
Hari itu memang hanya Satrio yang datang. Tria tidak datang dan Tria memang maunya nanti datang itu hari Sabtu atau Minggu saat Herry tidak ada di rumah. Hari Sabtu dan Minggu tentu hari berkeliling Herry ke tambaknya. Tapi kalau libur begini mungkin saja dia ada di rumah terus karena ke tambak bisa dia lakukan sesekali. Itu membuat Tria makin malas menemani Timah. dia ingat sakit yang Herry tikam ketika dia bilang ingin berteman dengannya. Kata-kata itu membuat dia enggan dekat dengan Herry. dia tak mau di bilang masih menyukai adik kelasnya itu.
Tria sadar pernah salah mengungkapkan rasa suka. Tapi memang itu yang dia rasa. dia suka pada Herry apa adanya dan ingin kenal dekat. Bukan jadi pacarnya!
Yang membuat semu jadi parah adalah rumor yang mengatakan dia mencintai Herry!
Ditambah perlakuan Totok karena termakan rumors itu. Padahal maksud Tria suka, bukan menjurus pada pacaran.
Rasa suka Tria pada Herry, sama dengan yang Timah dan Satrio katakan pada masing-masing. Timah juga bilang dia suka pada Satrio. Buka sebagai pacar tentunya.
“Mas, aku suka banget bergaul sama Mas.” begitu Timah bilang saat itu di kandang.
“Sama Dek. Mas juga suka sama kamu. Semoga kita selalu bersama ya. Jangan sampai kita saling benci. Kita harus seperti ini bersama keluarga besar kita semua.” itu jawaban Satrio. Jelas-jelas Tria mendengar. Tak ada yang salah kan?”
Sama dengan pernyataan Tria kala itu pada Herry.
“Hai. Aku suka banget sama kamu. Kamu selain cakep, prestasimu hebat. Senang banget kalau kita bisa dekat.” itu perkataan Tria. Yang entah di dengar oleh siapa lalu disebarkan kalau Tria mencintai Herry.
__ADS_1
“Aku ingin kita bisa saling melengkapi dan jadi teman baik,” demikian kalimat Tria saat itu.
“Wah boleh Kak. Aku juga senang bergaul dengan Kakak,” begitu jawaban Herry sebelum rumor merebak. Herry masih bersikap manis. Tapi begitu rumors merebak Herry langsung antipati pada Tria. dia ketus dan jawabannya sangat menyakitkan.
“Kalau aku besok dapat kulit jeruk bali atau pamelo aku akan buatkan mainan mobil-mobilan yang lainnya,” kata Satrio.
“Nggak usah dipaksakan. Bahan yang ada saja Mas,” ucap Timah.
“Ayo semua makan,” ajak Gendis. Daffa dan Daanish tadi sudah disuapi oleh Bu Yani bukan disuapi sih. Diawasi makannya oleh Bu Yani karena baik Daffa maupun Daanish sudah terbiasa makan sendiri. Hanya perlu ditemani dan diperhatikan apakah mereka makan dengan benar. Kadang Daanish sering menyingkirkan sayuran yang dia tidak suka dan itu harus diawasi, diberi pengertian agar sayuran tersebut dia makan.
“Aku beberapa kali sudah nyicipin masakannya Mbak Tria. Walaupun memang masih kadang kurang garam, kadang kelebihan garam dan sebagainya tapi aku senang dia sudah mulai bisa masak. dan masakannya itu tidak seperti yang bibi kami bikinkan. dia bikin masakan yang beda dari menu kami sehari-hari. Seperti kemarin dia bikin pepes ikan kembung yang dia beli di pasar. Itu semua karena kami jadi anak Ibu,” kata Satrio di meja makan. Tentu kalimatnya untuk Gendis.
“Ibu senang bila kalian ada kemajuan bergaul dengan kami. Artinya hubungan ini tidak membawa hal buruk yang dibenci Allah.”
“Mungkin yang kamu maksud ayamnya dipedesin kan yang pakai daun kemangi?” tanya Gendis.
“Iya benar Bu. Pakai daun kemangi pakai cabe rawit utuh terus pedes juga sih,” kata Satrio.
__ADS_1
“Itu ayam rica-rica. Berarti dia mengambil dari Google karena kami juga jarang sih bikin ayam rica-rica di sini.” jawab Gendis.
“Ya pokoknya dia mulai bikin kalau pas liburan seperti ini. Memang tidak buat orang satu rumah. Paling hanya Aku dan dia saja yang makan. Kadang bibi ikut makan.”
“Yang penting kami sudah bereksperimen. Aku sudah bilang dia untuk mencoba beberapa kue, tapi dia males. Dia bilang kalau kue nanti-nanti saja. Yang penting dia bisa masak yang buat hari-hari. Itu yang lebih penting katanya.
“Benar, aku dari kecil dibiasakan ke dapur,” kata Herry.
“Jadi di keluarga kami bukan hanya perempuan yang masak. Mas Yanto juga bisa. Bukan ingin membuat kami menjadi banci atau apa. Tapi ibu bilang suatu saat nanti kalau kita berumah tangga ada saatnya istri kita sedang tidak bisa masak, entah itu sakit atau melahirkan atau pergi, kita laki-laki itu harus bisa masak mencuci dan hal lainnya.”
“Waktu ibu di Singapura, ayah yang masak. Semua bertukar tugas tapi kami nggak pernah mengeluh. Begitu pun ayah dan ibu. kami malah tim yang solid bukan saling menyalahkan tapi saling membantu.” kata Gendis.
“Itu yang Mas Yanto dan Mbak Fitri sekarang lakukan mereka selalu sharing dalam hal apa pun termasuk tugas rumah tangga. Tidak ada saling menyalahkan.” jelas Herry.
Satrio jadi ingat dulu waktu kecil selalu papanya bilang aku tuh udah kerja masa kamu kayak begini saja nggak bisa, selalu seperti itu jadi tugas ibu ya harus mberesin rumah, masak, dan segala macamnya. Walau selalu ada pembantu. tapi pasti ada yang harus dikerjakan ibunya. Dan ibunya tidak mengerjakan dengan benar maka papanya kalau pulang kantor marah-marah.
“Mas Yanto itu ngertiin mbak Fitri tanpa diminta. Saat Mbak Tria ke sini pun Mas Yanto akan langsung bawa anak-anak. Tanpa diminta dia membiarkan Mbak Fitri masak atau berbincang dengan mbak Tria tanpa diganggu anak-anak itu yang aku lihat,” kata Timah.
__ADS_1
“Benar saling pengertian itu yang memang diterapkan oleh ibu dan ayah jadi Mas Yanto juga mengerti seperti itu.” kata Herry membuat Satrio makin iri dan sedih. Dalam keluarganya tak ada komunikasi akrab seperti ini saat makan. Hanya tanya basa-basi kedua orang tuan bertanya soal prestasi apa yang dia dan Tria buat dan doktrin harus begini, harus begitu, tak boleh ini, dan tak boleh itu!