BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
ANAK NOMOR SATU, PEKERJAAN NOMOR DUA


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 “Kalau kata orang dulu, kamu harus banyak nungging entah itu ngepel entah itu salat atau banyak kegiatan yang membuat bo-kongmu lebih tinggi daripada perut.  Nanti si bayi akan berubah posisi,” Erlina memberi masukan  ketika Fitri melaporkan kondisi yang dia rasakan dan mengapa hari ini dia berlari ke dokter.



“Lalu apa saran dokter?” tanya Suradi.



“Aku diperintah suruh ikut senam hamil khusus buat para ibu yang bayinya sungsang.



“Coba kamu tanya Diah, bayi pertama dia kayaknya dulu sungsang. Gimana caranya dia bisa lahir normal. Kamu jangan kepikiran takut. Itu nanti tidak baik buat psikismu dan psikis bayimu,” nasihat Erlina selanjutnya.



“Baik Bu, aku akan tanya mbak Diah,” jawab Fitri.



“Ibu juga nanti akan tanya pada Bude bagaimana dulu yang dilakukan oleh Bude sehingga Erlina  bisa berubah lagi bayinya,” Erlina tahu semua harus mendukung Fitri agar bisa semangat menghadapi kejadian seperti ini.



Segala macam upaya dilakukan oleh Fitri agar kondisi bayinya kembali ke posisi normal yaitu mulai masuk ke jalan lahir. Tentu saja Yanto tak pernah lepas dari salat malam. Dia juga sangat mendukung semua upaya yang dilakukan oleh keluarga Dinda.



“Kenapa Nang?” tanya Gendis.



“Posisi bayinya kami sungsang Bu,” Yanto melapor pada sang ibu, tentu agar diberi doa.

__ADS_1



“Banyakin salat malam, kamu minta ke Allah agar bayinya dikembalikan lagi ke posisi yang normal. Nanti Ibu mintakan air dari Pak Kyai sini. Semoga aja berhasil merubahnya,” itu pesan bu Gendis yang benar-benar Yanto laksanakan.



Usaha medis dan non medis memang dilakukan oleh Yanto dan keluarga Fitri. Yanto juga selalu mengantar Fitri pulang pergi saat senam hamil untuk ibu dengan bayi sungsang.



“Ibu ini bayinya sudah mulai bergerak ya, rajin terus senamnya. Juga semua upaya yang dilakukan sekarang ini, karena ini mulai bergerak kembali ke arah normal,” jelas dokter setelah 3 minggu Fitri berobat juga berupaya.



Memang waktu itu dokter bilang 1 bulan kemudian harus kembali. Tapi Fitri merasakan perubahan jadi baru 3 minggu dia sudah kembali ke dokter.



“Yank, hari ini mau ada pembelian mobil. Kamu sampai jam berapa ya senamnya?’ tanya Yanto. Karena kadang walau sudah selasai jamnya Fitri masih saja terus berlatih.



“Jam 09.00 Mas, seperti biasa,” jawan Fitri




“Kita makan siang dulu baru kita ke tempat penjual.”



“Kenapa enggak pagi aja sebelum kita makan siang Mas?” kata Fitri.



“Nanti keburu diambil orang lain.”


__ADS_1


“Kalau sudah diambil orang berarti itu bukan rezeki kita. Enggak usah berpikir seperti itu ya Dek. Yang penting kita usahain berobat buat baby dulu. Enggak keburu-buru selesai lalu makan,” kata Yanto. Dia tak mau anaknya dijadikan nomor 2 dari bisnis.



“Anak itu nomor satu, bisnis itu nomor dua. Ingat itu, jangan duluin bisnis daripada anak,” Yanto mengingatkan Fitri.



“Astagfirullah. Maaf ya Mas. Aku salah, aku malah memikirkan bisnis lebih dulu daripada senam buat kepentingan anak kita,” keluh Fitri tersadar dari kesalahannya.



“Iya enggak apa apa, untuk selanjutnya kamu harus berpikir dua kali dulu sebelum bertindak. Memang itu adalah pembelajaran kita sebagai orang tua karena saat ini kan kamu belum berpikir langsung ke anak,” jelas Yanto sambil mengecup kening istrinya dengan lembut.



‘Alhamdulillah dia memang lelaki terbaik buatku,’ kata Fitri dalam hatinya. Fitri bangga menyadari bagaimana Yanto lebih mengutamakan dia senam untuk kelancaran kelahiran daripada urusan mencari barang buat dagangan mereka.



‘Aku memang teramat bodoh sehingga lebih mementingkan urusan pekerjaan daripada urusan senamku. Padahal senam buat anak kami. Aku akan selalu belajar agar menjadi yang terbaik buat anak dan suamiku,’ Fitri memeluk erat suaminya dan bertekad dalam hatinya akan selalu lebih mementingkan anak dan suaminya.



“Masih ada Pak?” tanya Yanto saat Fitri telas selesai senam.



“Masih. Memang ada beberapa yang lihat tapi belum jodoh sehingga belum terjual kok,” kata si penjual mobil yang dihubungi Yanto.



“Selesai makan kami meluncur ke tempat Bapak untuk melihat kondisi barang.”



Akhirnya setelah makan Fitri dan Yanto menuju rumah orang yang mau jual mobil.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok.



__ADS_2