BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MENCARI SOLUSI


__ADS_3

“Yank kirim pesan pada teman-teman. Kita ada di kafe sehingga nanti mereka tidak menanyakan di ruangan mana,” pinta Herry sambil menambahkan saus sambal di mangkoknya.


Tria pun mengikuti permintaan Herry. Dia langsung memberitahu posisi mereka di mana. Saat itu ternyata Andre sudah di lobby rumah sakit dan baru hendak bertanya ke mana dia menuju.


“Kamu kenapa tadi nggak bilang sama Kakak jadi kita langsung berangkat bareng,” protes Andre.


“Aku pikir Kakak futsal dulu. Jadi aku langsung meluncur,” Tria memberi alasannya. Kalau langsung dengan Andre tentu dia tak ada kesempatan berdua dengan kekasihnya.


“Aku malah lupa bilang sama Harry. Pada saat dia nanyain ke mas Herry baru mas Herry bilang di rumah sakit, lalu Harry telepon aku, tapi aku sudah on the way ke sini,” kata Tria lagi. Harry memang tahu dari Herry karena dia ingin pulang bareng dan beli belut di tambak Herry pesanan uminya.


“Kamu pesan mie atau mau makan nasi atau soto ada tuh Kak,” kata Tria.


“Enggak lah aku masih cukup kenyang,” jawab Andre malas.


“Tapi melihat bakso pangsit kalian kayaknya enak deh.” Andre pun langsung memanggil pramusaji. Saat itulah Satrio dan Harry datang bersamaan walau dari sekolah yang berbeda. Keduanya bertemu di arena parkir. Satrio sampai izin pada teamnya karena kondisi ini.

__ADS_1


“Kalian langsung pesan saja kalau mau. Jadi mbaknya ini nggak bolak-balik,” kata Andre pada Satrio dan Harry.


“Aku tunggu Timah saja lah. Kasihan nanti dia nggak ada teman makannya,” jawab Satrio.


“Timah kayaknya nggak ke sini. Dia bilang dia akan ada di sekolah sampai jam 05.00 sore nanti. Aku sudah suruh dia langsung pulang saja ke rumah desa. Kasihan adik-adik,” kata Herry memperlihatkan pesan Timah yang baru dia terima.


“Oh baiklah kalau begitu. Aku akan langsung pesan,” jawab Satrio.


“Kak, barusan Mas Herry bilang, Mas Yanto bingung kondisi Mbak Fitri yang lagi hamil tapi memikirkan ibunya dan di lain pihak ada adik-adik di rumah desa. Adik-adik nggak mungkin dibawa ke rumah kota karena mereka mulai sekolah dan sedang akan ulangan semester,” Tria membuka forum diskusi mereka.


“Apa peran kita selanjutnya? Kita bisa apa membantu mereka?” kata Tria pada Andre, Harry dan Satrio yang serius mendengarkan.


“Ya memang seperti itu. Aduh dodol juga nih,” kata Satrio.


“Justru itu yang tadi Mbak Tria bilang. Ada masalah seperti ini bagaimana peran kita membantu mereka,” lanjut Satrio.

__ADS_1


“Kalau merawat adik-adik itu nggak jadi masalah buat aku Timah, juga dua mbok di rumah. Masalahnya batin Mbak Fitri yang harus kita pikirkan pada saat seperti ini. Dia sedang hamil, dia nggak mungkin wira-wiri tiap hari berangkat ke kota setelah anak-anak sekolah. Tapi dia juga nggak mungkin ninggalin ibu di sini sendirian,” kata Herry menjelaskan apa yang Tria telah ungkap tadi.


“Aku tadi bilang Mbak Fitri kita bawa pulang dan tiap hari bisa zoom dengan Mas Yanto atau ayah Suradi yang di sini. Aku bilang ayah juga tidurnya di rumah kota saja datang saat siang malam tetap Mas Yanto sendirian,” kata Tria.


“Kita akan bilang saja, pulang sekolah kita menemani adik-adik. Bagaimana?” kata Andre.


“Kan yang kita harap Mbak Fitrinya mau pulang ke rumah, bukan masalah jaga adik-adik,” kata Satrio.


“Oh iya ya, salah aku. Maaf,” kat Andre lagi.


“Tugas kita yaitu membujuk agar Mbak Fitri mau kita bawa pulang, juga ibu Gendis,” ucap Herry.


“Atau begini saja. Kita bilang setiap pulang sekolah kita stand by di rumah desa. Jadi kalau ada apa-apa kita siap antar mbak Fitri ke rumah sakit. Semua kita bisa nyetir kok. Nggak ada yang tak bisa nyetir mobil kan? Walau kita memang semua belum ada yang punya SIM A. Bagaimana?” usul Satrio.


“Jangan semuanya lah. Kita bikin jadwal saja sehari dua orang lah. Jadi juga rumah nggak terlalu penuh dan bikin ribet, bagaimana?” kata Harry.

__ADS_1


“Ya bisa seperti itu. Kita bilang kita stand by dari pulang sekolah. Aku siap nginap kok,” kata Tria.


“Ya pasti kita diizinkan menginap oleh orang tua kita,” kata Harry yang sekarang orang tuanya sudah mengerti bagaimana kegiatan dia dengan kelompok ini.


__ADS_2