
“Wah dapat jambu dari mana ini?” tanya Satrio melihat Tria membawa jambu air yang sudah dicuci.
“Pujo, dia bawa ini, entah dapat dari mana,” jawab Tria lalu dia mulai duduk dan meracik tambahan mie miliknya.
“Itu pakai bumbu cabe rawit dan garam enak banget,” katanya Herry.
“Oh iya, nanti habis makan mie. Eh sekarang dimakan mienya,” kata Tria.
“Mbak Tria, kak Andre bilang nanti malam mau ngobrol,” Timah memberitahu pesan Andre tadi.
“Iya, aku juga sudah kangen sama dia. Lama dia nggak ke sini,” jawab Tria sambil mulai mengunyah mie miliknya. Dia mengambil kerupuk.
“Terakhir itu waktu habis dari tokonya Satrio, janjian di toko Satrio lalu ke sini,” jelas Tria.
“Katanya dia sudah tidak jadi pengurus OSIS ya?” kata Satrio.
“Iyalah. Dia kan sudah kelas 12. Jadi nggak boleh. Kalau di sekolah kami pengurus OSIS tidak boleh ada yang dari kelas 12,” jawab Tria.
__ADS_1
‘Pengurus OSIS, kelas 12, satu sekolah dengan Tria. Apa Andriansyah ya? Jadi dipanggilnya Andre?’ duga Herry.
‘Berarti Timah pun kenal dengan lelaki tersebut dan akrab. Sampai Timah berani bilang kangen juga,’ Herry sangat penasaran dengan lelaki yang sering bersama Tria di sekolah.
‘Tria pun ngomong kangen di depan adik-adiknya tanpa malu. Berarti memang hubungan mereka sudah sangat akrab,’ pikir Herry lagi
‘Kok aku jadi sedih seperti ini ya?’
“Enak nggak Her?” kata Satrio. Dia tentu tidak memanggil Mas atau Kak karena mereka sepantaran.
“Kayak Mas Pujo. Walau sudah mie super pedas dia tetap tambah cabe rawit,” kata Timah yang sudah hafal kesukaan semuanya.
“Aku meneh,” kata Pujo. Memang dia harus makan bareng dengan ketiga majikannya tersebut. tidak boleh makan sendirian di belakang seperti sebelumnya. Tria dan Satrio selalu bilang mereka itu sama levelnya tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah.
“Kak Andre aneh ya. Nanti malam mau ngobrol sama Mbak Tria tapi besok mau ke sini,” kata Timah.
“Ya kalau ngobrol kan beda sama ke sini. Kalau ke sini dia kadang nggak sempat ngobrol. Dia lebih senang memperhatikan kelinci-kelinci atau kadang dia mengamati konsumen yang datang. Karena biasanya hari Sabtu dan Minggu itu banyak konsumen sejak pagi. Jadi aku nggak bisa nemenin dia ngobrol, lebih banyak dia memperhatikan konsumen saja. Tapi memang dia suka. Kalau hari Sabtu atau Minggu lebih banyak nongkrong di sini daripada dia di rumahnya. Itu yang sering bikin mamanya ngamuk-ngamuk bolak-balik dia di telepon.”
__ADS_1
“Nanti Andre akan berikan teleponnya ke aku bahwa memang membuktikan Andre itu ada di kandang aku bukan di tempat lain. Jadi mamanya agak tenang kalau memang Andre ada di sini seharian,” kata Tria.
“Aku juga kangen sama mamanya kak Andre,” kata Timah.
“Ah kamu sih kangen sama semua orang. Sama aku saja enggak kangen,” protes Satrio.
“Bukannya tadi malam aku bilang ya aku kangen Mas Iyok makanya aku setuju kita ketemuan hari ini?” jawab Timah.
“Wah aku kalau kamu ngomong kangen aku nggak denger sih,” jawab Satrio membuat dia habis dipukuli lengannya oleh Timah karena kesal Satrio menggodanya seperti itu.
Herry merasakan terasing di antara mereka semua karena ternyata hanya dia yang tak akrab dengan kelompok ini.
“Kalian rutin bertemu?” tanya Herry.
Kalau bertiga gini jarang. Kami biasanya janjian kalau mau bertemu bertiga. Seringnya aku bertemu dengan Timah atau Mbak Tria bertemu dengan Timah. Tapi kalau untuk bertiga pasti kami janjian entah di sini entah di toko aku mau pun kita makan di tempat lain. Tapi sejak kita lebih senang makan mie buatan sendiri. kita selalu mencoba jenis mie baru kita lebih banyak ngumpul di sini.” kata Satrio lagi.
Kebetulan kami semua memang penggila mie. Mie jenis apa pun. Jadi kami memang lebih senang masak sendiri. Kalau ketemu mie jenis baru kami akan langsung beli minimal 5 bungkus untuk kami coba bersama.”
__ADS_1