
Setelah cukup lama berbasa-basi sehabis makan malam maka Wijoyo mulai pembicaraan serius.
“Ibu, Romo dan Mama mohon maaf, saya ingin bicara serius,” kata Wijoyo pada kedua mertuanya juga kepada ibunya.
“Ono opo Nang?” kata ibunya Wijoyo.
“Mungkin mulai malam ini semua akan berubah, saya sudah sangat sabar selama 27 tahun menghadapi Menik. Tapi kesabaraan yo ada batasnya. Samudra luas aja berujung di pantai,” Joyo memulai apa yang hendak dia sampaikan pada semua orang yang dia undang malam ini.
“Pernikahan kami sudah 27 tahun. Romo, Ibu dan Mama ingat sampai usia perkawinan kami 2 tahun kami belum punya anak. Walau aku tidak mencintai Menik karena pernikahan kami dijodohkan, aku tidak mau dia disalahkan karena belum adanya kehadiran bayi dalam pernikahan kami.” Joyo menarik napas dulu.
“Untuk itu 25 tahun lalu aku berinisiatif memeriksakan kesuburanku, kalau terbukti aku subur dan tak ada masalah mungkin ada masalah pada Menik, tapi aku yakin dia sehat untuk itulah aku sendirian memeriksa kesuburanku.”
__ADS_1
“Aku tidak sanggup kalau sendirian menghadapi, jadi saat menerima hasil pemeriksaan aku bersama Darno yang saat itu belum menikah.”
“Kami ke rumah sakit untuk mengambil hasil pemeriksaan. Itu rahasiaku 25 tahun lalu. Aku pendam karena 4 bulan kemudian Menik mengabarkan dia hamil.”
“Hanya aku dan Darno yang tahu hasil pemeriksaan tersebut sampai saat ini. Alhamdulillah Darno bisa tutup mulut hingga saat ini.”
“Selama pernikahan aku tak mau ribut, aku tetap menjadi ayah dan suami yang baik semaksimal mungkin yang aku mampu. Sampai kejadian kemarin, aku merasa aku sudah gagal sebagai orang tua karena ternyata Aisy sama persis dengan ibunya yang masih saja mengejar lelaki orang walaupun sudah punya suami.” Wijoyo melihat Menik dan Aisy tajam.
“Maaf kamu enggak usah protes, dengarkan saja dulu pembicaraanku,” kata Wijoyo saat melihat Menik akan menjawab apa yang dia katakan.
“Ini hasil test DNA. Sengaja aku copy dan aslinya aku simpan. Karena aku tahu nanti akan dihancurkan oleh Menik dan Aisy.” Wijoyo mengeluarkan beberapa kertas yang dia lipat dia serahkan pada Darno untuk dibagi. Ternyata setiap orang nanti mendapat dua lembar kertas yang sudah di staples oleh Wijoyo.
__ADS_1
Semua terperangah mendapat kenyataan yang tertulis dalam dua lembar kertas yang Joyo bagikan melalui Darno, termasuk Menik dan Aisy.
Di lembar pertama tertulis kalau hasil test DNA antara Aisy dan Wijoyo sama sekali tidak ada hubungan darah. Dan lembaran kedua adalah hasil test 25 tahun lalu yang menyatakan Wijoyo steril tidak bisa punya anak!
“Sebenarnya hanya dengan hasil test 25 tahun lalu, aku sudah bisa ribut menggugat cerai. Tapi aku bertahan karena kasihan pada bayi yang ada di perut Menik.”
“Tapi ternyata bayi itu tak peduli kepada nama besarku. Sejak dia di perut aku yang memberi nafkah dia lahir batin. Aku sayangi dia sebagai anak kandungku, ternyata dia mencoret wajahku dengan arang yang sangat tebal. Dia sama seperti ibunya yang mengejar cinta orang lain walau sudah dibilang lelaki tersebut tak akan pernah menerima cintanya.
Bahkan Menik mau ditiduri asal bisa dekat dengan lelaki tersebut. Ibunya Menik langsung lemas dia tak percaya kelakuan putrinya seperti itu.
__ADS_1
