
Sama seperti kemarin Yanto datang ketika Suradi dan Erlina sedang makan malam bersama Fitri kali ini mereka makan bersama karena jatah makan dari rumah sakit milik Fitri juga sudah datang sejak sore.
“Sini Nto. Ini Ibu bawakan memang sengaja buat kamu juga.” Ajak Erlina
“Sudah Bu, saya sudah bawa juga kok. Nanti malam saya baru makan,” kata Yanto menolak ajakan Erlina.
“Sudah bareng saja. Nanti malam makan lagi tidak apa-apa,” Suradi mendukung ajakan istrinya.
“Iya Bu. terima kasih,” Kata Yanto. Dia tetap tak menghampiri mereka untuk makan. Yanto mulai beres-beres barang yang sudah tidak dibutuhkan ke dalam tas kosong yang dia bawa. Besok pagi tinggal finishing saja.
“Sini Pa, makan sama aku,” Fitri mengajak suaminya. Karena Fitri yang mengajak Yanto pun tak enak hati. Dia menghampiri perempuan itu.
“Kamu makan aja, kamu harus banyak makan biar cepat pulih,” ucap Yanto lembut dan pelan.
“Aku tidak sakit kok, tanganku cuma retak saja. Kondisi keseluruhan badanku juga sehat. Tidak ada hambatan apa pun. Menu makanku juga standar aja. Tidak ada larangan apa pun. Ini aku juga tambah lauk menu dari rumah,” kata Fitri.
“Ya sudah nanti aku makan belakangan,” jawab Yanto. Dia kembali menjauh dari Fitri.
__ADS_1
“Ayah langsung pulang ya. Ayah pikir Yanto masih lama jadi Ayah makan dulu takut kemalaman,” kata Suradi.
“Iya Yah. Tidak apa-apa,” kata Yanto.
Setelah Suradi pulang, Yanto membikin kopi lebih dulu daripada makan malam.
“Mas sudah tahu kan aku boleh pulang besok?” kata Fitri membuka wacana pembicaraan malam ini.
“Iya, Mas sudah tahu. Besok pagi Mas urus administrasinya. Jadi bisa langsung pulang. Mas juga sudah tahu kamu minta langsung pulang ke rumah desa,” ujar Yanto sambil mengisi air panas ke gelas kopinya.
“Iya,” jawab Yanto sambil mengaduk kopinya.
“Ibu besok sudah mau pulang ya,” kata seorang perawat yang kontrol malam ini.
“Benar Suster. Insya Allah besok saya pulang,” jawab Fitri.
“Jangan lupa surat kontrolnya ya Bu. Besok begitu urus administrasi akan dapat surat kontrol,” jelas suster tersebut.
__ADS_1
“Ya Sus. Besok pagi suami saya urus surat administrasinya,” jawab Fitri lagi.
“Mari Ibu, selamat rehat,” pamit suster.
“Mas sini tidur sama aku,” pinta Fitri.
“Silakan aja. Aku mau makan dulu ya,” kata Yanto menghindar. Dia pun mulai mengambil makan malam yang tadi dia bawa. Yanto sengaja menghindar. Yanto makan sambil menonton TV.
“Nanti habis makan ke sini ya Mas,” pesan Fitri tetap sabar. Dia ingat saat mendekati Yanto ketika bujangan juga harus ekstra sabar.
“Iya,” jawab Yanto.
‘Aku harus menghindar bagaimana lagi?’ pikir Yanto sambil makan. Dia memperlambat makannya. Berharap Fitri tidur kelelahan karena bosan menantinya.
Ternyata harapan Yanto sia-sia. Karena sambil menunggu Yanto selesai makan, Fitri menghubungi Timah dan kedua perempuan beda generasi itu malah bercerita asyik tanpa bisa dihentikan. Tentu saja Yanto mati kutu. Tak ada harapan lagi dia menghindar.
Yanto pun mengalah pada keadaan. Dia membereskan tempat makannya dan sengaja membersihkan agar tak bau basi. Sesudah itu Yanto membersihkan diri dan mulai mendekati ranjang rumah sakit yang tak cukup besar untuk tidur dua manusia dewasa.
__ADS_1