BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MEMBAYAR DENGAN PRESTASI


__ADS_3

Herry baru akan pulang selesai rapat OSIS. Masih ada beberapa teman yang ingin bicara dengannya. Dia sudah keluar ruang OSIS sehingga tidak terlalu suntuk kalau berada terus di dalam ruangan. Tanpa sengaja dia melihat Tria dan Andre bergandengan menuju tempat parkir.


‘Kalau berteman itu nggak ada rasa jealous, nggak ada rasa cemburu nggak boleh mengatur aku mau bergaul dengan siapa saja atau aku mau makan dengan siapa saja saat istirahat!’


Ketentuan syarat berteman yang dia ucapkan pada Tria langsung terngiang di telinga Herry. Saat ini dia merasa marah bercampur pedih melihat Tria dengan Andre.


Tapi mau bilang apa? Semua itu ketentuan yang dia buat. Dia tak boleh menjilat ludahnya sendiri.


Herry ingat semua perkataannya itu, jadi sekarang dia yang kena boomerang. Senjata itu kembali ke dirinya. Dia yang terluka dengan kata-katanya sendiri. Sekarang dia tak boleh jealous atau cemburu pada Tria. Dia juga tidak bisa mengatur Tria mau bergaul dengan siapa atau Tria mau makan siang sehabis pulang sekolah dengan siapa atau saat istirahat pun makan dengan siapa. Karena itu adalah omongannya dia sendiri saat Tria bilang ingin berteman dengan Herry dulu.


Sejak pertemuan minggu lalu di kandangnya Tria memang Herry juga tak pernah ngobrol dengan gadis tersebut karena tak ada alasan apa pun untuk ngobrol. Dia berhubungan hanya dengan Satrio untuk masalah OSIS.

__ADS_1


“Her, kamu ke mana nanti liburan?” tanya seorang kawan pengurus OSIS.


“Satu minggu pertama aku dapat tugas dari kakakku menjaga anak-anaknya. Karena kakakku mau honeymoon. Jadi aku hanya akan di rumah sambil mengerjakan beberapa materi untuk bahan kegiatan kita semua. Materi ini akan aku rangkum juga akan aku rinci satu persatu. Nanti biar kita samakan pendapat lagi saat kita sudah masuk sekolah,” kata Herry pada Banu, sekretaris OSIS.


“Harusnya kamu cari seorang perempuan buat sekretaris. Biasanya mereka lebih rinci dan teliti,” kata temannya tersebut. Banu dari kelas 11 IPS.


“Wah enggak lah. Itu sudah aklamasi dari rapat. Jadi nggak usah macam-macam aku cari sekretaris sendiri. Kayak direktur saja. Cuma OSIS saja kok neko-neko,” kata Herry dengan tersenyum.


“Ya sudah yuk, pulang. Sudah siang banget. Para orang tua juga sudah pada pulang semua. Sepertinya para wali murid sudah nggak menunggu orang tua yang terlambat datang,” ujar Banu memandang sekeliling lingkungan sekolah mereka.


“Ya aku juga mau siap-siap, takutnya kakakku sibuk packing buat berangkat besok.”

__ADS_1


“Oh berangkatnya besok?” tanya Banu.


“Entah aku kurang jelas, besok atau lusa. Mungkin lusa. Kayaknya besok mereka mempersiapkan anak-anaknya dulu. Kan hari ini mereka full ambil raport.”


“Koq full ambil raport?”


“Ya iyalah. Mereka mengambil rapot aku dan rapot adikku. Adikku kan masih SMP kelas 7,” jawab Herry.


“Ah aku lupa. Adikmu itu. Aku kagum sama adikmu. Kemarin aku lihat dia meraih prestasi di yayasannya. Karena ada pamanku kerja di sana dan cerita tentang adikmu,” jelas Banu.


“Alhamdulillah, karena memang hanya itu yang bisa kami persembahkan buat ibu dan mas Yanto. Kami hanya bisa persembahkan prestasi dan kelakuan baik kami. Tidak ada yang lain. Kami belum bisa membayar dan tak akan pernah bisa membayar jasa mereka mendidik dan membiayai hidup kami.”

__ADS_1


Banu tertegun dengan prinsip hidup yang Herry barusan katakan bahwa mereka hanya bisa membayar dengan berkelakuan baik dan berprestasi.


__ADS_2