendis.
Erlina hanya diam, sebagai ibu kandungnya Fitri malah dia sudah diwakili oleh besannya.
“Coba saja kamu blokir nomor itu. Pasti dia akan menghubungimu dengan nomor lain,” ejek Suradi.
“Perempuan seperti itu pasti akan mengejar kamu sampai ke mana pun kamu pergi,” kata Suradi karena dia melihat Yanto memblokir nomor Tini.
“Aku akan datangi bila bersama Fitri Bu. Enggak akan pernah aku datangi seorang perempuan sendirian tanpa istriku. Nanti bisa salah paham lagi seperti kasus Aisy kemarin,” jelas Yanto.
“Waktu itu saja, bukan aku mendatangi Aisy, tapi aku mendatangi pamannya karena hendak urusan jual beli. Ternyata malah berbuntut panjang karena foto dan telepon.” jelas Yanto.
__ADS_1
“Sudahlah Ibu enggak akan ikut campur masalahmu,” Erlina meninggalkan Yanto.
Timah masih terus diam. Dia merasa sangat bersalah karena kedua kakaknya mengurusi dia dan dia sendiri tidak di tempat membuat rumah tangga kakaknya menjadi ribut. Sudah hampir jam 5 sore Fitri belum juga pulang. Padahal Fitri tadi meninggalkan Timah dan Yanto sejak jam 9 pagi. Tentu saja Yanto jadi kalang kabut.
Seperti yang Suradi bilang, ada nomor baru masuk menghubungi Yanto.
“Lihat perempuan seperti itu pasti akan menghubungi kamu bagaimana pun caranya,” kata Gendis.
Yanto makin jadi serba salah dia benar-benar lupa memberikan nomor pribadinya pada seorang teman perempuan. Suatu hal yang tak pernah dia lakukan pada siapa pun karena nomor pribadinya hanya untuk dirinya sendiri. Semua urusan pekerjaan maupun sekolah Timah tadi menggunakan nomor kerjanya.
Yanto memandang trenyuh kedua putranya yang sedang bermain dengan gembira. Mereka tak tahu bagaimana perasan papa mereka yang sangat galau karena mama mereka pergi tanpa pamit.
‘Maafin Papa ya Nak. Sudah bikin mama kalian marah. Papa akan cari mama bagaimana pun caranya,’ batin Yanto. Kalau tak malu, ingin rasanya Yanto berteriak agar dadanya bisa plong.
__ADS_1