BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
DEDE’ NGAMBEK ENGGAK MAU MAEM


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Begitu keluar ruangan Yanto disambut oleh Gendis dengan pelukan dan ciuman dari seorang ibu yang sangat merindukan anaknya. 32 hari Yanto tidak sadar tentu saja membuat Gendis sebagai seorang ibu ketakutan.



“Sudah Bu, jangan menangis. Ayo kita kembali ke ruangan yuk,” ajak Fitri pada ibu mertuanya. Gendis pun melepaskan pelukannya pada Yanto. Dia berjalan bersisian dengan Erlina.



Seperti saat berangkat ke ruangan poli kebidanan tadi, pulangnya pun Fitri tetap menggenggam tangan kanan Yanto karena tangan kirinya diinfus. Suradi yang mendorong pelan kursi roda menantunya.



Di ruangan Yanto langsung dibantu suster untuk naik keranjang.



“Bapak, Bapak masih pakai pampers ya. Kalau ingin buang air besar Bapak bilang aja, nanti kami bantu. Kalau untuk buang air kecil agar tidak bolak-balik Bapak tetap harus pakai pampers aja. Kalau terlalu banyak gerak nanti kepala Bapak bahaya, kita belum cek ulang. CT Scan baru akan dilaksanakan besok,” kata suster menjelaskan pada Yanto.



“Ya Suster,  saya mengerti,” jawab Yanto. Tentu dia ingin segera sembuh agar biaya tak membengkak. Untuk itu dia tak akan melawan ketentuan dokter.



“Suster, apa suami saya sudah boleh makan semuanya?” tanya Fitri.



“Sebenarnya boleh Bu, apa aja boleh. Tapi pertimbangan dokter karena lambung bapak sudah kosong selama lebih dari sat bulan, maka makanan dalam beberapa hari ke depan semua makanan lunak. Agar lambung tidak kaget,” jawab suster.



Semua mendengarkan apa yang suster terangkan agar Yanto tak mendapat kesulitan lagi.



Fitri memberikan jus kepada Yanto untuk diminum dia sodorkan sedotannya ke bibir suaminya. Yanto mengamati sedotan tapi matanya tetap ke mata Fitri, di sana Yanto melihat mata yang penuh cinta sama seperti ketika awal pernikahan. Mata  yang selalu mencintainya tanpa reserve.


__ADS_1


“Yanto, Fitri” kata Pak Suradi saat suster telah keluar semua. Di ruangan itu hanya ada mereka berlima.



“Kalian ingat kan? Waktu di Bogor kalian pernah bercerai secara agama.” Fitri dan Yanto tentu tak akan pernah melupakan sejarah kelam itu. Cinta mereka yang terpaksa harus diputus karena Fitri tak rela dimadu.



“Ayah sudah mencari solusinya. Sejak menerima khabar sadarnya Yanto Ayah sudah memikirkan langkah selanjutnya. Nanti malam akan ada pak ustad ke sini untuk kembali menikahkan kalian secara agama karena biar bagaimana pun diantara kalian sudah ada talak. Itu artinya kaliansudah bukan suami istri dalam hal apa pun.”



“Ayah tahu, Fitri sudah sadar kekeliruannya dan Yanto juga seharusnya sadar. Kamu salah besar menyembunyikan rahasia pada kami sehingga terjadi perbuatan yang tidak kita inginkan. Kalau sejak awal kamu cerita tentang jebakan tersebut tentu kita akan cari jalan keluar bersama. Bukan kamu hadapi sendiri dengan cara salah.”



“Iya Yah, saya mengaku salah,” jawab Yanto lirih dan tersendat.



“Nanti malam Pak Ustadnya akan datang, Ayah sudah minta dia datang sejak tadi pagi, tapi  pak ustad tidak bisa karena sibuk. Pak ustad bisa datang nanti habis magrib, itu pun tak bisa lama karena sehabis Isya dia punya jadwal lain.




“Dan aku juga minta maaf karena telah tak sabaran langsung minta talak tanpa menunggu penjelasan dari Mas Yanto.” Fitri mengakui kesalahannya.



“Siapa pun akan berlaku seperti itu, melihat suaminya punya seorang istri lain yang sedang hamil,” Gendis membela menantunya.



“Benar, biar baggimana pun siapa yang kuat melihat suaminya punya perempuan lain? Terlebih lagi perempuan tersebut sudah hamil sedang dirinya belum juga hamil setelah lama menikah,” Erlina setuju pendapat Gendis.



“Sejak dulu Ibu bilang, kalau ada perempuan yang mengaku hamil padahal baru kesentuh itu pasti bohong. Koq ya kamu mau aja dijebak seperti itu?” Gendis mengeluarkan uneg-unegnya. Yanto membenarkan pendapat ibunya. Dia terlalu bodoh mau dijebak oleh Yani.



“Sudah enggak perlu dibahas lahgi, itu bukan wahana kita, biar itu jadi urusan antara Yanto dan Fitri saja,” Suradi mencoba meredam emosi Erlina dan Gendis agar tidak terus membahas soal yang sensitif bagi pasangan itu.


__ADS_1


“Fit mana resep dokter tadi?” tanya Suradi sengaja mengalihkan pokok bahasan.



“Eh iya lupa, ini Yah,” kata Fitri menyerahkan resep yang ada di saku bajunya.



“Biar nanti Ayah beli sekalian salat ya. Biasa sekalian Ayah makan di kantin depan,” kata Suradi lagi.



“Ibu Gendis sama Ibu makan di sini aja, ini cukup kok nanti yang makan malam baru beli lagi. Yang ada ini buat makan siang kita aja,” jelas Fitri pada kedua ibunya.



“Enggak apa apa kalau kalian mau nunggu Ayah pulang dari masjid. Nanti Ayah belikan makan siang,” kata Suradi.



“Ayah belikan yang buat makan malam aja. Ini cukup buat kami bertiga makan siang koq,” kata Fitri.



“Papa makan ya Pa,” bujuk Fitri pada Yanto yang terus menggeleng. Dia malas makan.



“Enggak boleh gitu dong. Sejak sadar tadi pagi Papa belum isi apa-apa lagi selain bubur sumsum tadi pagi loh,” bujuk Fitri terus.



“Kalau Papa enggak makan, Dede’ enggak mau makan,” Fitri pun merajuk karena Yanto tetap bersikeras tak mau makan.



Akhirnya  Yanto mengalah ketika mendengar dede’ tak mau makan. Dengan disuapin Fitri, Yanto pun makan. Bukan dia tak mau makan, sebenarnya dia mau makan, tapi menunya sama sekali tidak mengundang selera. Yanto masih diberi makan bubur, sayur sop, tempe tahu, dan ayam bacem. Yanto ingin makanan yang mengundang selera terutama makan nasi.



Sesuai nasihat dokter karena perutnya sudah terlalu lama tidak berfungsi, dokter tidak mau memberikan makanan berat sehingga masih diberi makanan ringan serupa bubur dan juga tidak ada gorengan, jadi hanya tempe, tahu, dan ayam bacem saja.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.


__ADS_1


__ADS_2